
“Gue... Guee... Gue bodoh kak,” jawab Angga dengan mata berkaca-kaca.
“Maksud lo?” tanya Laura bingung.
“Guee... Gue ga bisa bohongi perasaan gue sendiri kak,” air mata Angga akhirnya berhasil lolos dari ujung pelupuk matanya.
“Gue ga tau kenapa? Setiap kali gue ketemu Aulia gue selalu ingat kenangan gue sama Aulia.” Lanjut Angga dengan menunduk kepalanya.
“Terus lo lakuin apa sampai-sampai adik gue kabur?” tanya Laura yang sudah tak mampu
mengontrol emosinya lagi.
“Waktu di rumah sakit, gue reflek mengang tangan Aulia di depan Aliya.”
PLAAKK!!!
Sebuah tamparan keras melesat di pipi Angga, “GA ADA OTAK LO YA NGGA!” Laura menunjuk-nunjuk wajah Angga tanpa memperdulikan orang di sekitarnya.
Randy lalu menurunkan tangan Laura agar tidak kembali menampar Angga, “yank udah yank, emosi ga nyelesaikan masalah!” perintah Randy mencoba menenangkan
Laura.
“UDAH UDAH, SEKARANG LEBIH BAIK KITA CARI ALIYA!” Dimas akhirnya angkat bicara.
Angga dan yang lainnya pun memutuskan untuk mencari Aliya secara berpencar. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 WIB. Namun, Aliya masih belum ditemukan. Angga dan yang lainnya pun berkumpul di sebuah taman.
“Ya Allah Al, kamu dimana?” tanya Angga seraya mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
“Tadi gue sama Randy juga udah ke rumah dan ternyata Aliya ga ada di rumah,” ujar Laura yang juga pusing melihat sikap Aliya yang tiba-tiba misterius seperti ini.
“Kita juga udah ke rumah Mama Dewi, tapi Aliya juga ga ada disana,” sambung dona.
“Angga, jujur gue kecewa banget sama lo,” ucap Laura seraya membuang napas kesalnya.
“Kak, maafin Angga!” pinta Angga, “Angga udah coba ngontrol perasaan Angga ke Aulia. Tapi disisi lain Aliya malah sahabatan sama Aulia, dan Aliya sering banget ngajak Aulia dinner bareng kita Kak.” Angga kembali mengacak-ngacak rambutnya.
“Gue benar-benar bingung harus gimana, gue takut terjadi apa-apa sama Aliya ditambah lagi dia lagi hamil.” Ucap Angga dengan wajah yang sangat kusut seperti baju belum di setrika.
Dimas menepuk pelan pundak Angga, “Ngga, kita berdoa aja untuk Aliya ya.”
1 minggu kemudian....
Setelah sekian lama menghilang, Aliya akhirnya pulang ke rumahnya dan Angga juga. Aliya menekan bel rumah dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1
TING NUNG!!!
KLEEKK!!
Angga membuka pintu rumahnya. Betapa senangnya Angga saat mengetahui bahwa ya menekan tombol bel itu adalah orang yang sangat ia tunggu-tunggu beberapa hari ini. Angga langsung memeluk erat tubuh Aliya.
“Sayang, kamu kemana aja sih?” tanya Angga. Aliya lalu melepaskan pelukan Angga dengan muka datar.
Angga memegang pipi Aliya dengan kedua tangannya. Wajah Aliya yang terlihat pucat membuat kekhawatiran Angga semakin bertambah.
“Sayang kamu sakit? Kok pucat banget sih? Kamu belum makan ya?” tanya Angga secara beruntun.
Aliya menurunkan kedua tangan Angga, “aku ga apa-apa,” jawab Aliya singkat.
“Kita lanjut bahas di dalam aja ya!” perintah Angga seraya merangkul Aliya masuk kedalam rumah.
Aliya lalu duduk di atas sofa tanpa berkata apa-apa. Aliya benar-benar beda dari biasanya. Angga lalu mengambilkan segelas susu dan roti untuk Aliya.
“Kamu sarapan dulu ya sayang!” perintah Angga dengan sangat lembut.
