
****
Hari ini Laura merasa sangat-sangat bosan ditambah lagi ia seperti kekurangan teman untuk curhat. Laura pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah Chika.
TING NUNG
“Assalammu’alakum,” ucap Laura sambil menekan bel rumah Chika. Tak lama kemudian pembantu rumah Chika keluar.
“Wa’alaikumsalam,” jawab pembantu Chika dengan ramah.
“Bik, Chika nya ada?” tanya Laura yang kemudian tersenyum.
“Oh ada non, langsung ke atas aja non!” pinta pembantu Chika tersebut.
“Makasih ya bik,” ucap Laura.
“Iya sama-sama non.” Jawab pembantu Chika.
Laura pun perlahan-lahan menaiki satu persatu anak tangga. Disaat Laura masih baru saja sampai di tempat Chika, Rizky dan dua orang ia kenal ternyata sedang menceritakannya.
“Laura liat tau pas lo sama Raisa sedang fitting baju pengantin, bahkan dia ada videonya lagi.” Ucap Chika sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Chika membuat air mata Laura seketika mengalir dipipinya.
“Ni anak sih manja amat,” jawab tamu laki-laki Chika itu yang tak lain adalah Randy.
Karena Chika dan yang lainnya belum menyadari keberadaan, Laura pun akhirnya membuka suara, “KALIAN SEMUA JAHAT!” tegas Laura yang kemudian pergi meninggalkan mereka berempat.
Mereka yang terkejut dengan suara Laura sontak membuat mereka berempat melirik ke arah Laura.
“LAURA,” ucap Randy, Chika dan Rizky secara bersamaan.
“Ra Ra tunggu!” pinta Randy yang mengejar langkah Laura.
“Ra gue bisa jelasin semuanya Ra,” ucap Randy yang membuat langkah Laura sontak terhenti.
Laura membalikkan tubuhnya menghadap Randy, “lo ga perlu jelasin apa-apa lagi ke gue, semua udah jelas,” jawab Laura dengan sangat emosi dan air mata yang terus-terusan mengalir.
“Lo salah paham Ra, semuanya ga seperti lo liat,” tegas Randy.
“Iya semuanya memang ga seperti yang gue liat, tapi seperti yang gue dengar,” bentak Laura yang kemudian berlari meninggalkan Randy.
“Ra please dengarin gue dulu!” pinta Randy, namun Laura tak menghiraukannya Laura tetap pergi begitu aja dari Randy.
“Ra, gue sayang sama lo,” teriak Randy yang membuat langkah kaki Laura terhenti.
“Sayang aja lo sakitin gimana kalau ga?” tanya Laura yang kemudian kembali melangkahkan kakinya.
Laura kemudian menghentikan sebuah taksi yang lewat di depannya.
__ADS_1
Randy menahan kaca taksi tersebut, “Ra gue mohon kasih gue kesempatan lagi!” pinta Randy sambil menangkupkan kedua tangannya.
“Jalan pak!” perintah Laura kepada supir taksi tersebut.
“LAURAAAAA!” teriak Randy. Raisa yang dari tadi mengikuti langkah Randy pun akhirnya mendekati Randy.
“Ran, ga di kejar?” tanya Raisa sambil memberikan kunci mobil milik Randy.
“Lo yakin?” tanya Randy dengan mata yang mulai memerah.
Raisa tersenyum, “gue, Chika dan kak Rizky akan bantuin lo untuk jelasin ini semua ke Laura,” ucap Raisa sambil mengelus punggung Randy.
“Makasih Sa,” ujar Randy sambil memeluk Raisa. Raisa hanya tersenyum.
Randy yang tidak ingin Laura terus-terusan salah paham kepadanya dengan sigap langsung mendatangi rumah Laura. Malam ini Randy kurang beruntung, karena Chika dan Rizky tak bisa membantunya sebab malam ini Rizky dan Chika ada janji dengan Hans, papa Rizky. Dengan sangat terpaksa mau tidak mau Randy hanya pergi bersama Raisa.
“Lo yakin kita pergi tanpa Rizky dan Chika?” tanya Randy kepada Raisa yang masih berada di dalam mobil.
“Randy, gue juga ga mau di cap Laura sebagai wanita ga baik karena kesalahpahaman ini.” Jawab Raisa sambil menepuk pelan pundak Randy.
TING NUNG... TING NUNG...
“Iya bentar!” teriak Angga dari dalam rumah.
KLEEKK,
Angga terkejut melihat kedatangan Randy yang secara tiba-tiba, “ngapain lo kesini? Belum puas lo nyakiti kakak ipar gue?” tanya Angga ketus.
