
"Iya ga apa-apa ko Ra," jawab Dimas sambil tersenyum. Laura yang mendengar jawaban Dimas pun akhirnya ikutan tersenyum.
"Oh ya Ra, weekend kita jalan-jalan yuk!" ajak Dimas penuh harapan.
"Yang diajak Kak Laura nih," ledek Aliya sambil menyenggol lengan Aliya.
"Ya ga dong kan tanpa kamu kami ga bisa jalan-jalan," jawab Dimas sambil merekahkan senyumannya.
"Oh jadi kalau gitu aku ga bisa aja deh weekend ini jalan-jalannya," ujar Aliya sambil mengambil biskuit diatas meja.
"Kok gitu sih Al?" tanya Dimas dan Laura secara bersamaan.
"Cieee, kompak banget jawabnya," ledek Aliya yang membuat Laura dan Dimas tersenyum malu-malu.
"Yaudah, yaudah sebagai adek yang baik oke deh Aliya mau jalan-jalanya," lanjut Aliya yang kemudian membuat Laura dan Dimas senang.
"Nah gitu dong Al," jawab Dimas dan Laura secara bersamaan lagi.
"Kalian nih kenapa sih kok jawabannya kompakan mulu?" tanya Echa yang mulai merasa aneh dengan Dimas dan Laura.
"Saya juga ga tau kenapa bisa kayak gini tan," jawab Dimas sambil tersenyum.
"Dari awal kita ketemu, kita memang sering ngomong secara bersamaan gini," lanjut Dimas sambil sesekali melirik Laura.
"Hah seriusan Kak Dimas?" tanya Aliya yang terkejut mendengar jawaban dari Dimas.
"Seriusan waktu itu pertama kali kita ketemu di taman dekat sini, kita sama-sama beli minum dan ngomongnya selalu sama." Jawab Dimas menjelaskan kronologis kejadiannya.
"So sweet banget sih kalian berdua," sahut Aliya sambil memeluk Laura yang sedang tersenyum-senyum malu.
"Apaan sih Aliya peluk-peluk," tegur Laura yang kemudian melepaskan pelukan Aliya.
"Habisnya kalian belum nikah aja udah buat baper," jawab Aliya yang kemudian memeluk tubuh Laura lagi.
"Maaf ya Mas, Om adek saya kayak gini. Maklumin aja waktu kecilnya suka minum sirup sekalian sama botol-botolnya. " Ujar Laura yang spontan membuat Aliya langsung melepaskan pelukannya.
"Ga ga kok Om, Kak Dimas. Kak Laura bohong yang benar itu Aliya suka minum sirup sekalian sama pabrik-pabriknya," jawab Aliya yang kemudian melipat kedua tangannya diperutnya.
"Puas Kakak," lanjut Aliya kesal yang kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Laura.
__ADS_1
"Cieee ngambek ni," ledek Laura sambil mencolek dagu Aliya.
Dimas dan Papanya pun hanya bisa tersenyum melihat kelakuan konyol Laura dan Aliya yang begitu akrab.
"Maaf ya, Laura dan Aliya memang kayak gitu sejak kecil, maklum mereka cuma berdua aja." Ucap Echa sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Ga apa-apa kok Tan, Dimas malah lebih suka sama cewek yang kayak mereka apa adanya," jawab Dimas sambil tersenyum.
"Iya Dimas benar, Dimas juga kayak gitu kalau dirumah sama adeknya, ya meskipun mereka bukan saudara kandung." Sahut Papa Dimas sambil tersenyum.
"Om seriusan Kak Dimas punya adek, ganteng ga Om?" tanya Aliya tanpa pikir panjang.
"Aliya, kebiasaan deh." Tegur Laura sambil mencubit perut Aliya.
"Aduh Kak sakit tau," sahut Aliya kesal.
"Tapi adeknya Dimas orangnya dingin banget kalau ga kenal dia lebih banyak diamnya, tapi kalau belum kenal ya dia cuek-cuek gitu." Ucap Papa Dimas sambil tersenyum.
"Yah kalau gitu Aliya nyerah aja deh Om," jawab Aliya sambil menekuk mukanya.
"Yaudah kalau gitu kita pamit pulang dulu ya, soalnya istri saya lagi ga enak badan dirumah," ucap Papa Dimas yang kemudian berdiri diikuti dengan Dimas.
"Oh iya iya, makasih banyak udah mau ngobrol-ngobrol bareng kita," jawab Echa yang kemudian merekahkan senyumannya.
