
Angga tertawa kecil, “hehe, lagian aku cuma ga mau kamu jadi pusat perhatian bagi banyak laki-laki diluar sana,” ujar Angga seraya membukakan pintu mobilnya untuk Aliya.
“Thanks yank,” ucap Aliya yang kemudian naik kedalam mobil.
Angga tersenyum dan kemudian segera memasuki mobilnya, “lagian kamu tampil gini aja tetap cantik kok,” tukas Angga seraya menyalakan mesin mobilnya.
Aliya mendorong pelan bahu Angga, “udah ah, gombal mulu kamu tuh!” pinta Aliya agar Angga berhenti memuji-muji dirinya.
“Aku benaran ga gombal yank,” bantah Angga, “ini fakta, kalau ga percaya coba deh kamu nanti jangan gandeng aku jalan, pasti laki-laki pada liatin kamu!” tantang Angga.
“Tapi yank apa lekukan tubuh aku masih kelihatan sampai-sampai mereka pada liatin aku gitu?” tanya Aliya seraya membenahi penampilannya saat ini.
“Enggak yank, lekukan tubuh kamu sama sekali ga kelihatan tapi...”
“Tapi apa yank?” potong Aliya, “make up aku ketebalan?” tanya Aliya lagi.
Angga menggelengkan kepalanya, “ga yank, menurut aku kamu selalu makai make up natural kok,” jawab Angga sambil sesekali melirik Aliya.
“Terus apa dong?” tanya Aliya yang masih sangat penasaran.
Angga kemudian menghentikan mobilnya di pinggiran jalan, “lho kok berhenti sih yank?” tanya Aliya lagi.
Angga hanya diam lalu menghadap Aliya. Angga kemudian langsung memperbaiki hijab Aliya, “Li, bawah dagu itu termasuk bagian leher jadi secara otomatis juga termasuk aurat,” ucap Angga yang terlihat sangat mahir membenahi hijab Aliya, “kadang laki-laki itu bisa tumbuh rasa syahwatnya ketika melihat sedikit aja aurat wanita itu terbuka Li,” lanjut Angga menjelaskan.
Aliya sangat terkejut saat Angga memanggilnya dengan sebutan “LI”. Angga menatap kedua bola mata Aliya dengan menghadirkan kesejukan yang luar biasa, jujur saja baru kali ini Angga menatapnya dengan pandangan yang sangat sejuk.
Angga kemudian kembali mengemudikan mobilnya, “Li, lain kali kalau pakai hijab itu usahakan bawah dagunya juga tertutup kayak sekarang ini,” ucap Angga seraya menyunggingkan senyuman manisnya.
“HAH? LI?” tanya Aliya terkejut, “Kamu bilang aku LI?” tanya Aliya lagi.
Angga menatap kedua bola mata Aliya sejenak, “iya kan nama kamu Aliya yank,” jawab Angga, “kan ada LI nya,” lanjut Angga.
Aliya menganggukan kepalanya bertanda ia mengerti, “iya sih, tapi kan biasanya kamu manggil aku AL bukan LI, jadi agak beda aja kedengarannya,” sahut Aliya.
“Ya ga apa-apa dong yank, biar beda aja dari yang lain,” ujar Angga seraya merekahkan senyumannya.
“Iya deh iya,” jawab Aliya mengalah.
__ADS_1
Angga kemudian menghentikan mobilnya di pinggiran jalan, “yank udah sampai nih,” ucap Angga.
Aliya lalu melirik ke luar mobil, “beli batagornya disini yank?” tanya Aliya terkejut karena tak biasanya Angga mengajaknya makan di pinggiran jalan seperti ini.
Angga tersenyum, “iya yank, disini tuh batagornya enak banget,” jawab Angga sambil mengacungkan jempolnya, “dulu waktu SMA aku sering banget beli batagor disini,” lanjut Angga.
Aliya menatap Angga dengan tatapan kebingungan, “lah masa sih yank? Berarti dulu kamu sekolahnya malam-malam?” tanya Aliya dengan polosnya.
Tawa Angga pecah saat mendengar pertanyaan dari Aliya, “haha, polos banget sih kamu yank,” ucap Angga seraya mencubit pipi cubby Aliya.
“Kok kamu malah ketawa sih yank?” tanya Aliya merengut, “aku nanya serius lho,” lanjutnya sambil melipat kedua tangan diperutnya.
