
Flashback on,
“Kita harus cerai Li!” pinta Alex dengan lembut.
“Kenapa Lex? Kenapa lo harus lakuin ini ke gue? Salah gue apa Lex?” tanya Aulia dengan air mata yang tak mampu terbendung lagi.
Alex kemudian memegang kedua tangan Aulia, “Li, kamu berhak bahagia dengan laki-laki yang kamu cintai dan juga mencintai kamu Li,” ucap Alex dengan penuh kelembutan.
“Aku ga mau kamu terus-terusan terluka Li,” lanjutnya seraya mengelus-elus kepala Aulia.
“Tapi kenapa lo nikahin gue Lex? Kenapa lo ga tolak perjodohan itu Lex?” tanya Aulia.
Alex kemudian duduk di lantai tepat dihadapan Aulia dengan air mata yang mengalir dipipinya, “aku minta maaf Li, aku khilaf, aku kira kamu Dinda, aku kira Dinda masih hidup,” jawab Alex seraya menundukkan kepalanya.
“Lalu sekarang apa Lex? Lo lakuin kesalahan besar terhadap gue Lex. Gue selalu terima meskipun lo anggap gue Dinda, Lex. Gue ikhlas Lex, gue ikhlas walaupun lo mencintai gue bukan sebagai Aulia. Setidaknya lo ga sia-siain gue Lex, lo ga khianati gue kayak gini. Lo udah dikasih kesempatan untuk tetap bersama Dinda meskipun ga sempurna.” Aulia kini sudah tak mampu lagi memendam semua kekecewaannya terhadap sikap Alex.
“Gue tau gue salah Li, tapi gue ga mau lo perjuangin laki-laki brengsek kayak gue!” tegas Alex yang masih menundukkan kepalanya.
“Apa karena gue mandul makanya lo ceraikan gue?” tanya Aulia dengan dada yang terasa sangat sesak.
“Maafin gue Li, gue harus miliki keturunan,” jawab Alex.
Aulia kemudian jongkok di hadapan Alex seraya berkata, “oke kalau lo tetap mau ceraikan gue. Tapi gue punya permintaan terakhir buat lo!” tegas Aulia sambil menghapus kasar air matanya.
Alex lalu menegakkan kepalanya, “apaan pun yang lo mau gue akan turuti Li,” jawab Alex.
“Gue mau cek kesuburan, jika gue terbukti mandul maka lo berhak ceraikan gue, tapi jika tidak lo harus pilih gue dan tinggalkan selingkuhan lo!” perintah Aulia yang membuat Alex sangat terkejut.
“Kamu tega biarin dia ngelahirin anak aku tanpa seorang ayah?” tanya Alex dengan kedua bola mata terbelalak.
“Lo bilang gue tega? Lo kurang tega apa ke gue? Selingkuhan lo kurang tega apa ke gue?” tanya Aulia yang tak terima dengan argumentasi Alex.
“Oke kalau itu yang kamu mau, besok jam 8 pagi kita ke rumah sakit!” pinta Alex.
Keesokan harinya....
Aulia kini sudah memegang surat hasil tes kesuburannya. Rasa takut pun mulai menghantui pikiran Aulia saat ini. Aulia menatap amplop putih tersebut dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Alex lalu menyandarkan kepala Aulia di pundaknya, “Li, lo harus kuat hadapi ini semua, kalau kita ditakdirkan bersama pasti selalu ada jalan,” Alex mengelus-elus pundak Aulia lembut.
Air mata Aulia seketika menetes mendengar ucapan Alex, “Lex, kenapa lo harus bersikap lembut seperti ini ke gue? Kenapa juga lo harus lepasin gue?” jeda Aulia yang kemudian melepaskan tangan Alex dari pundaknya.
__ADS_1
Aulia menatap lekat kedua buah bola mata Alex, “Lex, apa lo ga punya perasaan sedikitpun ke gue?” tanya Aulia.
Alex tersenyum, “jika aku bilang iya, apa kamu percaya sedangkan aku selalu memanggilmu Dinda?” jawab Alex yang kembali melontarkan pertanyaan.
“Mendingan sekarang kamu bukan hasil tesnya!” perintah Alex seraya melirik kepada amplop putih yang berada di genggaman Aulia.
