
Aliya yang baru saja selesai menghabiskan makanan dengan penuh dengan kekesalan langsung menghadap Mbak Wati. Dona yang terkejut melihat Aliya yang tiba-tiba berdiri dengan penuh amarah yang menggebu-gebu, Dona pun segera menghabiskan suapan terakhirnya dan kemudian menghampiri Aliya.
"Aliya, sabar Aliya sabar," ucap Dona sambil mengelus-elus punggung Aliya.
"Gue tau lo kesel sama Pak Angga Al, tapi tolong Al jangan buat keributan disini!" pinta Dona sambil menangkupkan kedua tangan memohon agar Aliya tidak melakukan hal-hal yang aneh dikantin ini.
"Mbak Wati, berapa totalnya Batagor saya ditambah sama Batagornya pak Angga?" tanya Aliya tanpa memperdulikan Dona sama sekali.
"Totalnya dua puluh ribu Neng," jawab Mbak Wati.
"Hah, lo traktir pak Angga Al?" tanya Dona yang begitu tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Terpaksa," jawab Aliya sambil mengambil uang dua puluh ribu dari kantongnya.
"Kalau gitu lo juga harus traktir gue dong," ujar Dona sambil cengengesan.
"Batagor Dona berapa Mbak?" tanya Aliya.
"Sepuluh ribu Neng," jawab Mbak Wati sambil tersenyum.
"Nih Mbak," ucap Aliya sambil mengambil uang sepuluh ribu dari kantongnya.
"Makasih ya Neng," ujar Mbak Wati sambil tersenyum.
"Iya sama-sama Mbak," jawab Aliya yang berusaha tersenyum.
"Neng Aliya jangan sering-sering kesal sama mas Angga, entar Neng Aliya jatuh cinta lagi sama mas Angga," ledek Mbak Wati.
"Gimana ga kesel, cuma gara-gara duduk didepan dia aja masak iya Aliya harus bayarin makanan dia," jawab Aliya mengeluarkan unek-unek yang menganjal dihatinya.
"Sekali-kali ga apa-apa kali Neng, kalau kita ikhlas pasti ada aja balasannya untuk kita suatu hari nanti Neng," ucap Mbak Wati menyemangati Aliya.
__ADS_1
"Emm, benar tu Al kata Mbak Wati," sahut Dona sambil menepuk-nepuk pelan punggung Aliya.
"Iya juga sih Mbak, makasih ya Mbak nasehatnya," jawab Aliya sambil merekahkan senyuman manisnya.
"Nah gitu dong Neng Aliya, kan jadi tambah cantik." Puji Mbak Wati yang ikut tersenyum.
"Yaudah kita masuk kelas dulu deh ya Mbak," ucap Aliya sambil merangkul tangan Dona.
"Oke Neng," jawab Mbak Wati.
Aliya dan Dona pun segera berjalan menuju kelasnya karena beberapa menit lagi kelas akan dimulai. Hari ini adalah tepatnya mata kuliah Sastra yang akan di sampaikan oleh Pak Angga. Aliya dan Dona yang baru sampai dikelas pun segera duduk ditempat duduknya yang biasa.
"Selamat Siang semuanya," ucap Angga yang baru saja memasuki kelas Aliya dan Dona.
"Selamat siang Pak," jawab seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang berada di dalam kelas.
Ini untuk pertama kalinya Aliya menjawab ucapan salam dari Angga. Kali ini Aliya benar-benar mencoba untuk merasa biasa saja ke Angga. Sudah sekitar 1 jam Angga mengajar dikelas ini. Seperti biasanya Angga pun membereskan buku-bukunya dan memasukkannya kedalam ranselnya. Aliya yang biasanya menunggu Angga untuk keluar duluan dari kelasnya, sekarang tidak lagi Aliya lebih memilih untuk keluar duluan dari kelasnya dan meninggalkan Angga yang masih sibuk dengan menyusun buku-bukunya.
Kali ini bukan hanya Dona yang terkejut dengan perubahan Aliya tapi juga Angga.
