Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 125


__ADS_3

Back,


Laura pun akhirnya menangis sejadi-jadinya di kamar Aliya. Tak ingin rasanya ia menyakiti perasaan Aliya seperti ini, namun ini semua ia lakukan demi orang tuanya begitu pula dengan Angga.


"Aliya, kakak tau kamu marah sama kakak, kakak juga tau kamu juga kecewa, tapi kakak benar-benar ga tau harus bagaimana lagi saat itu, kakak ga mungkin membantah perintah Mama. Jika kakak membantah itu artinya kakak sudah jadi anak durhaka. Sekarang terserah kamu, kakak minta maaf." Ucap Laura yang kemudian keluar dari kamar Aliya.


Aliya hanya bisa terdiam dengan air mata yang mengalir dipipinya. Aliya benar-benar tak mampu mengatakan apapun kepada Laura lagi. Sedangkan Laura yang begitu sedih melihat Aliya yang seperti tidak ingin mendengarkannya lagi hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Laura pun mengambil kopernya dan memasuki beberapa pakaian yang iya perlukan. Sesudah ia selesai, iya pun menuliskan sebuah surat yang di tujukan untuk Aliya.


Dear Aliya,


Aliya adik kakak satu-satunya, kakak sangat sayang sama kamu, kakak benar-benar ga bermaksud untuk buat kamu terluka seperti ini. Kakak paham kok kamu kecewa, marah, tapi kamu juga harus ngerti posisi kakak sekarang. Aliya kakak minta maaf ya, kakak juga akan cari cara biar pernikahan kakak dan Angga yang akan dilaksanakan bulan depan ga akan terjadi. Maka dari itu kakak mohon sama kamu Al, jangan benci kakak.


Untuk sementara waktu ini, kakak butuh waktu untuk sendirian dulu, tolong jangan cari kakak dulu, kakak akan pulang ketika kakak udah dapat solusinya. Kakak titip Mama ya, jaga Mama baik-baik.


Love you,


Laura


Setelah menulis surat itu Laura pun segera menyiapkan tali tambang untuk bisa turun dari balkon kamarnya dan kemudian Laura meletakkan surat tersebut ke bawah pintu kamar Aliya.


"Maafin kakak Al," ucap Laura pelan. Dengan sangat hati-hati Laura pun menjatuhkan kopernya ke rerumputan, dan kemudian ia turun dengan menggunakan tali tambang yang sudah ia ikat kuat.


Dengan deraian air mata yang mengalir dipipinya, Laura melangkahkan kaki entah kemana. Langit malam begitu gelap tak ada satu pun bintang yang menghiasinya. Laura terus berjalan di trotoar kota Bandung yang terlihat sepi malam ini. Langit yang yang gelap pun akhirnya mengirimkan awan hitam dengan menjatuhkan bulir-bulir air hujan. Air hujan yang mulai membasahi wajah Laura, membuat tangisnya tak terlihat lagi.


"Ya Allah, hamba bingung harus kemana sekarang," ucap Laura sambil terus menyeret kopernya, hingga pada akhirnya sebuah mobil dengan merek Mercedez Benz berwana merah berhenti di sampingnya. Sang pemilik mobil tersebut pun menurunkan kaca mobilnya.


"Kak Laura, ngapain disitu?" tanya sang pemilik mobil tersebut.


"Panjang ceritanya Don," jawab Laura singkat. Ya si pemilik mobil tersebut adalah Dona sahabat dari Aliya.


"Yaudah kalah gitu masuk dulu kak!" ajak Dona, dan Laura pun langsung menuruti ajakan Dona.


"Kakak mau kemana kok koper segala?" tanya Dona sambil mengendarai mobilnya.

__ADS_1


"Entah lah Don, kakak juga bingung mau kemana," jawab Laura sambil menundukkan kepalanya.


"Kalau gitu kakak nginap dirumah aku aja gimana?" tanya Dona menawarkan bantuan untuk Laura.


"Emangnya ga ngerepotin?" jawab Laura dengan kembali bertanya.


"Ya ampun kak, kayak sama siapa aja, kita kan kenalnya udah lama," jawab Dona sambil tersenyum.


"Makasih ya Don," ucap Laura yang kemudian membalas senyuman Dona.


