
“Iya juga sih yank,” ujar Aliya, “tapi ga tau kenapa ya yank, aku tu nyaman aja gitu kalau sama dokter cantik itu, ga tau deh kenapa,” lanjut Aliya yang membuat Angga menjadi pusing.
“Udah-udah mending sekarang kita istirahat aku udah ngantuk banget nih,” jawab Angga kesal.
Angga kemudian mengecup kening Aliya, “udah tidur ya, jangan lupa baca doa!” perintah Angga dengan nada suara yang lembut.
Aliya tersenyum, “oke,” jawab Aliya antusias.
Keesokan harinya....
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Angga berkali-kali berpikir bagaimana caranya ia harus jujur kepada Aliya tentang masa lalunya dengan Aulia. Aliya yang melihat suaminya sedang gelisah ini pun kebingungan dengan sikap Angga yang serba grogi ini.
“Yank, kamu kenapa sih?” tanya Aliya yang sedang menggandeng tangan Angga di sepanjang koridor rumah sakit.
“Eemm anu yank anu...” jawab Angga grogi.
“Anu apa sih yank?” tanya Aliya yang mulai kesal.
“Anu yank,” jawab Angga lagi.
“Ana anu ana anu apa sih yank?” tanya Aliya lagi, “anu itu satu kata beribu makna yank, jadi aku mana ngerti kamu ngomong apa,” ketus Aliya yang semakin kesal.
Angga tertawa kaku, “hehe, aku laper yank, kita makan dulu yuk!” ajak Angga cengengesan.
Aliya memutar bola matanya, “bilang dong kalau laper, jangan ana anu ana anu mulu dong,” sahut Aliya.
“Eh tau ga yank?” tanya Angga.
“Ga,” jawab Aliya yang langsung memotong pertanyaan Angga.
Angga lalu mencubit hidung Aliya, “aku belum selesai ngomong sayang, jangan dipotong dulu!” pinta Angga gemas terhadap kepolosan istrinya ini.
Aliya langsung mengelus-elus hidungnya, “sakit tau yank,” tukas Aliya kesal.
“Makanya jangan kebiasaan motong pembicaraan orang,” sahut Angga.
“Yaudah-yaudah kamu mau ngomong apa tadi?” tanya Aliya.
Angga kemudian kembali merangkul pundak Aliya dengan posisi berbalik ke arah pintu keluar rumah sakit. “Kita ngomongnya sambil jalan aja ya biar cepat sampai di cafe!” pinta Angga yang langsung dianggukkan kepala oleh Aliya.
“Aku udah punya nama lho buat calon anak kita nanti,” ucap Angga seraya tersenyum manis.
Aliya seketika langsung menghentikan langkahnya, “hah serius?” tanya Aliya dengan sangat antusias.
Angga lalu merangkul pundak Aliya lagi, “iya, tapi sambil jalan aja ngomongnya,” jawab Angga.
“Siapa-siapa namanya?” tanya Aliya yang sudah sangat tidak sabar lagi untuk mengetahui nama anak mereka.
“Yang kamu bilang tadi aja,” jawab Angga santai.
__ADS_1
“Hah, yang aku bilang tadi?” tanya Aliya kebingungan.
“Iya masa kamu lupa sih,” jawab Angga.
Aliya lagi-lagi menghentikan langkahnya, “aku ga ada bahas nama-nama anak deh yank,” tukas Aliya kebingungan.
Angga lalu menarik lembut tangan kanan Aliya, “ada yank,” jawab Angga yang membuat Aliya semakin bertanya-tanya.
“Ga ada yank, aku ingat kok aku ngomong apa aja tadi,” bantah Aliya.
“Kayaknya kamu mulai amnesia deh,” ledek Angga sambil cengengesan.
Aliya memukul pelan lengan Angga, “ihh ga sayang,” jawab Aliya, “eh tapi kayaknya kamu benar deh yank, soalnya aku ga tau kamu siapa,” lanjut Aliya.
Angga kemudian memeluk tubuh Aliya tanpa memperdulikan tatapan orang-orang disekitar, “actingnya ga mempan buat aku,” sahut Angga.