“Nyali lo gede juga ya Ran, berani juga lo datang sama cewek lo kesini.” Jawab Angga dengan tatapan sinis.
“Mas maaf kita mau ketemu Laura sekarang, kita mau jelasin semuanya!” pinta Raisa.
“Semuanya udah jelas,” jawab Angga kemudian menutup pintu rumahnya.
“Siapa sih yank? Kok ga diajak masuk?” tanya Aliya yang sedang mengambil nasi untuk Angga.
“Ga siapa-siapa kok yank, orang salah alamat aja.” Jawab Angga yang kemudian tersenyum.
TING NUNG... TING NUNG...
“Siapa lagi sih?” tanya Laura yang mulai kesal.
“Udah kak biarin aja paling juga yang tadi,” jawab Angga santai sambil mengambil makanan malamnya yang telah Aliya siapkan.
“LAURAAAAA!” teriak Randy yang membuat Laura penasaran dengan seseorang yang memanggilnya itu.
“Siapa sih?” tanya Laura yang mau tak mau terpaksa membuka pintu.
KLEEKK...
__ADS_1
Laura sangat terkejut saat melihat bahwa seseorang yang memanggil namanya tadi tak lain adalah Randy.
“Mau ngapain lo kesini?” tanya Laura ketus.
“Ra, Ra kita mau jelasin sesuatu sama lo Ra!” pinta Randy sambil menahan gagang pintu agar Laura tidak kembali menutupnya.
“Urusan kita udah selesai, lo ga perlu jelasin apa-apa lagi!” bentak Laura, “awas lo gue mau makan laper!” perintah Laura sambil melirik tangan Randy yang masih memegangi gagang pintu rumahnya.
Dengan sangat terpaksa Randy melepaskan gagang pintu tersebut. Laura kemudian kembali masuk ke rumahnya dan tak lupa menutup pintu.
“Tu kan kak, aku bilang juga apa ga penting kan?” tanya Angga.
Laura menghembus napas kesalnya dan kemudian mengambil jatah makan malam. Setelah beberapa menit mereka selesai makan hujan turun dengan sangat deras. Randy sudah tak lagi bersuara dengan begitu Laura bisa lebih tenang.
Laura yang lupa menutup jendela kamarnya membuat angin masuk. Dengan perlahan Laura berjalan menghampiri jendela yang masih terbuka itu. Karena hujan yang sangat deras membuat Laura kesulitan untuk mendengarkan suara-suara lain. Sebelum Laura menutup jendela kamarnya, tanpa sadar ia melihat kebawah. Betapa terkejutnya Laura saat mendapati Randy yang berdiri ditengah derasnya hujan sedang memanggil-manggil namanya.
“LAURA, LAURA LO LIAT GUE KAN?”tanya Randy sambil melambai-lambaikan tangannya keatas.
Laura berdecak kesal, “ck, ngapain sih tu anak masih disini? Kurang kerjaan amat sih?” tanya Laura.
“LAURA PLEASE DENGARIN PENJELASAN GUE DULU!” teriak Randy dengan sangat kencang.
“UDAH LO PULANG AJA, GUE GA BUTUH PENJELASAN APA PUN LAGI DARI LO!” sahut Laura.
“RA, PLEASE KALI INI AJA RA!” pinta Randy.
“GA BUTUH!” sahut Laura ketus yang kemudian menutup jendela kamarnya.
Raisa yang dari tadi menunggu Randy di dalam mobil akhirnya keluar menggunakan payung. Raisa menghampiri Randy yang masih berusaha memanggil-manggil Laura.
“Ran, udahlah kayaknya Laura benar-benar sakit hati sama kita, lebih baik kita pulang!” perintah Raisa dengan sangat lembut.
“Gue ga mau Laura salah paham terus Sa,” tegas Randy dengan mata yang mulai memerah.
Raisa memeluk Randy sambil menepuk-nepuk pelan punggung Randy, “lo yang kuat ya Ran!” pinta Raisa.
Laura yang mulai merasa iba kepada Randy akhirnya memutuskan untuk melihat Randy kembali dari jendela kamarnya. Betapa hancurnya hati Laura saat ia melihat Randy dan Raisa berpelukan dibawah payung yang Raisa pegang.
Oke guys mohon bersabar ya😁
Sorry typo ya guys,👍😊
Sabar menunggu ya guys tinggal beberapa episode lagi kok semuanya akan terungkap. 👍😊
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,😉
IG : @febiayeni21
__ADS_1
FB : Febi Ayeni