Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 17


__ADS_3

Angga tergeletak tak sadarkan diri. Seorang pria lalu membawanya ke rumah sakit terdekat. Angga kritis selama beberapa hari, pendarahan yang terjadi pada bagian kepala Angga membuatnya kekurangan banyak darah.


Aulia yang baru saja mendapatkan kabar bahwa Angga sudah beberapa hari dirawat di rumah sakit, seketika langsung menghampiri Angga tanpa sepengetahuan suaminya. Aulia menangis melihat kondisi Angga yang terbaring lemah seperti ini.


Seorang pria yang diketahui bernama Randy tiba-tiba masuk kedalam ruangan Angga di rawat bersama seorang dokter.


“Angga membutuhkan transfusi darah, dan Angga memiliki golongan darah yang sangat langka,” ucap Randy yang datang mengagetkan Aulia.


“Apa golongan darahnya?” tanya Aulia.


“Golongan darahnya B negatif,” jawab Randy.


“Ambil darah gue sebanyak yang Angga butuhkan!” perintah Aulia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Golongan darah lo B negatif juga?” tanya Randy.


Aulia lalu menganggukkan kepalanya, “baiklah kalau begitu silahkan ikut saya ke ruangan tranfusi darah!” perintah dokter tersebut.


“Baik dok,” jawab Aulia.


Saat melakukan tranfusi darah untuk Angga, Aulia hanya mampu menangis, menangis bukan karena sakit namun, rasa sayang Aulia terhadap Angga masih sama seperti sebelumnya.


“Maafin gue Ngga, gue udah bohongi lo,” ucap Aulia dalam hati.


Setelah melakukan tranfusi darah Aulia kembali ke ruangan Angga. Aulia memegang erat tangan Angga dengan kedua tangannya. Air mata kesedihan Aulia terus mengalir membasahi tangan Angga.


“Maafin gue Ngga, andai lo tau kalau gue sangat mencintai lo bahkan sampai saat ini, gue ga tau apakah lo bakalan marahin gue atau ga.” Ucap Aulia dalam hati.


“Angga bangun, gue disini Ngga, gue di samping lo Ngga, gue ingin lo bangun Ngga!” pinta Aulia yang masih menyandarkan kepalanya samping badan Angga.


“Andai lo tau Ngga gue benar-benar terluka liat lo terbaring lemah seperti ini. Andai gue bisa gantiin posisi lo sekarang, gue rela Ngga gue rela,” ucap Aulia dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.


Angga akhirnya sadar, Angga lalu mengelus-elus kepala Aulia dengan tangan kirinya. Aulia terkejut dan langsung menoleh ke arah Angga.


Dengan mata sembab Aulia menyambut Angga dengan penuh antusias, “Angga, lo udah bangun?” tanya Aulia.


“Siapa yang bawa gue kesini?” tanya Angga.


“Seorang cowok, tapi gue ga kenal dia,” jawab Aulia.


“Tolong panggilin dia!” pinta Angga.


Aulia lalu tersenyum, “oke bentar.”

__ADS_1


“Lo dipanggil Angga,” ucap Aulia. Randy pun akhirnya masuk menghampiri Angga.


“Nama lo siapa?” tanya Angga kepada Randy.


“Gue Randy. Beberapa hari yang lalu lo di serempet mobil, terus gue bawa lo kerumah sakit ini deh,” jeda Randy sejenak, “gue belum hubungi keluarga lo, karena gue ga tau. Dan gue temukan nomor HP ini di buku catatan kecil ini,” Randy lalu memberikan sebuah buku catatan kecil atau yang lebih dikenal dengan sebutan note book mini kepada Angga.


“Kamu masih simpan note book ini Ngga?” tanya Aulia dengan mata berkaca-kaca.


Angga lalu mengambil note book mini tersebut dan melemparnya ke tong sampah, “sekarang udah ga lagi!” tegas Angga.


Air mata Aulia seketika meneteskan, “kenapa lo masih disini?” tanya Angga tanpa melirik Aulia sama sekali.


Aulia kemudian menggenggam tangan Angga dengan kedua tangannya, “aku ingin jagain kamu disini,” jawab Aulia.