"Aliya benar-benar ga suka lagi sama gue," ujar Angga dalam hati, "atau karena kejadian dikantin tadi?" ucap Angga yang masih penuh dengan tanda tanya tentang perubahan Aliya yang sangat drastis ini. Bagaimana tidak Aliya yang biasanya selalu memperhatikannya setiap kali ia mengajar di kelas Aliya, namun sekarang Aliya kelihatan begitu sangat cuek.
Dona yang penasaran dengan tingkah Aliya pun akhirnya memutuskan untuk bertanya secara langsung kepada Aliya.
"Al, Aliya tungguin gue!" pinta Dona yang berjalan dibelakang Aliya. Aliya pun akhirnya menghentikan langkah kakinya.
"Al, lo kok tumben ga nungguin pak Angga keluar dulu sih?" tanya Dona yang sangat penasaran dengan perubahan sikap Aliya yang secara tiba-tiba ini.
"Ya gue ga mau aja berharap sama orang yang sama sekali ga mau peduli sama gue," jawab Aliya dengan tegas dan kemudian Aliya pun kembali melangkahkan kakinya.
"Lo yakin dengan apa yang lo bilang barusan?" tanya Dona yang masih kebingungan dengan sikap Aliya.
__ADS_1
"Gue yakin kok Don," jawab Aliya sambil tersenyum.
"Tapi gue bingung sama lo Al. Aliya yang gue kenal itu Aliya yang ambisius, dia harus dapatin yang dia mau." Ucap Dona yang membuat Aliya seketika menghentikan langkahnya.
"Tapi ini masalah cinta Don. Gue ga bisa maksain orang untuk cinta ke gue hanya gara-gara gue cinta sama dia." Jawab Aliya yang tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Gue minta maaf ya Al, gue salah nanyain hal ini sama lo," ucap Dona yang kemudian menyandarkan kepala Aliya ke bahunya.
"Gue ga nyangka Al, kalau lo benaran suka sama gue, gue kira lo sama kayak cewek-cewek yang lain," ucap Angga dalam hati. Ya Angga benar-benar penasaran dengan perubahan Aliya sehingga ia terpaksa mengikuti Aliya dan Dona dari kejauhan tanpa sepengetahuan mereka berdua.
"Yaudah kalau gitu kita pulang aja ya!" pinta Dona yang merasa khawatir dengan Aliya saat ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.20 WIB, Angga masih belum bisa tidur. Angga pun sembari memandangi bintang-bintang yang berada dilangit. Langit pada malam ini benar-benar indah dipenuhi oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip. Keaadaan langit malam ini justru adalah kebalikan dari perasaan yang Angga rasakan.
"Gue benar-benar ga tau bakalan jadi seperti ini," ucap Angga sambil menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit nan indah.
"Gue bingung apa yang harus gue lakuin agar gue ga nyakitin hati lo Al," ucap Angga lagi.
"Baru kali ini gue liat cewek kayak lo Al. Lo beda dari yang lain," ujar Angga lagi.
"Ya gue ga mau aja berharap sama orang yang sama sekali ga mau peduli sama gue," ucapan Aliya sangat menyiksa batin Angga.
"Tapi ini masalah cinta Don. Gue ga bisa maksain orang untuk cinta ke gue hanya gara-gara gue cinta sama dia." Kata-kata itu masih ternyiang-nyiang di benak Angga.
"Al, andai lo tau kalau gue juga suka sama lo Al, tapi gue ga bisa tergesa-gesa untuk dapatin lo Al, karena gue takut bakalan nyakitin lo," ucap Angga yang membuatnya pusing sendiri.
"Kenapa harus takut?" tanya seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba datang menghampirinya. Angga yang terkejut pun segera membalikkan badannya ke belakang.
"Mama," ucap Angga terkejut. Ya wanita itu adalah Mama dari Angga.
SYUKRON Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
__ADS_1
IG : @febiayeni
FB : Febi Ayeni