Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 133


__ADS_3

Laura hanya mampu menuntukkan kepalanya karena ternyata Randy juga melakukan hal yang sama dengannya.


“Dimakan atuh Ra steaknya!” perintah Randy yang melihat Laura tidak melakukan apa-apa kecuali hanya menatap daging steak yang di lumerin keju. “Pura-pura move on butuh tenaga kali Ra,” lanjut Randy sambil melahap sepotong steak miliknya.


“Apaan sih,” jawab Laura dengan pipi yang mulai memerah akibat malu.


“Yaudah makanya di makan dong!” pinta Randy sambil menunjuk steak milik Laura dengan pisau yang Randy pegang.


“Emm, maaf Mas pisaunya boleh jauh-jauh ga?” tanya Laura sambil menepis pisau Randy yang tepat berada di depannya.


Randy meletakkan kembali pisau miliknya ke piringnya, “hehe, sorry-sorry,” ucap Randy terkekeh saat menyadari pisaunya seperti ingin membunuh Laura.


Setelah selesai menghabiskan seluruh makanannya, Randy dan Laura akhirnya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang sudah Randy rencanakan. Randy menghentikan mobilnya di sebuah danau di Bandung yang diberi nama Sanghyang Heuleut. Wisata danau Sanghyang Heuleut adalah satu danau yang sangat terkenal se-antero Indonesia. Bagaimana tidak, danau Sanghyang Heuleut yang Randy dan Laura kunjungi saat ini, menurut sejarah merupakan danau purba tempat mandi para Bidadari.


“Ra kesitu yuk!” ajak Randy dengan menunjuk pinggiran danau yang cukup sepi.


“Kenapa ga ke tempat yang lebih ramai?” tanya Laura sambil mengikuti langkah kaki Randy berjalan.


“Yaelah Ra, gue milih tempat yang sepi bukan mau ngapa-ngapain lo kali, gue cuma mau cerita aja sama lo,” jawab Randy sambil sesekali memastikan bahwa Laura masih mengikutinya.


“Awas aja lo macem-macem gue ceburin lo ke danau itu,” ancam Laura tegas.


“Iya-iya takut banget sih lo sama gue Ra,” jawab Randy.


Randy kemudian duduk diatas bebatuan di pinggir danau tersebut yang diikuti oleh Laura.


“Lo sering kesini Ran?” tanya Laura sambil melirik sepintas wajah Randy yang memandang pemandangan indah di depannya.


“Lumayan sih, tapi baru kali ini gue pergi ga sendirian,” jawab Randy tersenyum.


“Kenapa lo ga bareng teman-teman lo aja?” tanya Laura yang mulai penasaran.


“Karena tempat ini adalah tempat dimana gue bisa menenangkan diri gue,” jawab Randy sambil melirik Laura yang terus memperhatikannya dari samping.


“Berarti gue ganggu lo dong,” ucap Laura yang kemudian mengalihkan pandangannya ke depan.


“Ya ga lah, karena gue memang ingin lo bisa menenangkan diri lo disini.” Jawab Randy sambil mengambil batu-batu kecil yang berada di sekitarnya.


“Gue tau kok lo lagi pusingkan tentang masalah percintaan lo sendiri. Dimas yang lo harapin jadi suami lo ternyata kakak lo sendiri, gue ngerti kok pasti ga gampang bagi lo untuk menerima ini semua.” Ucap Randy yang kemudian melemparkan satu persatu batu-batu kecil yang ia ambil.


“Lo tau dari mana itu semua?” tanya Laura dengan mengerutkan alis matanya.


“Angga udah ceritain semuanya ke gue,” jawab Randy tersenyum.

__ADS_1


“Huff,” Laura membuang napas kesalnya, “gue juga ga nyangka Ran, kenapa kisah cinta gue bisa serumit ini,” ucap Laura yang kemudian menekuk kedua kakinya dan menyilangkan kedua tangannya.


“Itu artinya akan ada suatu hal besar yang telah Allah rencanakan untuk lo Ra, yaitu kebahagian yang lo nanti-nanti. Dan mungkin kebahagian yang akan lo raih nanti jauh lebih baik dari yang pernah lo rencanain sendiri.” Jawab Randy yang sesekali melirik Laura dengan tatapan samar-samar.


“Gue selalu berharap tentang hal itu Ran, dan semoga aja semua yang gue harapkan tergapai,” ucap Laura tersenyum.


“Aamiin,” jawab Randy.


