Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 144


__ADS_3

Angga benar-benar sudah tak mampu lagi menjawab semua ucapan Aliya, ucapan yang membuatnya seakan-akan siap membunuhnya saat ini. Kata-kata yang pernah ia lontarkan untuk Aliya kini Aliya membalikkan kata-kata itu kepada Angga. Saat ini Angga hanya bisa melihat kepergian Aliya.


Angga menghapus air matanya dengan kasar dan kembali ke cafe untuk mengajak Dimas pulang.


“Kak yuk pulang!” ajak Angga.


“Bentar Ngga!” pinta Dimas yang sedang asik memperhatikan sepasang kekasih yang sedang bermesraan di meja nomor 8, tepatnya jarak mereka hanya di batasi satu meja saja.


Angga yang mulai penasaran pun ikut memperhatikan sepasang kekasih itu, “liat apaan sih kak?” tanya Angga yang kemudian duduk disamping Dimas.


“Lo kenal mereka ga?” tanya Dimas.


“Ga tuh,” jawab Angga, “eh tunggu kak, kayaknya gue kenal tuh sama yang cowoknya,” lanjut Angga yang mulai memperhatikan sepasang kekasih itu dengan seksama.


“Kalau gue justru kayak pernah liat tuh cewek, tapi gue lupa dimana.” Jawab Dimas yang masih fokus dengan pasangan tersebut.


Seorang laki-laki itu tiba-tiba mengelus rambut indah wanita itu dan kemudian laki-laki tersebut mencium kening wanita itu. Angga dan Dimas yang masih penasaran dengan pasangan tersebut akhirnya memutuskan untuk terus memperhatikannya. Hingga pada akhirnya pasangan tersebut bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Angga dan Dimas benar-benar terkejut melihat pasangan yang sangat mesra itu yang tak lain adalah Randy. Dimas yang emosi langsung bangkit dari tempat duduknya dan menonjok pipi Randy.


“BRENGSEK LO RAN!” ucap Dimas.


“GUE KIRA LO SERIUS SAMA ADEK GUE, TAPI TERNYATA LO HANYA MEMPERMAINKAN LAURA.” Lanjut Dimas dengan penuh amarah. Angga yang takut Dimas menghajar Randy habis-habisan langsung menahan tubuh Dimas.


“GARA-GARA LO SEMUANYA KACAU, DAN GARA-GARA LO JUGA LAURA HARUS NIKAH SAMA ANGGA, LO BRENGSEK RAN!!!” ucap Dimas penuh emosi.


Randy yang mendapati perlakuan kasar dari Dimas hanya mampu meringis kesakitan sambil memegangi pipinya.


“Aduh, Ran yok pulang perut gue sakit nih liat!” pinta wanita tersebut yang diketahui bernama Raisa.


“Kontraksi lagi?” tanya Randy sambil mengelus perut buncit Raisa.


Raisa meringis kesakitan sambil terus memegangi perutnya.


“Yaudah kita pulang ya!” pinta Randy penuh perhatian. Randy kemudian membopong Raisa yang sedang kesakitan itu.

__ADS_1


Angga dan Dimas yang melihat tingkah Randy yang sama sekali tak memperdulikannya hanya bisa mengatur napasnya.


“Itu Randy yang kita kenal ga sih kak?” tanya Angga yang masih tak menyangka dengan sikap Randy tadi.


Dimas hanya diam mendengar pertanyaan Angga. Dimas kemudian mengambil kunci mobilnya yang berada di atas meja dan meninggalkan uang seratus ribu rupiah diatas meja tersebut.


“Yok pulang!” perintah Dimas sangat ketus.


****


Hari ini adalah hari dimana resepsi pernikahan Laura dan Angga akan di gelar. Dekorasi yang dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna pink ditambah dengan beberapa hiasan lainnya. Hari ini seharusnya adalah hari penuh senyum yang akan ditunggu-tunggu banyak pasangan dibelahan dunia ini.


Aliya tersenyum melihat Laura yang tampil begitu cantik dan menawan. “Kak, kakak cantik banget hari ini,” ucap Aliya dengan merekahkan senyuman yang sebenarnya menyakitkan baginya.


Laura dengan wajah cemberutnya langsung menggenggam kedua tangan Aliya. “Al, kamu yakin ga mau ngubah keputusan kamu?” tanya Laura dengan mata yang mulai berkaca-kaca manatap Aliya.


“Kak, mas Angga itu sama seperti kak Dimas. Aliya yakin kok mas Angga pasti bisa bahagiain kakak.” Ucap Aliya yang tak lupa melukiskan senyum di bibir manisnya.


“Aliya, Angga itu hanyanya nikah sama kamu bukan sama kakak. Angga itu cintanya sama kamu Al bukan sama kakak.” Jawab Laura dengan air mata yang kini sudah terjun bebas dipipinya.


