Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 142


__ADS_3

****


2 hari menjelang pernikahan Angga dan Aliya. Aliya benar-benar merasa kebingungan harus bagaimana. Disaat Laura sedang dilanda kesedihan yang teramat dalam, Aliya justru akan meresmikan kisah cintanya bersama Angga. Jam sudah menunjukkan pukul 20.05 WIB, Aliya yang tak ingin melihat Laura terus-terusan bersedih seperti ini, memutuskan untuk menghampiri Laura yang tengah duduk bersandar di ranjangnya.


“Kak Laura, are you ok?” tanya Aliya yang kemudian duduk disamping Laura.


“Seperti yang kamu liat,” jawab Laura dengan pandangan kosong.


“Kak, kalau seandainya posisi kita di balik, kira-kira Aliya sanggup ga ya kayak kakak? Sekuat kakak? Setegar kakak?” tanya Aliya yang kini menyandarkan kepalanya ke pundak Laura. Laura sama sekali tidak bergeming.


“Dari kecil Aliya senang banget punya seorang kakak seperti kak Laura. Kak Laura selalu ngalah dengan Aliya padahal itu bukan kesalahan kakak, Aliya beruntung miliki kakak.” Ucap Aliya yang kemudian memeluk tubuh Laura dari samping. Dan tak terasa air mengalir di kedua mata Laura dan Aliya.


“Kak kasih tau Aliya apa yang harus Aliya lakukan agar kakak bisa bahagia kembali, ceria lagi, tersenyum lagi?” tanya Aliya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya, “Aliya kangen sama kakak yang dulu, yang penuh dengan semangat, yang ga murung-murung kayak gini.” Lanjut Aliya sambil mengoyang-goyangkan tubuh Laura.


Laura tak mampu berkata apa-apa lagi, rasanya ia pengen pergi saja untuk selama-lamanya. “Kakak ga pengen apa-apa dari kamu, melihat kamu bahagia kakak juga pasti bahagia kok.” Jawab Laura dengan memaksakan senyumnya.


“ALIYA, LAURA, CEPATAN KELUAR. ANGGA DAN YANG LAIN UDAH PADA DATANG NIH!” teriak Echa dari bawah tangga.


Aliya dan Laura serentak menghapus air matanya masing-masing. “IYA MA,” teriak Aliya dan Laura bersamaan.


Laura dan Aliya akhirnya mencuci mukanya dan kemudian memakai baju yang sopan serta tak lupa menoreskan sedikit bedak tabur ke mukanya. Laura dan Aliya pun menuruni satu persatu anak tangga dengan senyum palsu.


Ketika semuanya sudah selesai makan malam, Dewi membuka pembicaraan dengan membahas masalah pernikahan antara Angga dan Aliya.


“Aliya, Angga, bagaimana kalian berdua udah siap kan untuk pernikahan kalian yang akan digelar 2 hari lagi?” tanya Dewi yang tak lupa merekahkan senyuman manisnya.


“Ya pasti siap dong,” jawab Angga dengan penuh semangat. Sedangkan Aliya hanya menundukkan kepalanya.


“Aliya jawab,” tegur Laura sambil menyenggol lengan Aliya.


Aliya mendongakkan kepalanya dan memejamkan matanya sejenak yang membuat semua orang yang berada di meja makan bingung. “Aliya are you ok?” tanya Angga.


“Ma, tante, om, mas Angga sebelumnya Aliya minta maaf, Aliya ga bisa lanjutin ini semua.” Ucap Aliya yang sontak membuat semuanya terkejut.

__ADS_1


“Aliya, kamu ngomong apa sih?” tanya Echa yang tak percaya dengan apa yang Aliya katakan.


“Aliya, 2 hari lagi kalian udah akad lho kenapa tiba-tiba keputusannya dirubah?” tanya Dewi yang kebingungan.


“Al, kamu kenapa sih, kita udah mau bersatu tapi kenapa kamu malah menolaknya lagi?” tanya Angga dengan menatap kedua bola mata Aliya yang sudah berkaca-kaca.


“Ma, Mama benar, kak Laura lebih pantas menikah dengan Mas Angga, kak Laura lebih dewasa dari pada Aliya.” Tegas Aliya sambil menatap Echa, Laura dan Angga secara bergantian.


Angga berdiri dari tempat duduknya seraya berkata, “maksud lo apa sih Al, lo mau permainin perasaan gue?” tanya Angga yang mulai kesal. Dimas yang berada disamping Angga langsung menarik tangan Angga untuk kembali duduk.


“Angga duduk!” perintah Dimas dengan tegas, Angga pun menuruti perintah Dimas.


