
“Iya,” jawab Aliya seraya memanyunkan bibirnya beberapa senti.
“Ga mau pesen yang baru aja?” tanya Angga.
Aliya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, “ga usah. Kalau Mas masih laper pesan lagi aja!” perintah Aliya.
“Oke deh kalau gitu.”
Waktu yang sangat tepat, pelayan cafe ini sedang mengantar pesanan Dona dan Dimas. Angga yang tak mau membuang-buang tenaganya untuk berteriak memanggil pelayan, dengan sigap langsung menyampaikan niatnya untuk memesan makanan.
“Mbak, saya pesan batagor spesialnya sa—“
“Dua mbak,” sambung Aliya sambil memberikan kode angka dua kepada pelayan tersebut.
“Baik mbak mas, mohon di tunggu sebentar pesanannya ya!” perintah pelayan itu dengan sangat ramah.
Tiga pasang bola mata menatap Aliya dengan penuh keheranan.
“Lo serius mau makan itu semua Al?” tanya Dona yang benar-benar tak percaya dengan tindakan Aliya barusan.
Aliya menganggukkan kepalanya sambil melanjutkan ritual makan spaghetti.
“Angga!” panggil Dimas dengan suara pelan.
“Hmm,” sahut Angga seraya mengaduk-aduk jusnya.
“Lo udah berapa lama ga ngasih makan Aliya?” tanya Dimas dengan tatapan penuh tanda tanya itu.
“Baru dua bulan,” jawab Angga santai.
“HAH DUA BULAN?” tanya Dona dan Dimas dengan volume suara diatas rata-rata.
“Dona!” tegas Aliya.
Dona langsung menggenggam tangan kanan Aliya yang berada diatas meja.
“Al, jujur sama gue!” tegas Dona yang menatap lekat kedua buah bola mata Aliya.
Aliya mengerutkan kedua alis matanya heran.
“Kenapa lo ga cerita ke gue, kalau pak Angga ga nafkahin lo?” tanya Dona.
“Pak puk pak puk, gue bukan bapak lo!” tegas Angga.
“Oke-oke maksud gue mas Angga,” ucap Dona yang kali ini benar-benar tak mau bercanda.
“Selama dua bulan ini lo makan dimana Al? Lo juga ga kerja, kan? Lo dapat uang dari mana untuk makan? Atau lo minta sama kak Laura? Atau jangan-jangan lo—“
__ADS_1
Aliya, Angga dan Dimas menatap kedua bola mata Dona lekat menunggu pertanyaan Dona selanjutnya.
“Jangan-jangan apa?” tanya Aliya.
“Atau jangan-jangan lo—“ lagi-lagi Dona menggantungkan ucapannya seperti kain di tali jemuran belakang rumah pak Asep.
“Jangan-jangan apa sih Don? Gaje banget sih,” tukas Aliya kesal.
“Jangan-jangan—“
Aliya menganggat sumpitnya dan mengarahkan kemata Dona, “sekali lagi lo ngomong gantung gini, gue colok tu mata!” ancam Aliya.
Melihat Aliya yang begitu kesal, dengan sigap Angga langsung menurunkan tangan Aliya pelan-pelan.
“Sayang, sayang sabar ya sabar!” pinta Angga dengan nada bicara yang sangat lembut.
Aliya menurunkan tangan, “abisnya dia ngeselin yank,” sahut Aliya yang benar-benar dibuat badmood oleh Dona.
Angga lalu melepaskan sumpit dari tangan Aliya dan kemudian memeluk tubuh Aliya dari samping untuk menahan kedua tangan Aliya.
“Sayang istigfar ya!” perintah Angga.
“Huff, Astagfirullahaladzim,” ucap Aliya seraya menghembus napas kesalnya.
“Oke, sekarang lo mau bilang apa tadi?” tanya Aliya yang sudah bisa mengontrol emosinya.
Mendengar pertanyaan Dona, membuat Aliya benar-benar naik darah. Aliya menepis kuat pelukan Angga.
GUBRAAAKKKK!!!
Aliya memukul kuat meja cafe, sehingga membuat seluruh pengunjung cafe menatap lekat ke arah mereka berempat. Kali ini Aliya benar-benar sangat emosi dengan ucapan Dona yang tidak dicerna terlebih dahulu itu.
