
Laura akhirnya turun dari mobil Dimas. Dengan sangat hati-hati Laura berjalan menghampiri pos security rumah Randy.
“Permisi Pak, mau nanya Randy nya ada?” tanya Laura tanpa banyak basa-basi.
“Ohh maaf neng, den Randy nya baru saja pergi.” Jawab security tersebut.
“Kalau boleh tau pergi kemana ya Pak?” tanya Laura lagi.
“Kata nyonya tadi mau pergi fitting baju pengantin, bareng wanita sih tadi, mungkin itu calon istrinya den Randy, soalnya den Randy belum pernah bawa perempuan ke rumah ini.” jawab security tersebut menjelaskan.
Deg, jantung Laura serasa mau copot saat ini juga. Laura seketika terdiam mendengar jawaban dari security tersebut. Kedua bola mata Laura mulai berkaca-kaca. Laura yang tak sanggup lagi membendung air matanya, tanpa pikir panjang Laura langsung menghentikan sebuah taksi yang lewat di depannya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun Laura pergi begitu saja dari security tersebut dan juga dari Dimas yang menunggunya di dalam mobil.
Dimas sangat terkejut ketika melihat Laura yang tiba-tiba meninggalkannya. Dimas yang tak mau ambil pusing, langsung mejalankan mobilnya mengikuti taksi yang Laura naikkan. Hingga pada akhirnya taksi tersebut berhenti tepat di depan rumah Laura. Dimas langsung mengejar Laura yang berlari kencang ke dalam rumahnya.
“RAA, LAURAAA!” panggil Dimas penuh kekhawatiran.
“LAURA KAMU KENAPA?” tanya Dimas yang terus mengejar Laura yang kini sudah menaiki satu persatu anak tangga.
“Eh ada Dimas,” tegur Echa yang membuat langkah kaki Dimas terhenti.
“Kok buru-buru gitu sih?” tanya Echa yang sedang menyiapkan makan siang.
“Laura tan,” jawab Dimas dengan penuh kecemasan.
“Kok masih panggil tan sih Dim, saya ini juga mama kamu lho.” Ucap Echa sambil tersenyum.
“Iya maaf Ma,” jawab Dimas dengan senyum paksanya.
“Laura kenapa Dim?” tanya Echa sambil meletakkan sepiring ayam bumbu di atas meja makan.
“Tadi Laura tiba-tiba lari tan eh Ma, ga tau kenapa tiba-tiba ninggalin Dimas gitu aja.” Jawab Dimas.
“Udah ga apa-apa Dim biarin aja, Laura emang gitu kok suka ngambek-ngambek ga jelas gitu, namanya juga cewek Dim, apalagi kalau PMS pasti apapun bawaannya kesal.” Ucap Echa mencoba mencairkan kegundahan yang Dimas rasakan.
“Mending kamu temanin Mama makan Dim,” lanjut Echa yang kini menarik pelan lengan Dimas.
“Tapi Laura ga apa-apa kan Ma?” tanya Dimas yang masih khawatir dengan Laura.
“Udah ga usah terlalu dipikirin Dimas, entar juga dia cerita sendiri kalau udah agak tenang,” jawab Echa yang sudah melepaskan lengan Dimas dari genggamannya.
“Bik Inah ayo makan!” ajak Echa sambil mengambilkan nasi untuk Dimas.
__ADS_1
“Iya Buk,” jawab Bik Inah yang kemudian duduk disamping Echa.
“Dimas, Mama itu senang banget saat tau kalau kamu itu kakaknya Laura dan Aliya. Dulu pas kamu masih kecil, kamu itu suka main bareng Laura. Kamu juga suka buat Laura nangis.” Ucap Echa sambil menyodorkan piring yang berisi nasi dan lauk pauk kepada Dimas.
“Berarti Dimas waktu kecil nakal banget ya tan eh Ma, sampai-sampai sering buat Laura nangis?” tanya Dimas yang sudah mulai tenang.
“Ya begitulah namanya juga anak-anak kan?” tanya Echa, “tapi meskipun kamu suka buat Laura nangis, kamu juga sering belain Laura ketika Laura di gangguin teman-temannya yang nakal.” Lanjut Echa yang kembali tersenyum.
Dimas tersenyum mendengar pujian dari Echa, “Mama bisa aja,” jawab Dimas.
“Laura juga gitu meskipun kamu sering buat dia nangis, tapi Laura tetap manja sama kamu.” Ucap Echa tersenyum.
Sedangkan Aliya dan Angga yang sedang fitting baju pengantin, Aliya merasa seperti ada kejanggalan disini. Namun, Aliya tetap berusaha untuk tetap tenang.
“Ma, Angga beli minuman dulu ya haus nih!” pinta Angga mengeluskan lehernya pertanda ia benar-benar kehausan.