Air mata Aliya menetes membasahi pipinya, “Mas, Aliya minta maaf. Sebenarnya Aliya ga benar-benar mencintai Mas, Aliya hanya kesal dengan Mas Angga yang ga pernah nanggapi Aliya di kampus.” Jawab Aliya dengan menangkupkan kedua tangannya.


“Terus maksud kamu gagalin pernikahan aku sama Laura kemaren apa?” tanya Angga sambil menyilangkan tangan didadanya dan menyandarkan punggungnya ke kursi.


“Karena Aliya tau, kak Laura terpaksa mau menikah dengan Mas Angga.” Jawab Aliya menundukkan kepalanya.


“Kalian jangan main-main kayak gini ya, undangan udah disebar dan sekarang kalian malah seenaknya aja batalin ini semua.” Tegas Dewi kesal.


Aliya memegang kedua tangan Laura lalu menatap kedua bola mata Laura, “kak Laura, Aliya mau kakak bahagia, Aliya mau kakak gantiin Aliya untuk jadi calon istrinya mas Angga!” pinta Aliya sambil melirik Laura dan Angga secara bergantian.


“Aliya ga mau liat kakak sedih terus, Aliya pengen kak Laura bahagia dengan mas Angga!” pinta Aliya yang kini menundukkan kepalanya.


Mata Laura yang awalnya berkaca-kaca, kini sudah berubah menjadi bulir-bulir air mata yang siap terjun. “Aliya kamu ga boleh gini Al, kebahagian kamu ya kebahagian kakak juga,” ucap Laura yang sudah tak mampu lagi membendung air matanya.


“Kak, Aliya mau yang terbaik buat kakak!” pinta Aliya yang menatap mata Laura dan kemudian kembali menundukkan kepalanya.


“Al, kamu harus tetap menikah dengan Angga,” ucap Laura tegas.


Mendengar ucapan Laura membuat Aliya langsung berlutut di hadapan Laura, “kak Aliya mohon wujudkan impian Aliya kali ini!” pinta Aliya dengan penuh harapan.


Laura mencoba membuat Aliya berdiri, namun Laura gagal. “Aliya...” ucapan Laura terpotong saat Aliya langsung menyambar ucapan Laura, “kak buktikan kalau kakak benaran sayang sama Aliya, buktikan sama Aliya bahwa kakak bisa bahagiain Aliya dengan cara ini, buktikan kak!” pinta Aliya dengan air mata yang terus bercucuran membasahi pipinya.

__ADS_1


“Kak maafin Aliya karena Aliya bohong dalam mencintai Mas Angga,” lanjut Aliya yang seketika membuat Angga tak sengaja menjatuhkan bulir-bulir mutiaranya.


Untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang mampu membuat hatinya terluka seperti ini. Jujur, Angga baru kali ini mencintai seorang wanita begitu sangat mendalam. Angga menghapus paksa air matanya.


“Laura, gue wujudkan aja permintaan Aliya, gue bersedia kok.” Ucap Angga yang membuat Laura terkejut.


Dimas yang juga terkejut dengan ucapan Angga spontan langsung menegur Angga, “Angga kamu ngomong apa sih?” tanya Dimas yang tak habis pikir dengan jalan pikiran Angga saat ini. Angga sama sekali tak bergeming dengan pertanyaan yang Dimas lontarkan.


“Ma, Mama benar cinta itu pasti akan tumbuh dengan berjalannya waktu, Angga akan menikah dengan Laura.” Ucap Angga tegas dengan menatap kedua bola mata Dewi.


“Angga, kamu yakin dengan keputusan kamu ini?” tanya Dewi.


“Angga yakin Ma,” jawab Angga.


Seketika Angga melirik Aliya yang kini sudah kembali ke tempat duduknya, “Aku ga akan memaksa seseorang untuk tetap memilihku hanya karena aku mencintainya, bukankah cinta itu tak harus memiliki?” tanya Angga tegas yang membuat Aliya benar-benar merasa sakit dengan ucapan Angga.


Aliya yang mendengar kata-kata menyakitkan dari mulut Angga tak mampu berkata apapun lagi. Aliya hanya berlari ke kamarnya dengan air mata yang terus menerus mengalir dipipinya.


Oke guys gimana nih udah ngefeel belum?


Untuk episode 143 jangan lupa dengarin lagu Nabila Razali - Peluang Kedua, ya guys karena akan ada yang bernyanyi😁


Terimakasih banyak untuk semua readers yang sampai detik ini masih setia membaca novel ini, tanpa kalian novel ini tak ada artinya. Makasih guys🙏🙏🙏


Untuk itu yang punya IG, FB, atau WA, saya mau kalian menjadi teman saya juga, nanti kalian Dm, inbox, atau chat saya biar save dan follback oke, terimakasih.


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,😉


IG : @febiayeni21


FB : Febi Ayeni

__ADS_1


WA: 0856 6669 098


__ADS_2