Angga tersenyum lalu mengelus-elus kepala Aliya, “ga lah sayang, kan aku bilang waktu SMA bukan pas istirahat jam sekolah ataupun pulang sekolah,” jawab Angga.
“Ribet amat dah kamu yank, detail amat penjelasannya,” ucap Aliya.
“Iya juga ya yank,” jawab Angga, “kenapa ga aku bilang pas umur 17 tahun aja ya yank?” tanya Angga pada dirinya sendiri.
Aliya menepuk jidatnya sendiri, “haduh yank yank, untung aja mahasiswi-mahasiswi yang kamu ajar di kampus ga ada disini ya yank,” ucap Aliya, “kalau ada bisa-bisa mereka pada bully kamu kali yank,” lanjut Aliya.
Angga terkekeh malu, “haha, sorry-sorry atuh yank, grogi aku tuh kalau ada kamu,” jawab Angga ngeles.
“SIAP TUAN PUTRI!” tegas Angga seraya memberikan hormat kepada Aliya.
Aliya menatap sinis tingkah Angga yang seperti tentara mau perang itu dan kemudian membuka pintu mobilnya.
“Assalammu’alakum Pak,” ucap Angga dengan penuh semangat kepada penjual batagor tersebut.
“Wa’alaikumsalam,” jawab penjual batagor tersebut dengan ramah.
“Masih ingat saya ga pak?” tanya Angga yang membuat penjual batagor tersebut sejenak berpikir.
“Ooh Angga ya?” tanya penjual batagor tersebut.
“Iya Pak,” jawab Angga. Angga kemudian merangkul pundak Aliya yang berada disampingnya, “oh ya pak kenalin ini istri saya,” ucap Angga seraya menunjuk Aliya.
Aliya tersenyum manis serta menyalam tangan penjual batagor tersebut yang sudah berumur kepala 6 ini, “Aliya pak,” ucap Aliya dengan sangat ramah.
__ADS_1
“Lah jadi juga kamu sama neng Lia, Ngga?” tanya penjual batagor tersebut yang justru menimbulkan tanda tanya besar dipikiran Aliya, secara tidak mungkin yang bapak penjual batagor ini maksud adalah dirinya yang baru pertama kali menginjakkan kakinya ditempat ini.
Angga terkekeh mendengar pertanyaan penjual batagor tersebut, “haha, bapak ini masih ingat aja,” jawab Angga, “kebetulan aja namanya mirip pak,” lanjutnya yang hanya dibalas senyuman paksa oleh Aliya.
“Yaudah Pak, saya pesan batagor spesialnya 2 porsi ya Pak!” pinta Angga.
“Dua batagor spesial untuk Mas Angga dan istri siap meluncur,” jawab penjual batagor tersebut dengan ciri khasnya berjualan.
Angga kemudian menuntun Aliya untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan. Tanpa menunggu waktu lama batagor pesanan Angga pun selesai.
“Nih, silahkan di santap,” ucap penjual batagor tersebut seraya memberikan dua porsi batagor kepada Angga.
“Terimakasih Pak,” ujar Angga dan Aliya secara bersamaan.
“Sami-sami,” jawab penjual batagor tersebut yang tak lupa menyunggingkan senyumannya.
“Gimana yank enak ga?” tanya Angga.
Aliya menganggukkan kepalanya, “enak kok, enak banget malahan,” jawab Aliya seraya tersenyum.
Angga lalu merangkul Aliya sambil mengelus-elus bahunya. Aliya menatap kedua bola mata Angga dengan tatap kebingungan melihat Angga yang mendadak seromantis ini di tempat umum.
“Kamu kenapa sih yank tumben amat?” tanya Aliya seraya mengunyah batagor miliknya.
Angga lalu tersenyum, “aku bahagia banget bisa miliki istri yang luar biasa kayak kamu yank,” jawab Angga.
”Wajah dalam bahasa arab adalah anggota badan untuk saling berhadap-hadapan.” (Al-Majmu’, 1:364)
Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/5544\-apakah\-bawah\-dagu\-wanita\-termasuk\-aurat.html
Gimana nih guys, ngefeel nggak nih ceritanya?
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,
IG : @febiayeni21
__ADS_1
FB : Febi Ayeni