Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 121


__ADS_3

TOK... TOK... TOK...


Dengan sangat hati-hati Dimas pun mengetuk pintu kamar Randy, namun tidak ada jawaban sama sekali dari Randy. Dimas pun akhirnya memaksakan diri untuk tetap masuk ke kamar Randy.


"Randy," panggil Dimas yang melihat Randy duduk bersandar di sofa.


"Ngapain lo kesini?" tanya Randy ketus.


"Gue kenal Laura baru sekitar 2 mingguan ini Ran, dan gue benar-benar ga tau kalau Laura yang lo maksud itu Laura yang sama," jawab Dimas yang kemudian menghampiri Randy.


"Tapi kenapa lo baru ngomong sekarang, kenapa ga dari dulu?" tanya Randy dengan emosi yang mulai meningkat.


"Di hari-hari awal gue ta'arufan sama Laura, gue udah mau cerita sama lo, tapi pada saat itu lo masih sibuk ngurusin Chika, hingga pada akhirnya gue lupa mau cerita sama lo," jawab Dimas dengan sangat lembut yang kemudian ia berdiri tepat disamping Randy dengan sama-sama menatap tubuh-tumbuhan hijau di depan mereka.


"Gue tau kok gue salah karena gue ga ngomong dari awal ke lo, tapi gue benar-benar minta maaf Ran, gue benar-benar ga tau bahwa Laura yang kita maksud adalah Laura yang sama. " Lanjut Dimas dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Apa lo benar-benar mencintai Laura?" tanya Randy dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Jujur mungkin ini terlalu cepat buat gue jatuh cinta kepada seorang wanita, tapi entah kenapa ketika gue lihat Laura pertama kali di taman, gue ngerasakan hal yang beda. Dalam waktu satu detik gue langsung bisa mencintai Laura, padahal lo tau sendiri berapa banyak wanita yang jauh lebih baik dari Laura yang dekatin gue, tapi entah kenapa cuma Laura yang mampu membuat hati gue tenang. Saat gue dekat sama Laura, gue ngerasa gue seperti sudah kenal Laura bertahun-tahun lamanya, padahal Laura jarang ngomong." Ucap Dimas yang tak mampu membendung air matanya lagi.


"Gue ga mau kehilangan Laura Ran, tapi gue juga ga mau hubungan persahabatan kita putus karena seorang wanita, gue bingung Ran, gue ga ngerti harus apa. Gue juga ga bisa batalin pertunangan itu, semuanya udah terlambat undangannya udah tersebar, dan jika gue batalin gue yakin keluarga gue, keluarga Laura dan juga Laura pasti bakalan kecewa sama gue." Lanjut Dimas sambil memegang kepalanya yang mulai pusing dengan masalah ini.


"Gue benar-benar ga nyangka sama lo Dim, disaat seperti ini lo masih mikirin hubungan persahabatan kita," jawab Randy yang juga ikutan menangis sambil menepuk pelan pundak Dimas.


"Dim, lo ga harus batalin pertunangan lo dengan Laura. Laura pantas mendapatkan laki-laki seperti lo, gue juga ga seharusnya nyalahin lo, gue yang salah karena gue udah ngecewain Laura berkali-kali. Dan mungkin ini karma buat gue, karena gue pernah sangat kecewa sama Laura, dan tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu gue jadian sama sahabatnya sendiri untuk membalaskan sakit hati gue ke Laura." Ucap Randy sambil memegang kepalanya.


"Gue mohon sama lo Dim, jaga Laura baik-baik, jangan sakiti dia seperti gue nyakiti dia. Gue akan berusaha untuk melupakan Laura." Lanjut Randy sambil mendekap tubuh Dimas.


"Gue janji Ran, gue akan selalu jaga dia dan gue juga ga akan nyakiti dia, gue janji." Jawab Dimas sambil berusaha untuk tersenyum.

__ADS_1


"Tapi lo buat dia nangis dan kecewa gue ga akan segan-segan rebut Laura dari lo Dim," ucap Randy sambil menepuk-nepuk pelan pundak Dimas.


"Dim, gue minta maaf kalau gue ga akan datang di acara lo besok, gue benar-benar ga sanggup!" pinta Randy.


"Gue ngerti kok Ran, gue benar-benar minta maaf sama lo Ran," jawab Dimas sambil menepuk pelan pundak Randy.


"Iya ga apa-apa kok, ini bukan salah lo juga mungkin gue dan Laura memang ga di takdirin untuk bersama." Ucap Randy sambil berusaha untuk tersenyum.


"Dim, gue mohon tinggalin gue sekarang, gue pengen sendiri!" pinta Randy.