“Tapi Al, kehadiran kakak hanya akan buat kamu dan Angga terluka,” ucap Laura yang berusaha untuk membuat Aliya menarik semua kata-katanya.


“Kak, semuanya udah terlambat kak, Aliya ga bisa narik kata-kata Aliya lagi, Aliya ga mau makin memperumit masalah.” Jawab Aliya tegas.


Tok Tok Tok...


Tiba-tiba Dona datang ke kamar Laura.


“Aliya, gue mau ngomong bentar sama lo please!” pinta Dona. Aliya pun terpaksa mengikuti permintaan Dona.


Dona membawa Aliya kedalam kamar Aliya. “Al, lo seriusan batalin pernikahan lo gitu aja ke pak Angga?” tanya Dona dengan sangat panik.


“Ya serius lah, emangnya gue terlihat sedang bohong gitu?” jawab Aliya yang kembali melontarkan pertanyaan.

__ADS_1


“Aliya, please deh lo jangan nekad gini dong, ini kesempatan emas lo bisa bahagia dengan orang yang lo sayang Al!” pinta Dona tegas.


“Don, jika kak Laura aja bisa ngelepasin orang yang dia sayang demi perempuan yang sama sekali ga dia kenal, kenapa gue ga bisa ngelepasin orang yang gue sayang untuk kakak gue sendiri?” tanya Aliya yang penuh emosi dengan air mata yang mengalir dipipinya.


“Aliya yang gue kenal selalu ga gini Al, Aliya yang gue kenal ga egois kayak lo, dia akan buat orang lain bahagia meskipun dia terluka, tapi disini lo ga hanya ngelukai diri lo aja tapi lo juga ngelukai kak Laura dan pak Angga.” Jawab Dona penuh emosi.


“Gue ga tau lagi Al, apa yang lo pikirin sekarang, sehingga lo lakuin hal konyol kayak gini.” Lanjut Dona yang kini juga menangisi karena menghadapi sikap keras kepala Aliya.


Lagi-lagi air mata Aliya terus menerus jatuh di pipinya, “gue relain mas Angga buat kak Laura, karena gue yakin mas Angga bisa bahagiain kak Laura seperti dia pernah bahagiain gue.” Jawab Aliya dengan sesak yang ia rasakan.


“Angga sama sekali ga mencintai kak Laura, Al. Bagaimana lo bisa percaya bahwa dia akan membahagiakan kakak lo?” tanya Dona dengan volume suara yang mulai meninggi.


“Gue percaya karena mas Angga punya iman dihatinya.” Jawab Aliya tegas. Dona sontak terdiam mendengar jawaban yang Aliya lontarkan.


Aliya kemudian mengambil tisu basah untuk merilekskan otot-otot matanya dan Aliya tak lupa memberikan bedak disekitar matanya yang sudah sedikit terhapus karena air matanya. Aliya pun berjalan meninggalkan Dona yang kehabisan kata-kata untuk meruntuhkan pertahanan Aliya.


Ketika Aliya ingin membuka pintu, sejenak Aliya menghentikan langkahnya seraya berkata, “Don, lo harus tau satu hal tentang gue,” ucap Aliya sambil melirik Dona yang masih terdiam diatas tempat tidurnya.


“Senyum di akhir cerita mungkin hanya mitos bagi gue,” lanjut Aliya dengan tegas dan kemudian pergi meninggalkan Dona.


Aliya kembali masuk ke kamar Laura untuk segera membawa Laura ke tempat akad nikah yang di gelar dirumahnya sendiri.


Kini Laura sudah duduk tepat disamping Angga. Angga hanya menundukkan kepalanya, ia tak ingin melihat keberadaan Aliya yang berada tepat di ujung mata sebelah kiri Angga. Dimas yang hari ini menjadi wali nikah untuk Laura menjadi merasa grogi. Ya bagaimana tidak orang yang ia nikahkan adalah seorang wanita yang pernah mengisi hatinya. Mau tidak mau Dimas harus mengubur dalam-dalam perasaannya terhadap adik kandungnya sendiri.


Oke guys segini dulu ya guys, 😉


Pesan saya kepada kalian jadilah readers yang profesional yang selalu siap menerima ending bahagia ataupun sedih dari novel yang telah kalian ikuti dari awal, jangan jadi pengecut yang ketika mendapati hal-hal yang tidak diinginkan membuat kalian pergi menjauh. Saya buat novel ini karena saya ga mau buat kalian benar-benar hidup didalam dunia khayalan, tapi saya buat novel ini bahwa dunia nyata tak selalu memihak kepada kita. Dan ingat akan selalu ada hikmah di akhir cerita yaitu buah dari kesabaran kita selama ini. 👍😊


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,😉


IG : @febiayeni21

__ADS_1


FB : Febi Ayeni


__ADS_2