Aliya lalu mencoba melepaskan pelukan Angga, “ihh kamu siapa sih main peluk-peluk aja?” tanya Aliya dengan tatapan marah.
“Bodo amat weekk,” ejek Angga dengan menjulurkan lidahnya.
Aliya seketika tertawa melihat ekspresi lucu suaminya ini, “hahaha, muka kamu tu ya buat aku gagal acting aja,” ucap Aliya seraya menutup muka Angga dengan tangan kanannya.
Angga kemudian merangkul pundak Aliya, “kenapa kegantengan ya?” tanya Angga cengengesan.
“Ihh PD banget sih,” jawab Aliya seraya mencoba menyembunyikan senyumannya.
“Ganteng sih tapi sayang,” jawab Aliya.
“Tapi sayang apa?” tanya Angga.
“Kamu galak,” jawab Aliya dengan sangat santai.
“Yeee, siapa suruh susah dibilangin,” sahut Angga.
Setelah beberapa menit berjalan kaki menuju cafe move on yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah sakit tersebut, akhirnya mereka pun sampai di cafe move on. Setelah memesan makanan dan minuman, Angga dan Aliya kembali membahas hal-hal sepele yang mereka ceritakan sepanjang jalan tadi.
“Yank, siapa sih nama anaknya?” tanya Aliya yang masih sangat penasaran.
“Anak siapa? Mang Asep?” tanya Angga lagi.
“Ihh kok malah mang Asep sih,” jawab Aliya dengan wajah cemberutnya.
“Ya terus siapa sayangku?” tanya Angga penuh kelembutan.
“Kata kamu tadi, kamu udah siapin nama buat anak kita nanti,” jawab Aliya.
“Ohh yang itu,” jawab Angga singkat.
“Ini minuman dan makanannya Mas, Mbak,” ucap pelayan cafe move on tersebut.
__ADS_1
“Iya terimakasih Mbak,” jawab Angga dan Aliya serentak.
“Siapa namanya yank?” tanya Aliya setelah pelayan cafe move on itu pergi.
“Ana Anu,” jawab Angga santai.
Aliya lalu menepuk pelan lengan Angga, “iih serius yank,” ujar Aliya yang mulai jengkel.
“Iya, seperti yang kamu bilang tadi,” jawab Angga.
“Masa namanya Ana Anu sih, kayak ga ada nama lain aja,” celoteh Aliya yang kemudian menyedot minumannya.
Tawa Angga seketika pecah, “hahaha.”
Aliya menatap kedua bola mata Angga dengan tatapan sinisnya, “kamu kenapa sih yank ketawa-ketawa ga jelas gitu?” tanya Aliya.
Angga lalu mencubit pipi cubby Aliya, “kamu tu ya yank polos banget tau, mau aja di kerjain hahaha,” jawab Angga yang kembali tertawa melihat tingkah lucu Aliya.
“Kamu nih ya hobby banget buat aku kesel,” sahut Aliya dengan wajah cemberutnya.
“Aku suka liat muka kamu kalau lagi polos gitu yank, gemesin deh,” ujar Angga.
“Assalammu’alakum,” ucap seorang wanita yang tiba-tiba datang dan menghentikan percakapan antara Aliya dan juga Angga.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Aliya dan Angga secara bersamaan seraya menatap wajah seorang wanita yang tiba-tiba datang memberikan salam kepada mereka berdua.
“Kalian makan disini juga ya?” tanya wanita tersebut.
Angga menundukkan kepalanya, “iya dok,” jawab Aliya seraya tersenyum manis.
“Dokter udah makan?” tanya Aliya dengan sangat ramah.
“Belum pesan sih,” jawab wanita tersebut yang tak lain adalah dokter kandungan Aliya yaitu Aulia.
“Yaudah duduk disini aja dok!” ajak Aliya, “bareng kita aja makannya,” lanjut Aliya.
Aulia tersenyum, “ga usah saya makan di sana aja,” jawab Aulia seraya menunjuk sebuah meja yang masih kosong.
Untuk para reader dilarang sensi😁 harus banyak sabar ya guys😁
Sorry ya guys masih sering typo🙏🙏
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,
IG : @febiayeni21
FB : Febi Ayeni
__ADS_1