Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 88


__ADS_3

Dewi pun berjalan menghampiri tempat Angga berdiri saat ini. Dewi kenal betul dengan sifat Angga yang seperti ini. Angga adalah tipe orang yang akan bangkit jika ada orang yang menyemangati saat ia sedang bimbang seperti ini.


"Angga, mau sampai kapan kamu berdiri dengan dorangan orang lain, kamu itu udah dewasa udah saatnya kamu bangkit sendiri apapun resikonya." Tegas Dewi sambil memegang tubuh Angga yang lebih tinggi darinya.


"Ma, Angga ngerti kok maksud Mama. Tapi wanita yang ini beda Ma, Angga takut apa yang ia inginkan ga bisa Angga penuhi," jawab Angga sambil menundukkan kepalanya.


"Pantes aja kamu sampai sekarang ga pernah punya pacar ya Angga," ledek Dewi sambil tersenyum.


"Angga ga mau pacaran karena Angga ga mau nyakiti cewek-cewek yang belum tentu jadi jodoh Angga, Ma. Lagian pacaran hanya akan nambah dosa aja. Angga pengennya ta'aruf lalu menikah aja Ma." Jawab Angga dengan sangat tegas.


"Mama, salut sama kamu Angga meskipun kamu disemangati dulu baru bangkit tapi dibalik itu semua kamu adalah laki-laki dewasa yang lebih banyak memikirkan resikonya terlebih dahulu baru kemudian bertindak." Ucap Dewi sambil memukul pelan punggung Angga.


"Mama jadi penasaran dengan cewek yang kamu sukai itu, gimana sih sifatnya kok bisa-bisanya dia bikin anak Mama yang ganteng ini kebingungan," ledek Dewi sambil mencolek dagu Angga yang membuat Angga senyum malu-malu.


"Entar kalau dia jodoh Angga, insyaallah Mama pasti suka kok dengan sifat dia," jawab Angga sambil tersenyum.


"Udah ah Ma, Angga udah ngantuk mau tidur ganteng dulu," lanjut Angga sambil mencium kening Dewi dan kemudian berjalan menuju tempat tidurnya.


"Yaudah kalau gitu kamu tidur, Mama tunggu wanita yang kamu suka itu, kamu bawa kerumah ini ya." Jawab Dewi sambil mengelus rambut Angga.


"Oke Ma, good night Ma," ujar Angga dengan merekahkan senyuman manisnya itu.


"Night too sayang," sahut Dewi yang kemudian menutup pelan pintu kamar Angga.


****


Laura yang seperti biasanya mengerjakan tugas-tugasnya sebelum pulang kerumah pun dengan sangat teliti mengecek-ngecek hasil diagnosa dari para pasien yang ia rawat.


15 menit kemudian Laura pun selesai mengerjakan tugas-tugasnya. Laura pun akhirnya segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB, ya hari ini Laura tidak lembur jadi pulangnya lebih cepat dari biasanya. Dengan sangat santai Laura berjalan menuju rumahnya. Laura pun akhirnya sampai di depan gerbang rumahnya. Laura terkejut saat ia melihat sebuah mobil berwarna putih terparkir di pekarangan rumahnya.


"Itu mobil siapa ya?" tanya Laura pada dirinya sendiri.


"Ah paling temannya Aliya," jawab Laura sendiri. Tanpa ambil pusing Laura pun segera membuka pintu rumahnya.

__ADS_1


"Assalammu'alakum, Laura pulang." Ucap Laura yang langsung masuk kedalam rumahnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang berada diruangan tamu.


Laura sangat terkejut saat ia melihat ada dua orang laki-laki dan salah satu dari laki-laki itu Laura mengenalnya. Aliya yang melihat Laura masih sangat kebingungan pun segera menghampiri Laura dan maenariknya untuk segera duduk di sofa.


"Ayo kak duduk dulu!" ajak Aliya yang membuat Laura pasrah karena Aliya langsung menarik lengan Laura.


"Ini ada apa ya?" tanya Laura yang masih sangat kebingungan.


"Sebelumnya aku minta maaf kalau kedatangan aku buat kamu terkejut," jawab Dimas ya laki-laki itu adalah Dimas.


