
"Kakak keinget masa-masa kakak sama kak Randy dulu Al," jawab Laura yang kemudian meneteskan air matanya lagi.
"Kak kakak yang sabar ya," ujar Aliya sambil memeluk erat tubuh Laura.
"Kak, Aliya mau nanya tapi kakak jawab jujur ya!" pinta Aliya yang kemudian melepaskan pelukannya.
"Nanya apa?" tanya Laura sambil menghapus air matanya.
"Kalau seandainya..." ucapan Aliya seketika terhenti karena handphone Laura tiba-tiba berdering.
DRIIIIINGGG... DRIIIIINGGG...
Laura melirik ke layar handphone nya dan ternyata lagi-lagi dari nomor yang tidak diketahui. Laura pun kemudian langsung menekan tombol reject pada layar handphone.
"Seandainya apa Al?" tanya Laura yang kemudian menatap mata Aliya sambil tersenyum.
"Kalau seandainya..." lagi-lagi ucapan Aliya terhenti karena handphone Laura berdering kembali.
"Ihh siapa sih ini ganggu aja," ucap Laura kesal yang kemudian menekan tombol reject kembali.
"Kayaknya kakak harus angkat deh kak, siapa tau ada yang penting!" pinta Aliya sambil terus melihat ke layar handphone Laura.
DRIIIIINGGG... DRIIINGGGG....
Dengan sangat terpaksa Laura pun menekan tombol answer.
"Halo Ra, Ra please jangan matiin dulu!" pinta seorang laki-laki dari nomor yang tidak diketahui tersebut.
"Iya apaan?" tanya Laura cuek.
"Ra, lo dimana sekarang?" tanya pria itu dengan nada bicara yang seperti orang yang kepanikan.
"Dirumah, kenapa?" tanya Laura lagi.
"Ra, lo harus kerumah Chika sekarang!" perintah laki-laki itu.
"Ngapain, Chika mana lagi?" tanya Laura dengan sangat jutek.
"Udah pokoknya lo keluar dari rumah lo sekarang gue udah diluar!" perintah pria itu lagi dan kemudian mematikan telponnya.
"Siapa sih?" tanya Laura yang sangat kesal sambil mengambil dan memakai hijab instannya.
Dengan sangat terpaksa Laura berjalan menuruni satu persatu anak tangga diikuti dengan Aliya yang super kepo ini. Dengan wajah melasnya Laura akhirnya membuka pintu rumahnya dan ternyata benar ada seorang laki-laki yang sedang berdiri di luar gerbang rumahnya. Dengan perlahan Laura pun melangkahkan kakinya dan membuka pintu gerbangnya. Ternyata benar laki-laki yang menelponnya adalah Randy.
"Elo Ran," tegur Laura tanpa merasa berdosa sedikit pun.
"Yaelah Ra, dari tadi kali gue bilang kalau gue itu Randy tapi lo ga percaya," jawab Randy kesal.
"Ya terus ada apa lo kesini?" tanya Laura dengan santai.
__ADS_1
"Lo ga mau jenguk Chika?" tanya Randy kembali.
"Emangnya Chika kenapa?" tanya Laura yang mulai penasaran.
"Semenjak dia kehilangan anaknya, sampai sekarang dia ga mau makan," jawab Randy sedih.
"Jadi gue kesini disuruh kak Rizky buat jemput lo, siapa tau dengan kedatangan lo Chika bisa lebih mendingan lagi." Lanjut Randy berharap Laura mau menuruti permintaannya.
"Tapi gue takut kalau kedatangan gue nanti justru buat dia makin drop," jawab Laura sambil menundukkan kepalanya.
"Lo ga mau usaha dulu gitu, gue kasian sama kak Rizky yang dari kemaren murung liat Chika kayak gitu," ucap Randy penuh harapan.
"Yaudah kalau gitu gue ganti baju dulu kalau gitu," jawab Laura yang kemudian berjalan memasuki rumahnya kembali.
15 menit kemudian Laura pun sudah selesai mengganti pakaiannya dan sudah siap untuk berangkat menuju rumah Chika. Laura pun mengajak Aliya untuk ikut menemaninya.
"Yaudah yuk berangkat," ujar Laura sambil membuka pintu mobil Randy.
Seperti biasanya hanya keheningan yang terjadi disepanjang perjalanan menuju rumah Chika, hingga pada akhirnya Randy pun membuka suaranya.
"Emm Ra," panggil Randy dengan ragu-ragu.
"Apaan?" tanya Laura cuek.
"Tadi emangnya ada acara apa dirumah lo, Ra?" tanya Randy yang mulai penasaran.