“Ra, cobain dong lempar batu-batu kecil ini kayak gue biar pikiran lo bisa rileks lagi!” pinta Randy yang kemudian melempar lagi sebuah batu kecil ke danau.


“Oke,” jawab Laura yang kemudian mengikuti permintaan Randy.


Randy akhirnya berdiri dan melempar batu-batu kecil itu satu persatu sejauh mungkin. Laura yang melihat Randy berdiri pun langsung ikutan berdiri dan melakukan apa yang Randy lakukan.


“Yang lemparannya paling jauh dia traktir es krim ya!” perintah Randy sambil melirik Laura.


“Oke, 10 es krim ya!” pinta Laura yang kemudian di setujui oleh Randy.


“Nah, punya gue lebih jauh ya,” ucap Laura dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


“Ye, jauhan punya gue kan Ran, lo pasti kalah deh,” ucap Laura sambil menunjuk-nunjuk lemparannya yang paling jauh.


Randy yang melihat senyum Laura yang sangat natural ini hanya mampu membalas dengan senyuman kembali.


“Tu kan gue menang lagi,” lanjut Laura sambil sesekali loncat-loncat seperti anak kecil.


“Ra, jangan loncat-loncat kali, entar jatuh gimana?” tanya Randy khawatir.


Laura pun akhirnya berhenti melompat mengikuti perintah Randy. “Ya paling kalau gue jatuh nasib gue sama kayak batu-batu itu, hehe.” Jawab sambil terkekeh.


“Ya kali, palingan danaunya nolak di ceburin sama lo,” ledek Randy sambil terkekeh.


“Ya ga mungkin lah dia nolak, gue kan cantik,” jawab Laura sambil tersenyum.


“Week,” ucap Randy seolah-olah ingin mengeluarkan isi perutnya.


“Yaelah Ran sok-sok muntah lo, padahal lo ngarepkan sama gue, ya kan ya kan,” ledek Laura sambil menunjuk-nunjuk wajah Randy.


“Ih ge er banget sih lo, paling lo tuh yang ngarepin gue, secara cowok seganteng gue siapa sih yang ga naksir, kucing anggora kak Rizky aja naksir sama gue.” Balas Randy yang tak mau kalah.


“Eh, tapi ngomong-ngomong kondisi Chika gimana Ran?” tanya Laura yang mulai penasaran.


“Alhamdulillah sih sekarang udah bisa jalan meskipun pakai tongkat,” jawab Randy, “lo mau jumpa dia?” tanya Randy yang membuat Laura langsung mengeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Ga ga gue belum siap di marahin Chika lagi Ran,” jawab Laura yang kemudian kembali melempar batu-batu kecil tersebut.


“Chika udah ga marah lagi kok ke lo Ra, kak Rizky udah nasehati Chika habis-habisan waktu itu,” ucap Randy sambil tersenyum.


“Lo yakin? Entar pas dia liat gue, dia malah marah lagi?” tanya Laura dengan wajah yang ditekuk.


“Gue yang tanggung jawab entar,” jawab Randy santai, “emangnya lo ga mau ngasih tau dia kalau lo mau nikah?” tanya Randy.


“Gue ga jadi nikah sama Angga kok,” jawab Laura sambil melempar sebuah batu kecil ke danau.


“Loh kok bisa?” tanya Randy sambil menatap mata Laura dari samping.


“Ya gue ga mau lah nyakitin Aliya,” cetus Laura.


“Alhamdulillah,” ucap Randy dengan senyum manis yang merekah di bibirnya.


“Alhamdulillah kenapa?” tanya Laura polos.


“Ya ga apa-apa,” jawab Randy tersenyum.


“Ra, lo tau ga kenapa gue bawa lo kedanau ini?” tanya Randy sambil sesekali melemparkan batu kecil ke danau.


“Kenapa?” tanya Laura kembali.


“Karena gue mau pastiin aja danau ini benaran tempat pemandian bidadari atau ga,” jawab Randy tersenyum.


“Terus, udah terbukti?” tanya Laura dengan mengerutkan alis matanya.


“Udah tapi yang benar bukan tempat pemandian bidadari,” jawab Randy santai.


“Jadi apa dong?” tanya Laura yang masih bingung.


“Yang benar tempat kencan bareng bidadari,” jawab Randy sambil menatap Laura. Laura yang terkejut dengan ucapan Randy sontak membuatnya langsung melirik Randy yang ternyata juga menatapnya.


Oke guys segini dulu ya,😉


Gimana masih kangen sama Randy?


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,😉


IG : @febiayeni

__ADS_1


FB : Febi Ayeni


__ADS_2