Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 38


__ADS_3

Bagaimana tidak, ia berjumpa dengan ibu-ibu komplek yang julid. Selalu merasa hanya merekalah yang sempurna tanpa ada sedikitpun noda dan dosa.


“Eeh Jeng, itu bukannya pelakor di rumah tangganya Angga dan Aliya, ya?”


“Yang mana sih Jeng?”


“Yang duduk di kursi itu,”


“Ya ampun kasian banget ya si Aliya, padahal Aliya itu orang baik banget tapi masih ada aja pelakor yang gangguin keluarganya.”


“Namanya juga pelakor Jeng, mana bisa bedain baik buruknya.”


“Iya Jeng, pasti Aliya tertekan banget deh sekarang.”


Mendengar ucapan mereka membuat hati Aulia begitu sedih. Air matanya mengalir. Ia pun berjalan meninggalkan ibu-ibu komplek itu.


“Pakai acara nangis segala lagi, palingan nangisnya juga akting.”


“Iya, sampai rumah pasti langsung ngadu sama Angga, biar di manja-manjain Angga.”


“Otak pelakor mah gampang di tebak ya, modusnya ga ketulungan.”


Hampir setiap kali Aulia keluar rumah selalu mendapati omongan-omongan tetangga seperti itu. Namun, Aulia selalu diam karena menurutnya berbicara dengan orang julid seperti mereka adalah hal yang sia-sia. Ditambah lagi usia kandungannya yang sudah memasuki usia 8 bulan, ia harus pandai mengontrol emosinya. Sampai pada suatu ketika Aulia sedang membeli bakso di depan rumahnya, Aulia kembali mendengar ucapan-ucapan yang tidak bertanggung jawab itu lagi. Namun, kali ini ia tak mampu lagi untuk diam.


“Eeh pelakor beli bakso juga?”


“Disuruh Angga atau mau modus lagi?”


“Ini Mbak baksonya,” ucap tukang bakso itu sambil memberikan pesanan Aulia.


“Makasih ya Mang,” ujar Aulia sambil memberikan uang 50 ribu kepada Mamang tukang bakso itu.


“Sama-sama Mbak,”


“Kamu ternyata hebat juga ya,” perkataan dari salah satu ibu-ibu komplek itu membuat langkah Aulia terhenti.


“Maaf ada apa ya Buk?” tanya Aulia menghadap ibu-ibu itu.


“Kamu bisa hidup tenang diatas penderitaan Aliya, apa kamu ga punya hati nurani sehingga tak sedikitpun kamu mau mengalah untuk keluarga kecil mereka?”


“Sadar nak, sadar. Kamu itu benalu di hubungan mereka. Kasian Aliya harus menyimpan kesedihannya dihadapan banyak orang.”


“Kenapa sih Buk, kalian selalu men-judge saya? Salah saya apa?” tanya Aulia yang tak kuasa menahan air matanya lagi.


“Heh, pelakor seperti kamu mana pernah merasa bersalah.”


“Satu hal yang harus ibu tau, saya ga pernah mengambil siapapun dalam hidup Aliya!” tegas Aulia dan kemudian berjalan meninggalkan ibu-ibu komplek itu.


Aulia berlari sambil menghapus kasar air matanya. Setelah sampai di meja makan, Aulia meletakkan bakso-bakso itu ke dalam mangkuk. Aulia lalu langsung pergi meninggalkan Aliya dan Angga tanpa sepatah katapun.


“Kamu ga ikutan makan?” tanya Angga. Aulia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya.


“Mbak Aulia kenapa ya Mas?” tanya Aliya sambil menusuk salah satu bola baksonya.

__ADS_1


Angga mengangkat kedua bahunya, “ga tau. Udah kamu ga usah terlalu mikirin Aulia ya, abisin makanannya setelah itu tidur, Aulia biar Mas aja yang ngurus!” perintah Angga.


“Iya Mas,” jawab Aliya.


Setelah selesai makan, Angga lalu mengantarkan Aliya ke kamarnya. Kemudian Angga masuk ke kamar Aulia. Angga tak melihat Aulia fi tempat tidurnya, dan ternyata Aulia berada di balkon.


“Aulia!” panggil Angga. Dengan sigap Aulia langsung menepis air matanya.


“Iya Mas,” jawab Aulia seraya tersenyum.


“Kamu kenapa ga makan malam?” tanya Angga khawatir.


“Lagi ga selera aja mas,” jawab Aulia sambil berjalan menuju tempat tidur.


Angga tau Aulia tidak berkata jujur saat ini. Angga menarik lembut tangan kanan Aulia lalu memeluk erat tubuh Aulia.


“Aku tau kamu lagi ada masalah Li, aku ini udah jadi suami kamu aku berhak untuk tau masalah kamu.” Ucap Angga.


Aulia memejamkan matanya sehingga mengeluarkan cairan bening yang dari tadi ia coba untuk menahannya. Aulia sama sekali tak merespon ucapan Angga. Ia hanya menikmati pelukan hangat yang Angga berikan untuknya. Andai saja waktu dapat ia hentikan saat ini, betapa bahagianya Aulia saat ini.


Setelah cukup lama berpelukan, Angga pun melepaskannya. Angga terkejut saat melihat Aulia menangis.