"Sama-sama kak," jawab Dona.


"Dona, kakak minta tolong jangan bilang sama Aliya kalau kakak nginap dirumah kamu ya!" pinta Laura sambil melirik Dona.


"Lah kenapa, kakak sama Aliya lagi berantem ya?" tanya Dona.


"Ya begitulah Don," jawab Laura.


"Iya, Dona ga bakalan bilang sama Aliya kok kak, kakak tenang aja." Ucap Dona sambil tersenyum.


"Pernah kok Don, tapi ada masalah lain aja," jawab Laura.


"Kalau Dona boleh tau ada masalah apa sih kak?" tanya Dona.


"Kakak dan mas Dimas itu ternyata saudara kandung jadi ga boleh nikah," jawab Laura dengan mata ya mulai berkaca-kaca.


"Hah, masa sih kak?" tanya Dona terkejut.


"Iya kakak serius, kakak juga baru tau hari itu." Jawab Laura yang masih mencoba membendung air matanya.


"Terus kenapa jadi Kak Laura dan pak Angga, kenapa ga Aliya sama pak Angga aja yang tunangan?" tanya Dona yang makin penasaran.


"Karena Aliya masih kuliah jadi mama ga ngizinin," jawab Laura dengan air mata yang kemudian menetes di pipinya.

__ADS_1


"Kakak juga bingung Don, masalahnya sampai sekacau ini, malahan bulan depan kakak sama Angga udah harus nikah," lanjut Laura sambil menundukkan kepalanya.


"Hah, bulan depan kak, bukannya bulan depan tinggal sekitar 3 mingguan lagi ya?" tanya Dona yang sangat terkejut mendengar ucapan Laura.


"Ya justru itu kakak pergi, kakak pengen nyari solusi bagaimana caranya agar pernikahan itu ga terjadi, tapi juga ga ada orang yang bakalan tersakiti." Jawab Laura.


"Oke kalau gitu nanti Dona bantu nyari solusinya ya kak!" pinta Dona.


Keesokan harinya,


Aliya yang baru selesai mandi pun langsung bersiap-siap untuk segera sarapan pagi. Karena hari ini adalah hari libur jadi Aliya tidak perlu repot-repot untuk memakai pakaian yang serba tertutup. Aliya hanya menggunakan baju biasa dengan jilbab instan yang cukup menutupi dada. Ya Aliya maupun Laura memang tetap memakai jilbab walaupun berada di dalam rumah, sebab agar tidak repot-repot untuk berlari sana sini mengambil jilbab saat ada tamu yang datang.


Sesaat ketika Aliya baru ingin membuka pintu kamarnya, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kertas yang tergeletak di depan pintunya. Aliya pun mengambil kertas tersebut kemudian membacanya. Tanpa ia sadari perlahan air matanya menetes ketika membaca surat yang di tujukan padanya dari Laura. Setelah membaca surat tersebut Aliya pun langsung mengetuk pintu kamar Laura untuk memastikan apakah Laura benar-benar pergi atau tidak.


TUK... TUK... TUK...


"Kak, kak Laura di dalam kan," ucap Aliya sambil mengetuk pintu kamar Laura.


"Kak," panggil Aliya lagi karena tidak ada sahutan sama sekali dari Laura. Aliya akhirnya membuka pintu kamar Laura yang ternyata tidak terkunci. Disaat Aliya baru saja membuka pintu kamarnya, tiba-tiba mata Aliya tertuju pada jendela kamar Laura yang tidak terkunci. Tanpa berpikir panjang Aliya langsung membuka jendela tersebut, dan benar saja kalau ternyata Laura kabur dari rumah dengan tali tambang yang berada di balkon kamar Laura.


"Ya Allah kak Laura, maafin Aliya," ucap Aliya dengan air mata yang mengalir dipipinya.


"Aliya, Laura ayo makan," panggil Echa yang kemudian menghampiri kamar Laura karena melihat pintu kamar yang terbuka.


"Aliya, Laura cepatan makan, nanti keburu dingin lo," ucap Echa yang kemudian masuk ke kamar Laura.


Oke guys, sorry ya segini dulu udah ngantuk soalnya😁


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,


IG : @febiayeni

__ADS_1


FB : Febi Ayeni


__ADS_2