“Yaudah, kamu juga beliin Aliya ya ngga!” pinta Dewi yang kemudian tersenyum menatap Aliya yang sedang di make up.
“Aduh Ma, males ah mager,” ledek Angga cengengesan.
“Eh kamu jangan gitu dong Angga,” tegur Dewi, “awas aja kalau mantu Mama yang satu ini sampai kamu buat nangis, Mama ga mau lagi tuh buatin kamu batagor!” ancam Dewi.
“Yah Mama ngancamnya sadis amat, batagor Mama kan yang paling enak,” rengek Angga sambil memegang tangan Dewi.
“Makanya, kamu harus nurut sama Aliya.” Tegas Dewi.
“Iya iya Ma, Angga cuma bercanda kok Ma,” jawab Angga terkekeh.
“Kamu nih ya, kebiasaan amat,” ucap Dewi dengan mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Kamu mau minum apa Al?” tanya Angga.
“Yang biasa aja Pak eh Mas,” jawab Aliya yang sedikit grogi.
“Ma liat tu mantu Mama masa manggil aku pakai Pak Pak gitu,” ucap Angga dengan melirik Aliya, “emangnya aku udah setua itu ya Ma?” tanya Angga sambil memperhatikan wajahnya ke cermin besar yang berada di depannya.
“Ya maaf, kebiasaan di kampus panggilnya kan pak,” jawab Aliya polos.
“Udah-udah jangan debat mulu,” ucap Dewi, “udah Angga cepatan beli minumnya sana!” perintah Dewi sambil mendorong punggung Angga.
“Aliya tante ke toilet bentar ya!” pinta Dewi.
__ADS_1
“Iya tan,” jawab Aliya tersenyum.
Disaat Angga dan Dewi pergi meninggalkan Aliya yang masih di dandanin, tiba-tiba Aliya melihat seorang pria yang sudah tak asing lagi baginya.
“Mbak, bentar mbak lanjutinnya nanti lagi ya!” pinta Aliya yang di setujui oleh wanita yang bertugas untuk mendandaninya.
Aliya perlahan berjalan untuk menyelidiki pria tersebut dengan seksama. Aliya mengangkat gaunnya agar tidak menghalangi langkahnya. Aliya benar-benar terkejut saat mendapati bahwa pria tersebut adalah Randy.
“Hah, kak Randy?” tanya Aliya dengan suara berbisik. Aliya yang sangat penasaran terpaksa harus menguping pembicaraan mereka yang terlihat begitu tampak bahagia itu.
“Gue kayaknya harus rekam omongan mereka sebagai bukti,” ucap Aliya pelan. Aliya kembali ketempat ia berhias tadi untuk mengambil handphone nya, dan setelah itu ia langsung kembali ke tempat itu.
Aliya mulai merekam dan tak disangka mereka membicarakan tentang Laura. Aliya yang mendengar semua ucapan dari mereka begitu sangat terkejut. Tak pernah ia sangka bahwa Randy yang ia anggap selama ini baik apa adanya melakukan hal sekeji itu. Mata Aliya mulai panas, tak mampu rasanya ia menahan air matanya untuk jatuh. Aliya berdiri membelakangi Randy yang masih ketawa-ketiwi di ujung sana. Ya, Randy dan keluarganya berada di ruangan terpisah dengannya.
“Kak Lauraaa,” Aliya berkata lirih dengan air mata yang mengalir dipipinya.
Pelahan-lahan tubuh Aliya mulai merosot ke lantai dengan menutup matanya dengan kedua tangannya. Dewi terkejut melihat Aliya yang tiba-tiba berposisi jongkok di ambang pintu butik ini. Dewi langsung menghampiri Aliya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
“ALIYA!” teriak Dewi.
“Kamu kenapa?” tanya Dewi sambil menaikkan kepala Aliya yang sudah tertunduk itu.
Dewi terkejut saat mendapati Aliya sedang menangis. “Aliya kamu kenapa?” tanya Dewi khawatir.
“Taan, Aliya mau pulang perut Aliya sakit!” pinta Aliya berbohong.
“Kamu sakit mag?” tanya Dewi cemas, Aliya hanya menganggukkan kepalanya.
“Ya udah kita pulang sekarang ya!” perintah Dewi yang di iya kan oleh Aliya.
Ketika Dewi dan Aliya baru keluar dari butik pengantin ini, mobil Angga baru saja terparkir. Angga yang terkejut melihat Aliya yang sudah dirangkul oleh mamanya dan di bantu oleh seorang karyawati butik, dengan sigap langsung menghampiri Aliya dan Dewi.
Kira-kira apa ya yang Aliya dengar? 🤔
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys, biar hari ini bisa up lagi😉
Untuk episode 141 nya siap-siap ya, ☺
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,😉
__ADS_1
IG : @febiayeni21
FB : Febi Ayeni