"Kepo banget sih lo," jawab Laura dengan sangat cuek.
"Masalah apa lagi sih Ran?" tanya Laura dengan sangat dingin.
"Masalah tentang kesalahpahaman lo terhadap gue," jawab Randy yang sesekali melirik Laura.
"Udah deh Ran, mending lo lupain aja masalah kita yang udah berlalu itu," ucap Laura yang mulai emosi.
"Tapi gue ga mau lo anggap gue jahat terus Ra," jawab Randy yang mencoba membuat Laura agar tidak bersikap cuek dengannya.
"Oke gini aja lo pilih, lo mau gue jenguk Chika tanpa harus bahas masa lalu kita, atau gue dengarin semua penjelasan dari lo tapi gue ga usah jenguk Chika?" tanya Laura dengan sangat tegas.
"Lo kok gitu sih Ra sama gue, segitu bencinya lo sama gue Ra," jawab Randy yang tak habis pikir dengan sifat Laura yang sekarang.
"Lo tau kenapa gue kayak gini sekarang, itu semua karena gue kira lo ga bakalan sakiti perasaan gue, apalagi dengan cara lo jadian sama sahabat gue sendiri dan lo tau kalau Chika itu adalah sahabat gue, hanya karena lo liat gue sama cowok lain ditaman waktu itu lo tega nyakiti gue. Gue sadar kok kalau gue salah udah ninggalin lo, tapi gue ga bakalan ninggalin lo kalau mama lo ga ngancam gue waktu itu." Jawab Laura dengan sangat emosi yang membuat Randy seketika tak mampu berbuat apa-apa.
"Berhentiin mobilnya!" perintah Laura yang masih sangat emosi.
"Tapi rumah Chika masih jauh Ra," jawab Randy yang mulai kebingungan.
"Nanti lo share aja lokasinya, gue sama Aliya naik taksi aja!" perintah Laura yang membuat Randy semakin bingung.
"Tapi Ra," ucap Randy penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Gue bilang berhentiin aja mobilnya!" perintah Laura yang membuat Randy tak bisa berkutik apa-apa lagi.
Randy pun memijak pedal rem pada mobilnya dengan sangat terpaksa. Dengan sangat sigap Laura pun langsung membuka pintu mobil Randy.
"Ayo Al kita turun!" ajak Laura yang membuat Aliya tak mampu menolak permintaan kakaknya.
"Kak, maafin kak Laura ya!" pinta Aliya sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Iya ga apa-apa kok Al," jawab Randy.
"Kalian hati-hati ya!" pinta Randy yang begitu khawatir dengan Laura dan juga Aliya.
"Iya Kak," jawab Aliya.
"Aliya cepatan," teriak lauyang sudah berada diluar dari tadi.
"Kak maaf ya," ucap Aliya lagi, Randy pun hanya menganggukkan kepalanya.
Aliya pun akhirnya turun dan berdiri tepat disampingnya Laura berdiri. Sudah sekitar 5 menit Laura dan Aliya berdiri dipinggir jalan menunggu ada taksi yang lewat. Saat Laura dan Aliya masih menunggu taksi yang mereka tunggu, tiba-tiba sebuah mobil Mini Cooper berwana biru berhenti tepat didepan mereka. Pemilik mobil tersebut pun membuka kaca mobilnya dan melirik ke arah Laura dan juga Aliya.
"Aliya ya?" tanya pria tersebut.
"Pak Angga," ucap Aliya terkejut.
"Angga siapa Al?" tanya Laura dengan suara yanh pelan.
"Dosen Aliya Kak," jawab Aliya sambil tersenyum.
"Kalian mau kemana biar saya antar aja," ucap Angga menawarkan bantuan.
"Kita mau ke jalan Mawar Pak," jawab Aliya yang baru saja melihat alamat dari handphone Laura.
"Ohh kebetulan rumah saya ga jauh dari sana, sekalian aja yuk!" ajak Angga dengan sangat ramah.
"Ohh ga usah Pak, kita naik taksi aja," tolak Aliya sambil tersenyum.
"Taksi kalau jam segini udah susah. Bareng saya aja!" ajak Angga lagi.
"Gimana Kak?" tanya Aliya yang masih ragu.
"Yaudah yuk, lagian juga dia dosen kamu, kan." Jawab Laura sambil tersenyum.
Aliya dan Laura pun akhirnya memenuhi permintaan dari Angga. Mereka pun akhirnya masuk kedalam mobil Mini Cooper milik Angga.
Sorry ya guys telat up, 🙏
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
IG : @febiayeni
__ADS_1
FB : Febi Ayeni