Dengan sangat terpaksa Aulia pun membuka amplop putih tersebut. Ketika Aulia sudah mengetahui hasilnya, ia tak mampu berkata-kata apa-apa lagi bahwa ternyata ia benar-benar tak bisa memiliki keturunan.
Aulia kemudian menggenggam kedua tangan Alex, “Alex, thanks ya lo udah jadi suami gue selama ini,” jeda Aulia sejenak, “sekarang lo boleh pergi. Permintaan gue cuma satu, tolong bahagiain dia. Jangan sia-siain dia ya, Lex!” pinta Aulia sambil menundukkan kepalanya.
Alex kemudian memeluk tubuh Aulia untuk yang terakhir kalinya, “jaga diri kamu baik-baik ya Li, terimakasih selama ini kamu udah jadi istri yang baik buat aku. Maafin aku yang udah banyak ngecewain kamu selama ini.” Ucap Alex yang berusaha menahan air matanya.
Dengan suara yang sangat pelan Alex membisikkan sesuatu ketelinga Aulia, “I love you, Aulia.”
Alex lalu melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Aulia yang masih terkejut mendengar ucapan samar-samar dari Alex. Alex tersenyum manis kepada Aulia seraya melambaikan tangannya kearah Aulia.
Flashback off,
Aliya lalu memeluk erat tubuh Aulia, “mbak yang sabar ya. Suatu hari nanti Allah pasti ganti yang lebih baik lagi untuk mbak.”
Aulia kemudian melepaskan pelukan Aliya, “thanks ya Al, kamu udah mau dengarin curhatan aku,” ucap Aulia seraya tersenyum.
“Oh ya jadi lupa, katanya kamu mau nanya sesuatu, nanya apaan sih Al?” tanya Aulia seraya menghapus air matanya.
“Hehe, sebenarnya Aliya cuma pengen ketemu doang sama mbak. Abisnya mbak susah banget diajak ketemu kalau ga penting-penting amat,” jawab Aliya terkekeh.
“Dasar kamu ya,” ucap Aulia sambil mencubit pelan pipi Aliya.
“Eh ngomong-ngomong, gimana kondisi kandungan kamu? Ga ada keluhan, kan?” tanya Aulia.
Aliya tersenyum, “Alhamdulillah aman-aman aja kok mbak.”
“Oh ya mbak kalau gitu Aliya ke kampus dulu ya!” pinta Aliya.
Aulia tersenyum, “iya hati-hati.”
Baru beberapa langkah, Aliya lalu membalikkan badannya, “emm, mbak!” panggil Aliya.
“Apa lagi Al? Ada yang ketinggalan?” tanya Aulia.
“Ga ada kok.”
__ADS_1
“Oh ya mbak, lusa malam mbak sibuk ga?” tanya Aliya.
“Emm, kayaknya ga deh,” jawab Aulia.
“Kita dinner di cafe move on jam 7 ya!” pinta Aliya yang kemudian langsung berjalan meninggalkan Aulia begitu saja, tanpa menunggu jawaban “iya” dari Aulia.
“Ih apaan sih Aliya, belum juga dijawab udah main pergi-pergi gitu aja,” ucap Aulia seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aliya yang baru saja sampai di kampus tiba-tiba dikagetkan oleh kedatangan Angga dari arah belakang.
“Kamu dari mana?” tanya Angga ketus.
Aliya menepuk pelan jidatnya sendiri seraya berbisik, “aduh mati deh gue.”
“Kamu dari mana?” tanya Angga lagi. Dengan rasa takut Aliya membalikkan badannya menghadap Angga.
“Emm anu yank, anu,” jawab Aliya gugup.
“Ana anu ana anu apaan?” tanya Angga dengan sangat dingin.
“Tadi aku dari kantin kok,” jawab Aliya seraya tersenyum paksa.
“Dari kantin?” tanya Angga lagi.
Aliya menganggukkan kepalanya, “ii... Iya yank,” jawab Aliya dengan sangat gugup.
Sorry typo ya guys,🙏🙏
Oh ya guys, pada dialog tag bagian Alex itu memang sengaja pakai kata-kata terkadang "lo gue" dan terkadang "aku kamu" ya guys.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya guys.
Maaf ya guys, komentarnya ga dibalas, tapi aku selalu baca kok.
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,
IG : @febiayeni21
FB : Febi Ayeni
__ADS_1