"Ra kenalin ini Papa aku, Mama aku tadi mau datang juga tapi karena tiba-tiba kepala Mama pusing jadinya Mama ga bisa ikut," lanjut Dimas menjelaskan.


"Terus maksud kedatangan Mas Dimas kesini apa?" tanya Laura yang masih belum mengerti.


"Jadi maksud kedatangan aku kesini, aku pengen mengenal kamu lebih jauh lagi Ra. Aku pengen kita ta'arufan dulu nanti kalau kita sama-sama sudah merasa cocok kita bisa lanjut ke tahap khitbah." Jawab Dimas menjelaskan maksud dan tujuannya tanpa basa-basi.


"Gimana kamu bersedia ta'arufan sama aku?" tanya Dimas penuh harapan.


"Ra, udah saatnya kamu buka hati kamu untuk laki-laki lain," jawab Echa sambil memegang tangan kanan Laura yang mulai dingin.


"Aku mau kok Mas," jawab Laura sambil menatap mata Dimas lalu tersenyum.


"Alhamdulillah," ucap semua orang yang berada diruang tamu tersebut kecuali Laura. Laura dan Dimas pun tersenyum bahagia.


"Berhubungan Laura dan Dimas ngambil jalan ta'aruf untuk pendekatan dirinya, jadi kalau kalian berdua mau ketemuan atau yang lainnya Aliya sebagai adik kandung Laura juga harus ikut, jadi kalian ga berduaan aja!" perintah dari Papa Dimas.


"Iya Om Laura setuju, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang ujung-ujungnya menimbulkan kesan pacaran bukan ta'aruf." Jawab Laura dengan tegas.


"Aku juga sangat setuju untuk hal itu. Biar kita sama-sama berada di jalan yang Allah ridhoi." Sahut Dimas dan kemudian tersenyum.


"Yaudah kalau gitu, silahkan dimakan kue nya!" pinta Echa sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


Laura saat ini benar-benar tak menyangka dengan keputusan yang Dimas ambil. Ia pikir Dimas sama dengan laki-laki lain yang hanya bisa mempermainkan hati wanita lalu meninggalkannya. Hari ini hari yang sangat bahagia yang Laura rasakan karena akhirnya tinggal beberapa langkah lagi ia akan bersatu dengan orang yang ia sukai. Laura yang sedang asik menikmati kue yang berada di atas meja pun tiba-tiba mendapat panggilan masuk dari nomor yang ia tidak ketahui.


DRIIIINGGG... DRIIIINGGGG..


Panggilan masuk dihandphone Laura yang tertulis dengan nomor +6282257**** , Laura yang melihat nomor handphone tersebut tidak ada namanya pun hanya membiarkan handphone nya terus berdering.


"Siapa sih?" tanya Laura kebingungan.


"Angkat aja dulu Ra, siapa tau ada yang penting!" perintah Dimas yang kemudian menyeduh tehnya.


"Iya juga sih Mas," jawab Laura yang kemudian mengangkat telponnya dengan sangat terpaksa. Andai saja Dimas tak menyuruhnya mengangkat telpon yang tidak ia ketahui ini mungkin ia tak akan mengangkatnya apalagi sedang ada acara penting seperti ini.


"Halo, Assalammu'alakum," ucap Laura dengan santai.


"Wa'alaikumsalam Ra," jawab si pemilik nomor yang tidak diketahui itu.


"Maaf ini siapa ya?" tanya Laura tak mau basa-basi.


"Ini Randy," jawab orang itu yang membuat Laura sangat terkejut dan kebingungan.


"Hah Randy, dari mana Randy dapat nomor gue?" tanya Laura dalam hati


"Halo Ra, halo," ucap orang itu lagi.


"Iya Halo, maaf ya gue lagi ga bisa ngomong sama lo, gue lagi ada acara," jawab Laura yang kemudian mematikan telponnya.


"Maaf ya Mas, Om jadi ganggu suasana," Ucap Laura yang merasa tidak enak kepada Dimas dan Papa, karena disaat ada acara pentinv begini Laura malah telponan sama orang yang tidak jelas.


Oke guys sekian dulu ya😉


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


IG : @febiayeni21

__ADS_1


FB : Febi Ayeni


__ADS_2