Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 75


__ADS_3

Keesokan harinya Laura, Aliya dan juga Echa sedang berkumpul di meja makan untuk menyatap sarapan pagi seperti biasanya. Aliya yang masih sangat penasaran dengan sikap Laura yang tak biasa kemaren pagi. Aliya pun berinisiatif untuk memecahkan keheningan yang terjadi saat ini dengan cara menyinggung masalah Laura yang membuatnya sangat penasaran.


"Eemm, Assalammu'alakum warahmatullahi wabarakatuh." Ucap Aliya yang membuat Laura dan Echa bingung dengan aksi Aliya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Laura dan Echa secara bersamaan.


"Kamu ngapain sih Al, pakai acara tausiyah segala disini?" tanya Laura sambil tersenyum sinis melihat tingkah Aliya yang seperti orang sedang kehabisan obat.


"Hai orang-orang yang beriman bertawakalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur. Qur'an surah At-Taubah ayat 119." Jawab Aliya dengan sangat lantang.


"Lah terus maksud kamu sekarang apa Al?" tanya Laura yang mulai penasaran dengan kelakuan Aliya saat ini. Aliya yang mendengar pertanyaan Laura pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat duduk Laura yang sedang menyantap sepotong roti.


"Kak Laura, kasih tau dong yang kemaren," rengek Aliya sambil memegang lengan kanan Laura.


"Yang kemaren apa sih Al, ga jelas deh?" tanya Laura lagi.


"Yang pas kakak pulang jogging terus senyum-senyum mulu," rengek Aliya lagi yang membuat Echa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua anaknya ini.


"Ya Allah Aliya, kamu nih ada-ada aja ya," ujar Echa sambil memberikan selai ke roti miliknya.


"Entah nih Ma, Aliya kepo banget ya," sahut Laura dengan senyum kecilnya.


"Emangnya kamu kenapa sih Ra kok tumben amat?" tanya Echa yang mulai penasaran.


"Ya Allah Ma, Ma kok jadi ikut-ikutan kepo kayak Aliya sih?" jawab Laura dengan pertanyaan kembali.


"Ya kan aneh aja Ra, kan ga biasanya kamu seperti itu," jawab Echa sambil tersenyum.


"Tu kan kak, Mama juga kepo," ledek Aliya yang membuat Laura terpojok.


"Atau jangan-jangan kamu lagi jatuh cinta ya," ledek Echa sambil mencolek dagu Laura yang membuat Laura tersipu malu.


"Iih Mama apaan sih," ujar Laura dengan pipi yang mulai memerah.

__ADS_1


"Tuh kan bener dugaan Mama, buktinya pipinya udah merah," ledek Echa lagi yang membuat Laura mulai salah tingkah.


"Apaan sih Ma, udah ah Laura mau berangkat dulu," ucap Laura sambil menyalam tangan kanan Echa.


"Assalammu'alakum," lanjut Laura yang kemudian mencium pipi dan kening Echa dengan lembut.


"Wa'alaikumsalam, Mama senang akhirnya kamu bisa buka hati juga buat laki-laki lain Ra," jawab Echa sambil mengelus punggung Laura, sedangkan Laura yang mendengar ucapan Mamanya pun hanya bisa tersenyum.


"Ihh kak Laura tungguin," teriak Aliya. Aliya yang baru saja mau melangkahkan kakinya untuk mengejar jejak Laura pun harus terhenti karena Echa menarik tangan kanan Aliya.


"Mau kemana Al?" tanya Echa.


"Mau ngejar kak Laura, Ma." Jawab Aliya sambil merengek.


"Udah biarin aja kakak kamu jangan di kepoin dulu, nanti kakak kamu malah ga nyaman lagi!" perintah Echa sambil melahap sepotong roti yang berada di tangannya.


"Iya deh Ma," jawab Aliya dengan wajah yang ditekuk.


"TIINN TIIIIIINNNN" suara klakson yang terparkir di depan rumah Echa.


"Iya Ma, Aliya berangkat dulu ya Ma, Assalammu'alakum." Ucap Aliya yang kemudian mencium tangan kanan Echa dan mengecup pipi Echa dengan lembut.


"Iya Wa'alaikumsalam, hati-hati dijalan ya Al," jawab Echa dengan nada yang sedikit di tinggikan.