"Iya sama-sama Tan, kita pulang dulu ya Tan, Ra, Al," pamit Dimas sambil tersenyum.
"Assalammu'alakum," ucap Dimas dan Papanya secara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Echa, Laura dan Aliya serentak.
Dimas bersama dengan Papanya pun akhirnya pulang kerumah mereka. Sedang Aliya dan Laura masih saja saling ledek-ledekan.
"Cieee cieee, Kak Laura mau nikah sama Kak Dimas," ledek Aliya sambil mencolek dagu Laura.
"Apaan sih kamu," jawab Laura sambil berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Tapi ngomong-ngomong yang nelpon tadi siapa sih kak?" tanya Aliya dengan menatap kedua bola mata Laura dalam-dalam.
"Ohh yang tadi, katanya sih Randy tapi ga tau deh Randy mana," jawab Laura dengan sangat santai.
__ADS_1
"Benaran kak Randy deh kayaknya itu tadi Kak," ucap Aliya sambil menepuk-nepuk jari telunjuknya di pipinya.
"Ga mungkin lah Al, Randy kan ga punya nomor handphone Kakak," jawab Laura sambil menyandarkan punggunya ke sofa.
"Ihh mungkin aja lho Kak, namanya orang udah cinta pasti apapun dan bagaimana caranya ya dia pasti lakukan," ucap Aliya yang kemudian ikut menyandarkan punggung ke sofa.
"Kalau itu mah namanya bukan cinta Aliya, itu namanya N A F S U, nafsu." Jawab Laura dengan mengeja satu persatu hurufnya.
"Udah ah, Kakak mau mandi dulu," lanjut Laura yang kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya.
"Ihh Kak Laura ga asik deh, Aliya belum kelar bicara juga udah main pergi-pergi aja." Ujar Aliya dengan memanyunkan bibirnya beberapa senti sambil mengambil remote TV.
"Ihh mana sih film yang bagus," ucap Aliya sambil mengotak-atik remote TV sambil menggonta-ganti siaran televisi.
"Nih TV sama aja kayak kak Laura, ngeselin." ujar Aliya yang kemudian mematikan TVnya.
"Emm, mendingan ke kamar kak Laura aja ah," ucap Aliya dengan niat untuk mengupas habis kisah percintaan Laura yang rumit itu.
Aliya pun akhirnya berjalan menuju kamar Laura sambil menunggu Laura yang sedang mandi. Aliya pun menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur Laura. Aliya yang mulai bosan menunggu Laura yang belum selesai mandi pun berinisiatif untuk mengobrak-abrik kamar Laura.
"Kok gue jadi kepo ya dengan kamar kak Laura, ada apaan ya kok gue tiba-tiba penasaran gitu ya?" tanya Aliya sambil menepuk-nepuk telunjuknya ke pipinya.
Aliya pun langsung bangkit dari tidurnya untuk segera mengobrak-abrik kamar Laura sebelum Laura selesai mandi. Aliya sudah mengelilingi kamar Laura namun ia masih saja belum menemukan apa saja yang menarik dari kamar Laura. Hingga pada akhirnya Aliya tiba-tiba kesandung dengan karpet bulu milik Laura yang membuat Aliya terjatuh tepat diatas karpet Laura.
"Aduuuh, nih karpet kurang ajar banget sih. Ga di didik apa sama orang tuanya," celoteh Aliya yang masih dengan posisi tengkurap.
Tanpa sengaja kedua bola mata Aliya tertuju ke sebuah kotak yang berada dibawah tempat tidur Laura. Aliya yang penasaran pun mulai melihat kearah kamar mandi memastikan bahwa Laura masih mandi atau sudah selesai. Aliya yang masih mendengar suara desiran air pun dengan sigap langsung mengambil kotak tersebut sebelum Laura keluar dari kamar mandi.
"Nih kotak gede juga ya?" tanya Aliya dengan nada suara yang sangat pelan.
"Gue ga mungkin buka ini disini, pasti bakalan ketahuan sama kak Laura," ucap Aliya dalam hati. Aliya pun segera membawa kotak tersebut ke dalam kamarnya. Aliya pun segera menyembunyikan kotak tersebut dibawah tempat tidurnya dan kemudian Aliya kembali ke kamar Laura agar Laura tidak curiga dengannya.
Oke guys sekian dulu ya😊
Terimakasih ya buat para reader yang pada baik hati yang selalu nyemangati author, bukan malah menjatuhkan semangat author😊.
**SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
IG : @febiayeni
__ADS_1
FB : Febi Ayeni**