Angga menepis kasar tangan Aulia, hingga tanpa Angga sadari ia mengenai tangan Aulia bekas tranfusi darah tadi.


“Aaww,” ucap Aulia meringis kesakitan.


“Kenapa lo?” tanya Angga ketus.


“Tangan dia tadi habis...” Randy menghentikan ucapan saat Aulia langsung memotong ucapannya, “ga kenapa-kenapa kok,” sambung Aulia seraya menghapus air matanya.


“Ooh,” sahut Angga singkat, “kalau gitu lo boleh pulang sekarang!” perintah Angga kepada Aulia.


“Udah ada Randy yang jagain gue, jadi lo pulang aja!” perintah Angga, “gue ga mau cari ribut sama suami lo,” lanjut Angga.


Aulia kemudian berlari keluar dari ruangan Angga dengan air mata yang terus-menerus mengalir membasahi pipinya. Sedangkan Angga yang masih terbaring lemah hanya bisa menangis akan kepergian Aulia.


“Kenapa lo nangis?” tanya Randy yang kemudian duduk di kursi dekat tempat tidur Angga.


Angga lalu menghapus kasar air matanya, “gue ga kenapa-kenapa,” jawab Angga.


“Lo sayang banget ya sama dia?” tanya Randy.


“Apa masih pantas gue menyayangi seseorang yang justru mengkhianati gue?” jawab Angga dengan kembali melontarkan pertanyaan.


“Gue tau bro, lo sakit hati banget sama dia, tapi lo harus berterimakasih juga sama dia,” jawab Randy.


“Hah? Berterimakasih sama dia?” tanya Angga.


“Iya, karena dia yang tranfusikan darahnya untuk lo,” jawab Randy.


“Harusnya lo biarin aja gue mati,” ucap Angga kesal.

__ADS_1


“Maksud lo apa?” tanya Randy kebingungan.


“Gue lebih baik mati dari pada harus berhutang nyawa sama dia!” tegas Randy.


“Your crazy?” tanya Randy.


“Ya, gue emang gila. Dan dia yang udah buat gue gila,” jawab Angga.


Sudah 2 minggu semenjak kelulusan sekolah Angga tidak bertemu dengan Aulia, hingga pada suatu hari Aulia bertemu Angga di sebuah supermarket.


“Hai,” ucap Aulia, namun Angga hanya tersenyum hampa kepada Aulia.


“Kamu apa kabar?” tanya Aulia.


“Seperti yang lo liat,” jawab Angga ketus.


Aulia kemudian mengeluarkan sebuah undangan pernikahan dan memberikannya kepada Angga, “lo datang ya!” pinta Aulia. Jujur sebenarnya Aulia tak tega namun, Aulia hanya ingin membuat Angga benar-benar membencinya.


Angga lalu mengambil undangan pernikahan tersebut, “gue pasti datang,” jawab Angga tegas, “oh ya makasih udah donorin darah buat gue,” lanjut Angga.


Aulia tersenyum, “sama-sama.”


“Tapi harusnya lo biarin gue mati aja, karena gue ga butuh darah dari orang munafik kayak lo!” tegas Angga.


Mendengar ucapan Angga barusan membuat hati Aulia seketika hancur berkeping-keping. Kata-kata kasar yang sama sekali belum pernah Aulia dengar dari mulut Angga, dan saat ini ia mendengar langsung kata-kata yang sungguh menyayat hatinya. Namun, apalah daya nasi sudah menjadi bubur, keputusan sudah terbuat, Aulia terpaksa harus memakan bulat-bulat ucapan Angga.


Setelah mengambil undangan pernikahan tersebut Angga langsung pergi meninggalkan Aulia begitu saja. Rasa sayang yang pernah Angga berikan setulus hati kepada Aulia kini hanya tersisa sebagai kenangan semata. Rasa sayang tersebut sudah berubah menjadi benci.


Oh ya guys, aku mau nanya nih, kira-kira kalau kalian ada di posisi Aulia, kalian bakal lakuin hal yang sama atau bagaimana?


Masih sabar kan guys?


Harus sabar dong, aku aja masih sabar nungguin dia datang😁


Eh kok malah kesitu ya😁😁


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,


IG : @febiayeni21


FB : Febi Ayeni

__ADS_1


__ADS_2