"Iya Ma," sahut Aliya yang sudah berada di teras rumah.


Memiliki dua anak perempuan seperti Laura dan Aliya membuat Echa begitu bahagia meskipun ia tidak lagi memiliki suami. Bagi Echa kedua anaknya sudah cukup membuatnya tidak kesepian.


"Liat non Laura sama non Aliya buat Bibik jadi kangen sama almarhumah anak Bibik, Buk." Ucap Bik Inah yang tiba-tiba datang membuyarkan lamunan Echa.


"Bibik yang sabar ya Bik," jawab Echa sambil memeluk tubuh Bik inah. Ya Echa dan juga kedua anaknya memang sudah menganggap Bik Inah seperti keluarga sendiri ditambah lagi Bik Inah tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali keluarga Echa dan anak-anaknya.


"Bibik ga tau lagi harus berterimakasih bagaimana lagi sama keluarga Ibuk ini," ucap Bik Inah dengan raut wajah yang sedih.

__ADS_1


"Bik, bagi kami Bibik udah banyak kali berjasa sama keluarga kami. Seharusnya kami yang bertanya seperti itu ke Bibik," jawab Echa sambil melepaskan pelukannya dan memegang pundak Bik Inah dengan kedua tangannya. Mendengar jawaban dari Echa tak sengaja air mata Bik Inah mengalir di pipinya.


"Bik, Bibik jangan sedih, kita bertiga kan keluarga Bibik juga jadi kalau ada apa-apa Bibik cerita aja ke kita, atau kalau Bibik butuh sesuatu bilang aja ke kita!" perintah Echa sambil menghapus air mata Bik Inah dan kemudian Echa menyunggingkan senyumannya.


"Terimakasih ya Buk atas pengertiannya selama ini dan Bibik minta maaf karena Bibik sering buat salah sama Ibuk, non Laura dan non Aliya." Jawab Bik Inah dengan penuh ketulusan.


"Iya sama-sama Bik, kita juga minta maaf karena sering buat salah sama Bibik," ucap Echa sambil memeluk kembali tubuh Bik Inah.


Bik Inah pun langsung membalas pelukan hangat dari Echa.


"Udah dong Bibik jangan sedih lagi, senyum dong!" perintah Echa yang sudah melepaskan pelukannya. Bik Inah pun akhirnya tersenyum bahagia mendengar perintah dari Echa yang membuatnya kembali bersemangat.


****


Matahari pagi yang begitu ramahnya memberikan kehangatan di hari ini. Cerahnya mentari pagi yang menyentuh lembut wajah Aliya yang sedang berjalan menuju koridor kampusnya. Ditambah dengan sejuknya angin pagi yang mengibaskan rambutnya menambah kecantikan pada wajahnya. setiap laki-laki yang melihat kecantikan Aliya hanya bisa berdesis kagum. Aliya adalah mahasiswi terpopuler dikampus ini namun Aliya selalu merasa rendah hati dan tidak sombong dengan sekitarnya, tapi Aliya juga tidak segan-segan menunjukkan sifat tegasnya kepada siapa saja yang mengusiknya apalagi jika yang mereka ganggu Dona sahabatnya.


"PAGI ALIYA"


"HALO CANTIK"


"JALAN SAMA AKU YUK"


"JANGAN CUEK CUEK DONG"


Begitulah kira-kira teguran dari para mahasiswa-mahasiswa yang setiap kali melihat Aliya berjalan maupun sekedar makan di kantin. Namun Aliya tidak pernah menghiraukan teguran-teguran dari para mahasiswa-mahasiswa itu. Aliya hanya fokus dengan tujuannya ke kampus yaitu Mr. Galak. Eh maksudnya belajar tapi kalau ada Mrs. Galak jadi Aliya lebih semangat lagi belajarnya.


Hai hai para pembaca novel "Aku Pergi (AP) yang sangat setia nunggu up nya🤗.


coret-coret dong guys di kolom komentar menurut kalian novelnya ini gimana sih?


Sebelum kalian jawab saya udah bisa nebak salah satunya pasti akan ada yang jawab masalah upnya jangan lama-lama ya thor😁.


SYUKRON Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

__ADS_1


IG : @febiayeni


FB : Febi Ayeni


__ADS_2