"Kalau gitu gue pergi dulu Ran, lo jangan lakuin hal yang aneh-aneh disini ya!" perintah Dimas sambil tersenyum. Randy pun hanya menjawab ucapan Dimas dengan senyuman.


Dimas akhirnya keluar dari kamar Randy. Dimas pun menutup pintu kamar Randy. Setelah menutup pintu kamar Randy, Dimas tidak langsung pulang ia sejenak duduk di samping kamar Randy untuk melepaskan tangisnya. Meskipun disini yang sebenarnya harus kehilangan Laura adalah Randy, namun Dimas pun merasakan luka yang teramat dalam. Luka bukan karena kehilangan orang yang ia sayang, namun luka karena melihat Randy sahabatnya harus mengalami sakit yang tak pernah bayangkan. Ketika seseorang yang sudah bertahun-tahun lamanya dicintai harus pergi bersama orang lain, dan orang lain tersebut tak lain adalah sahabat kita sendiri. Luka yang tak berdarah itulah yang Randy rasakan saat ini.


Setelah beberapa menit menangis di samping kamar Randy, Dimas pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Sedangkan Randy masih saja berdiam diri di atas sofanya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Ternyata gini ya rasanya Ra, ketika orang yang kita cintai harus jadi pasangan sahabat kita sendiri," ucap Randy yang terus menerus menyesali perbuatannya di masa lalu.


"Gue terlalu bodoh saat itu Ra, gue bisa buat lo sangat terluka padahal lo ga salah apa-apa, gue bodoh Ra, gue BODOH." Ucap Randy dengan air mata yang terus menerus mengalir di pipinya.


Sedang disisi lain, Dimas benar-benar merasa bersalah terhadap Randy. Sepanjang perjalanan ia hanya bisa terdiam diri tak tau apa yang harus ia lakukan lagi. Andai saja undangan itu belum tersebar mungkin Dimas benar-benar akan membatalkan acara tunangannya dengan Laura. Dimas yang baru sampai rumah pun di sambut dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya pusing.


"Assalammu'alakum," ucap Dimas dengan sangat lesu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Angga dan seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Mamanya Dimas dan Angga.


"Kamu kenapa Dim, kok lesu gitu?" tanya Dewi yang sedang menyetrika baju. Ya Dewi adalah nama Mamanya.


"Lagi banyak kerjaan aja di kantor tadi Ma," jawab Dimas yang langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


"Ohh yaudah kalau gitu nanti jangan begadang besok kan hari penting kamu!" perintah Dewi sambil tersenyum.


"Iya Ma," jawab Dimas.


Angga yang melihat Dimas seperti ada masalah pun langsung mengikuti Dimas untuk mengintrogasi Dimas. Dimas yang baru sampai di dalam kamarnya pun langsung duduk di atas tempat tidurnya.


"Kak, ada masalah apa sih?" tanya Angga yang kemudian duduk disamping Dimas.


"Lo tau ga Ngga, kalau Laura yang Randy pernah cerita ke kita dulu itu ternyata Laura kakaknya Aliya," jawab Dimas, namun Dimas terkejut saat melihat ekspresi Angga yang sama sekali tidak seperti orang yang baru tau.


"Kenapa lo diam, apa lo udah tau ini semua?" tanya Dimas yang mulai curiga dengan Angga.


"Sebenarnya gue tau itu semua sejak hari pertama kak Dimas ta'arufan sama kak Laura," jawab Angga sambil menundukkan kepalanya.


"Astagfirullah Angga, kenapa lo ga bilang sama gue?" tanya Dimas sambil mengacak-ngacak rambutnya.


"Gue minta maaf kak, bukannya gue ga mau kasih tau tapi Aliya nyuruh gue untuk rahasiain ini semua, karena Aliya bilang kak Laura mencintai kak Dimas, Angga minta maaf kak," jawab Angga sambil menyalam tangan Dimas.


"Tapi lo tau kan, gimana Randy sangat-sangat mencintai Laura?" tanya Dimas.


"Gue tau kak, tapi gue juga bingung harus apa waktu itu, gue lihat lo sayang banget sama kak Laura dan kak Laura gitu juga, gue ga mau hancurin hubungan kalian. Gue yakin kok Randy pasti ngerti." Jawab Angga tegas.


"Gue minta maaf kak," ucap Angga yang kemudian pergi meninggalkan Dimas yang masih terdiam mendengar jawaban darinya.


Sorry ya guys pada banyak yang kecewa dengan novel ini, tapi saya harap kalian bisa ngerti ya, dan kalian harus tetap baca episode-episode berikutnya, karena masih banyak yang belum diselesaikan disini,.😉


Terimakasih.


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

__ADS_1


IG : @febiayeni


FB : Febi Ayeni


__ADS_2