“JAGA OMONGAN LO YA DON!” bentak Aliya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Angga mengelus lembut pundak Aliya, “sayang, sayang tahan emosinya ya!” perintah Angga.
Aliya lalu mengambil kasar tasnya, “aku mau pulang aja Mas!” pinta Aliya sambil menahan air matanya.
“Iya, kita pulang ya,” jawab Angga lalu mengambil uang dua ratus ribu dan meletakkannya di bawah gelas.
“Kak Dimas, Dona, kita pulang dulu ya!” pinta Angga, “Assalammu’alakum,” lanjut Angga dan langsung mengejar Aliya yang sudah terlebih dahulu berjalan.
“Al, tunggu!” perintah Dona kepada Aliya. Aliya menghenti langkahnya tanpa membalikkan badannya.
Dona lalu memegang tangan kiri Aliya. Namun, Aliya menepis kasar tangan Dona dan menarik tangan kiri Angga.
“Ayo mas kita pulang!” pinta Aliya dengan air mata yang berhasil lolos dari ujung pelipis matanya.
__ADS_1
Dimas yang tak ingin Dona terus-terusan menjadi perhatian para pengunjung cafe ini, Dimas langsung mengeluarkan uang senilai 200 ribu dan meletakkannya di bawah gelas. Dimas kemudian merangkul pundak Dona dan membawanya keluar dari cafe.
“Yuk kita pulang dulu!” ajak Dimas dengan lembut.
“Tapi Mas, Aliya?” tanya Dona dengan mata yang berkaca-kaca.
“Iya, Mas ngerti kok. Kita ceritain di rumah aja ya!” perintah Dimas.
Sedangkan Aliya yang sudah berada di dalam mobil bersama Angga hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Angga sengaja tidak menjalankan mobilnya, sebab ia ingin menenangkan istrinya terlebih dahulu.
Angga menyandarkan kepala Aliya di pundaknya sambil sesekali mencium kening Aliya.
“Sayang, kamu tenang dulu ya!” pinta Angga yang tak lupa mengelus-elus pundak Aliya.
“Aku tau kamu awalnya cuma mau bercanda sama Dona, kan? Hanya saja Dona terlalu berlebihan menanggapinya.”
Aliya menegakkan kepalanya dan menatap lekat kedua buah bola mata Angga lekat. Aliya lalu menggenggam erat kedua tangan Angga.
“Mas, Aliya benar-benar ga pernah lakukan hal sekeji itu, bahkan Aliya dekat sama laki-laki lain aja ga pernah,” ucap Aliya dengan suara yang terdengar parau.
Angga melepas lembut genggaman tangan Aliya. Angga lalu memeluk erat tubuh Aliya.
“Sayang, aku percaya kok sama kamu. Tapi, kamu jangan terlalu baperan dong!” pinta Angga seraya melepaskan pelukannya.
Angga lalu mengelus lembut perut Aliya, “kamu ga kasian sama debay yang ada di perut kamu?” tanya Angga dengan menatap Aliya dan perut Aliya secara bergantian.
Aliya menunduk melihat perutnya. Aliya terdiam sejenak, lalu Aliya pun kembali menangis.
“Hiks... Hiikks... Hiikkss...” Angga menghapus lembut air mata yang mengalir dipipi Aliya.
“Sayang, udah ya nangisnya, aku ga kuat liat kamu nangis gini terus!” pinta Angga.
Aliya kemudian memegang tangan Angga yang masih menghapus air matanya.
“Sayang, maaf ya aku buat kamu malu di cafe tadi,” ucap Aliya menyadari sikapnya ketika di cafe tadi.
Angga tersenyum manis lalu menggelengkan kepalanya, “ga apa-apa sayang, aku maklum kok,” jeda Angga sejenak sambil menggenggam erat kedua tangan Aliya, “wajar kok kalau mood kamu sering berubah-ubah, secara kamu kan lagi hamil.”
Oh ya, ada yang nanya pada episode sebelumnya tentang masalah ini cerita Aliya atau Aulia. Oke guys disini aku mau kasih tau lagi bahwa season 2 ini pemeran utamanya Aliya, Angga dan juga Aulia guys. Sebelumnya aku juga udah pernah bilang kalau season 2 ini Aulia juga pemeran utama, tapi mungkin udah pada lupa, jadi ga apa-apa yang penting sekarang udah pada tau kan?
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,
IG : @febiayeni21
FB : Febi Ayeni
__ADS_1