Aliya menatap lekat kedua buah bola mata Angga dengan mata yang berkaca-kaca. Aliya memegang segelas susu dengan kedua tangannya bersentuhan dengan tangan Angga. Angga dan Aliya bertatapan beberapa menit. Aliya yang tak sanggup lagi membendung air matanya.
“Sayang, kamu kenapa nangis?” tanya Angga yang kemudian memeluk tubuh Aliya lembut.
“Sayang, aku minta maaf atas kejadian di rumah sakit kemaren, aku khilaf yank,” ucap Angga dengan mata yang mulai berkaca-kaca, “karena kebodohan aku, kamu jadi pergi ninggalin aku.”
Aliya lalu melepaskan genggaman tangan Angga. Aliya menghapus lembut air mata Angga yang sudah membasahi pipinya.
“Kita lupakan masalah itu ya!” perintah Aliya seraya tersenyum manis kepada Angga.
Kedua buah bola mata Angga seketika terbelalak mendengar apa yang baru saja dilakukan Aliya.
“Kamu udah ga marah lagi?” tanya Angga.
Aliya kembali tersenyum, “ya ga lah, kan udah seminggu juga aku nenangin diri, ya kali masih marah.”
“Serius?” tanya Angga yang masih tak percaya.
Aliya menganggukkan kepalanya sambil mengambil roti yang Angga ambilkan khusus untuknya.
“Tapi kamu kok pucat sih?” tanya Angga sangat khawatir.
“Aku laper yank,” jawab Aliya sambil mengunyah makanan di mulutnya.
__ADS_1
“Kalau gitu kamu mau makan apa? Batagor? Mie ayam? Bakso atau apa?” tanya Angga begitu antusias melihat Aliya sudah kembali lagi.
“Aku maunya kamu,” jawab Aliya yang berhasil membuat Angga tersipu malu.
4 bulan kemudian....
Usia kehamilan sudah mulai menua. Dan Aliya pun akhirnya sudah lulus kuliah dengan predikat terbaik. Tepat pada hari ini Aliya resmi mendapatkan gelar sarjananya. Acara wisuda pun berlangsung penuh dengan suka cita.
Dengan merekahkan senyuman termanisnya, Angga berjalan menghampiri istrinya yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. Aliya lalu memeluk tubuh Angga tepat di depan teman-temannya.
“Eh, Al ga sopan amat sih main meluk-meluk dosen,” ledek Danu teman sekelas Aliya.
“Iya tau lo Al,” sambung Dona yang sebenarnya cemburu karena ia belum melihat kehadiran suaminya sendiri.
"Iri aja lo berdua," sahut Aliya.
“Lo cemburu ya,” ledek Aliya seraya menunjuk wajah kesal Dona.
“Ga siapa bilang gue cemburu,” gerutu Dona kesal.
“Yakin ga cemburu?” tanya seorang pria yang tiba-tiba merangkul Dona dari belakang.
Wajah kesal Dona seketika berubah menjadi senyum bahagia saat mendapati Dimas sudah berada disampingnya. Ya, pria tersebut tak lain adalah Dimas. Dona spontan langsung memeluk tubuh Dimas dengan sangat senang hati.
“Hufff, kalau udah gini gue mundur aja deh,” ujar Danu melarikan diri.
“Hahaha, nasib jomblo.”
“Btw yang lain pada kemana sih?” tanya Aliya.
“Tadi pas acara ada kok, tapi pada kemana ya?” jawab Angga yang kembali melontarkan pertanyaan kepada Aliya.
Dona lalu menunjuk ke suatu tempat, “itu mereka.”
Senyum bahagia pun terlukis indah diwajah-wajah mereka. Perkumpulan keluarga besar seperti ini adalah moment-moment yang sangat di nanti-nanti. Bahagia rasanya dihari spesial seperti ini semua dapat hadir tanpa ada halangan apapun.
Oke guys, sekedar info novel ini belum tamat ya masih akan ada kelanjutannya di next episode oke👌😁
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,
IG : @febiayeni21
__ADS_1
FB : Febi Ayeni