Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 58


__ADS_3

Dikamar Chika


"Chik, kamu ga cemburu liat Laura sama Randy di cafe tadi?" Tanya Shofia yang sontak membuat Chika terkejut dengan pertanyaan Shofia.


"Ah, apaan sih kak!" Jawab Chika mencoba pura - pura tidak cemburu.


"Kamu bohong kan, ga mungkin dong ga cemburu liat pasangan kita tatap - tatapan dengan sahabat kita sendiri sampai segitunya!" Ledek Shofia sambil tersenyum.


"Tapi apa mungkin mereka ada hubungan di belakang gue?" Tanya Chika.


"Ya mungkin aja Chik, cuma kakak ga tau juga ya kakak ga mau jadi seolah - olah kompor - komporin kamu. Kakak cuma ga mau kamu sakit hati aja sih Chik!" Jawab Shofia sambil memegang kedua tangan Chika.


"Tapi gue percaya kok sama mereka berdua kak, gue yakin mereka ga mungkin khianati gue!" Ucap Chika sambil tersenyum.


* * * *


Laura yang baru saja sampai dirumah habis menjemput Aliya pulang sekolah pun langsung menuju kamarnya untuk berbaring sejenak.


KLIING!!!


Dering handphone Laura berbunyi singkat tanda ada pesan masuk. Laura yang baru saja terbaring di atas tempat tidur pun segera mengambil handphone nya yang tergeletak di sampingnya.


From : +628216378****


'Ra, besok ketemu di taman Pelangi ya'


"Hah, nomor handphone siapa nih?" Tanya Laura dengan suara pelan.


Laura : 'Ini siapa?'


+628216378**** : 'Randy'


Laura : 'Mau ngapain sih?'


Randy : 'Pokoknya lu datang aja besok'

__ADS_1


Laura : 'Ah males gue kalau ga jelas gini!'


Randy : 'Please Ra, gue mau curhat'


Laura : ' Oke, jam 4 sore lewat dari jam 4 sore kalau lu belum nongol gue ga mau jumpa lu'


Randy : 'Iya'


Begitulah isi pesan singkat antara Laura dan Randy pada hari ini.


**Keesokan harinya . . **


Jam sudah menunjukkan pukul 16.05 WIB, namun Laura belum juga melihat Randy di taman Pelangi ini.


"5 menit lagi lu ga datang Ran, gue pulang!" Ucap Laura sambil melihat pergerakan detik demi detik pada jam tangannya.


"Cieee, nungguin gue ya?" Ledek Randy yang tiba - tiba muncul dari belakang Laura.


"Ih apaan sih lu kebiasaan amat ngagetin orang!" Ucap Laura dengan tatapan sinisnya.


"Yee biarin aja!" Ledek Randy lagi.


"Biasa aja bisa kali Ra ngomongnya ga usah pakai otot segala!" Jawab Randy.


"Iya, mau ngomong apa sih Ran?" Tanya Laura.


"Ra, menurut lu Chika tu gimana sih?" Tanya Randy kembali.


"Gimana apanya?" Tanya Laura lagi.


"Ya menurut lu Chika itu orangnya gimana sih?" Tanya Randy.


"Menurut gue, Chika itu seorang wanita yang baik, cantik dan yang paling terpenting mau mengakui kesalahannya sendiri terhadap orang lain!" Jawab Laura sambil tersenyum.


"Tapi Ra, kenapa gue jadi ragu ya untuk lanjutin hubungan gue sama Chika!" Ucap Randy.

__ADS_1


"Gue jadi takut ketika gue menikah dengan dia nanti, gue malah jadi ga bahagia lagi!" Lanjut Randy.


"Lu ngomong apaan sih Ran, lu ga boleh ngomong gitu. Chika adalah pilihan lu, lu harus bisa menerima semua kekurangan Chika begitu pun sebaliknya!" Jawab Laura sambil menepuk - nepuk bahu Randy.


"Semenjak kita duet di cafe beberapa hari yang lalu itu, sikap Chika terhadap gue jadi perlahan berubah Ra, ga kayak biasanya!" Ucap Randy dengan wajah yang sedih.


"Randy, kalau Chika berubah setelah kita duet kemarin itu artinya dia cemburu, dan cemburu artinya sayang kan!" Jawab Laura lagi.


"Dan lu juga harus tau Ran, semua keraguan yang lu rasakan saat ini adalah ujian ketika lu mau menikah nanti jadi lu harus bisa ngelewati ini semua dengan dewasa. Karena orang yang berfikir dewasa adalah orang yang berani menyelesaikan masalah dengan kepala dingin bukan yang lari dari masalah itu sendiri!" Jawab Laura sambil tersenyum.


"Kenapa ga lu aja sih Ra yang jadi istri gue?" Tanya Randy.


"Kenapa ga gue?" Tanya Laura lagi.


"Karena gue bukan ditakdirkan buat lu Ran, yang ditakdirkan untuk lu itu ya Chika bukan gue. Terkadang kita memang baru menyadari kelebihan seseorang ketika dia bukan lagi menjadi milik kita. Dan gue adalah salah satu ujian untuk kalian!" Lanjut Laura.


"Tapi jujur Ra, gue masih sayang sama lu!" Ucap Randy sambil memegang tangan kanan Laura.


"Gue juga masih sayang kok sama lu, tapi jalan kita udah beda Ran. Dan lu juga udah milih Chika sebagai pendamping lu. Gue juga ga bisa melukai seseorang untuk kepentingan diri gue sendiri!" Jawab Laura sambil melepaskan tangan Randy dari tangannya.


"Gue salut sama lu Ra, lu bisa mengorbankan perasaan lu sendiri demi Chika." Ucap Randy lagi.


"Andai gue bisa memutar waktu, gue ga bakalan berhenti perjuangin lu Ra!" Lanjut Randy.


"Semua itu ga penting diungkap lagi Ran, toh sekarang gue bisa segampang itu ninggalin lu kok, lalu kenapa lu ga bisa berbuat itu kepada gue?" Tanya Laura.


"Intinya yang terpenting saat ini adalah perbaiki hubungan lu dengan Chika sebelum semuanya terlambat!" Lanjut Laura sambil berdiri dan melangkah pergi dari Randy.


"Dan orang kayak gue ga pantes buat lu perjuangin, karena gue ga bisa ngehargai perasaan lu!" Lanjut Laura lagi dengan mata yang mulai berkaca - kaca.


Laura pun melangkah pergi meninggalkan Randy yang masih duduk terdiam di tempat itu. Laura sengaja membelakangi Randy karena ia tak ingin melihatkan kesedihannya kepada Randy, karena sama saja ia tak bersungguh - sungguh berkata seperti itu.


"Sorry Ran, gue ga mau kehilangan sahabat terbaik gue untuk yang kedua kalinya lagi!" Ucap Laura pelan.


Cikidot, jangan lupa kritik dan sarannya ya guys 😉.

__ADS_1


Like, koment dan share juga novel ini ke sosmed yang kalian punya ya guys.


TERIMAKASIH . . .


__ADS_2