“Kamu kenapa?” tanya Angga, “cerita sama aku sejujur-jujurnya yank!” pinta Angga sambil mengajak Aulia duduk di sofa.


“Angga manggil aku dengan sebutan yank?” tanya Aulia dalam hati.


Tak mendapati jawaban apapun dari Aulia, Angga lalu menggenggam kedua tangan Aulia.


Aulia menggelengkan kepalanya, “ga apa-apa, aku cuma kurang enak badan aja,” Aulia lalu berdiri dan melepaskan genggaman Angga, “aku mau istirahat dulu,” lanjutnya seraya meninggalkan Angga di sofa.


Diambang pintu ternyata Aliya sedang memperhatikan Angga dan juga Aulia. Kini bukan Angga saja yang penasaran dengan tingkah aneh Aulia tapi juga dengan Aliya.


“Mbak Aulia kenapa ya?” tanya Aliya dengan suara berbisik.


“Aku harus selidiki,” Aliya lalu kembali ke kamarnya.


Keesokan harinya....


“Mbak, mau kemana?” tanya Aliya yang sedang sarapan bersama Angga.


Aulia tersenyum lalu berjalan menghampiri Angga dan Aliya. Aulia lalu menyalim tangan suaminya itu.


“Mas, Al aku pergi ke rumah sakit dulu ya, mau cek kandungan!” pinta Aulia seraya tersenyum manis.


“Kamu yakin mau pergi sendiri, kamu lagi hamil tua lho, kalau terjadi apa-apa nanti gimana?” tanya Angga khawatir.


“Iya Mbak, aku temanin aja ya!” pinta Aliya yang juga sangat mengkhawatirkan kondisi Aulia dan janinnya.


“Aku sendiri aja bisa kok,” jawab Aulia seraya tersenyum.


“Kamu yakin?” tanya Angga sekali lagi.


“Iya aku yakin kok,” jawab Aulia.

__ADS_1


Angga akhirnya melepaskan Aulia untuk pergi ke dokter kandungan sendirian. Ya meskipun dia sendiri dokter kandungan, tapi tetap saja dia membutuhkan bantuan dokter lain. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Namun, Aulia belum juga pulang dari rumah sakit. Padahal ia pergi sudah dari pagi sekali. Angga mulai khawatir dengan Aulia. Angga berjalan kesana-kesini seperti setrikaan.


“Mas, kenapa sih?” tanya Aliya yang sedang mengurus putra putrinya itu.


“Udah jam segini Aulia belum pulang juga coba, Hpnya ga aktif lagi,” jawab Angga yang tak henti-hentinya mengecek layar ponselnya.


“Mas yang tenang dong, mungkin hpnya lagi lowbat,” ucap Aliya.


Angga lalu duduk disamping Aliya, “tapi Mas ga bisa tenang yank kalau Aulia belum sampai rumah,” bantah Angga yang berhasil membuat Aliya cemburu.


Tak lama kemudian Aulia pun pulang dengan kepala yang sudah dibaluti perban. Angga dan Aliya terkejut melihat Aulia seperti ini, ditambah lagi lengan gamisnya dilumuri darah. Angga dan Aliya lalu berlari menghampiri Aulia.


“Aulia!”


“Mbak Aulia kenapa?”


Aulia tidak merespon sepatah katapun. Kepalanya terasa sangat pusing, matanya mulai berkunang-kunang sampai pada akhirnya ia kehilangan kesadaran. Aulia nyaris jatuh ke lantai. Ketangkasan Angga dalam bergerak membuat Aulia terselamatkan.


“Mas bawa Mbak Aulia ke kamarnya aja!” perintah Aliya.


Setelah setengah jam Aulia tidak sadarkan diri, akhirnya Aulia sadar.


“Mbak Aulia udah sadar?” tanya Aliya panik.


Aulia memegang kepalanya yang masih terasa sangat pusing. Aulia mengambil posisi duduk dibantu oleh Angga.


“Mbak Aulia kenapa kok bisa kayak gini?” tanya Aliya yang sangat khawatir.


“Aliya, jangan tanya yang berat-berat dulu, baru juga sadar!” perintah Angga sambil memberikan air putih kepada Aulia.


“Iya maaf Mas,” jawab Aliya cemberut.


“Tadi aku ga sengaja di tabrak, tapi Alhamdulillah yang nabrak langsung bawa aku kerumah sakit.” Ucap Aulia yang sudah merasa sedikit tenang.


“Tapi kandungan kamu ga apa-apa, kan?” tanya Angga.


“Alhamdulillah ga apa-apa kok Mas, cuma kepala aku aja,” jawab Aulia.


Hai-hai guys apa kabar setelah baca episode yang ini? sehat, kan?


Oke guys, saya mau kasih kabar bahagia nih ke kalian, sebentar lagi Aku Pergi Season 2 tamat nih, yang mau liat cerita aku yang lain jangan lupa masuk ******** ku ya. FA_Himawari*** nama akunnya ya guys, jangan lupa di follow juga ya🤗 Terimakasih.


Dan yang mau tanya-tanya juga boleh, langsung aja hubungi salah satu sosial media aku di bawah ini ya guys.


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,


IG : @febiayeni21


FB : Febi Ayeni


WA: 0858 3621 9168

__ADS_1


__ADS_2