
“Hahaha, kak Laura bantuin aku dong!” pinta Aliya.
Laura kemudian melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti tadi seraya berkata, “gue pergi dulu ya,” ujar Laura yang tak ingin mengganggu sepasang suami istri tersebut.
“Kak Laura ih ngeselin,” cetus Aliya kesal.
“Bodo amat dah,” jawab Laura santai, “udah ah gue mau lanjut kerja lagi,” lanjut Laura.
“Rasain kamu kena karma kan,” ledek Angga.
Laura yang baru menyadari sesuatu kembali berbalik kebelakang, “eh kalian berdua bercandanya jangan terlalu berlebihan ya, kasian keponakan gue nanti!” perintah Laura. Angga seketika langsung berhenti menggelitiki perut Aliya.
Angga lalu merendahkan posisi badannya agar bisa berhadapan langsung dengan perut Aliya. Angga kemudian mengelus lembut perut Aliya, “maaf ya sayang, papa lupa tadi,” ucap Angga.
“Aku belum mau maafin Papa kalau Papa belum nuruti permintaan Mama,” jawab Aliya dengan suara seperti anak-anak.
Angga pun berdiri menghadap Aliya, “mau apa sayang?” tanya Angga dengan suara yang sangat lembut.
Aliya tersenyum malu, “mau es krim boleh?” tanya Aliya malu-malu.
“Boleh, tapi ga boleh banyak-banyak ya!” tegas Angga.
“Serius?” tanya Aliya kesenangan.
Angga lalu merangkul pundak Aliya dan menganjak Aliya agar segera berjalan, “iya, habis jenguk papa kita beli es krim,” jawab Angga.
“Yee,” sahut Aliya kesenangan.
Sesampainya di ruangan papa Angga, Aliya lalu mencium tangan kanan papa Angga.
“Eh ada mantu Papa juga rupanya,” ucap Abi yang tak lupa merekahkan senyumannya.
Aliya tersenyum malu, “hehe, iya Pa,” jawab Aliya.
“Oh ya Pa, Ma sebenarnya kami berdua mau ngasih kabar bahagia kepada Mama dan Papa hari ini,” ucap Angga yang menimbulkan tanda tanya besar dipikiran Abi dan Dewi.
“Kabar bahagia?” tanya Dewi, “kabar bahagia apa Ngga, Al?” tanya Dewi lagi yang sudah sangat penasaran.
Angga melirik Aliya yang sedang tersenyum malu, “Aliya hamil Ma, Pa,” jawab Angga.
Dewi yang awalnya masih duduk di samping suaminya, seketika langsung berdiri dan menghampiri Aliya setelah mendengar jawaban dari Angga.
Dewi menatap kedua bola mata Aliya, “serius kamu hamil?” tanya Dewi yang secara bergantian melirik perut Aliya dan wajah Aliya.
Aliya tersenyum berseri-seri, “iya, Ma. Tadinya mau ngecek kandungan tapi karena dapat kabar papa masuk rumah sakit jadinya kita kesini duluan deh,” jawab Aliya.
__ADS_1
“Kalau gitu langsung cek disini aja Al!” pinta Dewi.
“Ide bagus kayaknya yank,” sahut Angga.
“Tapi ga tau kenapa Aliya pengen ngecek kandungannya di rumah sakit dekat kampus Ma,” jawab Aliya seraya menundukkan kepalanya.
Dewi tersenyum lalu mengelus kepala menantunya itu, “yaudah ga apa-apa, mau di rumah sakit mana pun semuanya sama-sama bagus kok,” ujar Dewi yang tak mau mematahkan semangat Aliya.
“Serius Ma boleh?” tanya Aliya penuh harapan.
Dewi tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Aliya kemudian menyenggol pelan perut Angga dengan sikunya, “gimana Mas, boleh kan?” tanya Aliya.
Angga sebenarnya sangat malas untuk kembali ke rumah sakit itu lagi. Namun, karena tak ingin mengecewakan sang istri, Angga terpaksa mengiyakan permintaan istrinya itu.
“Iya, boleh,” jawab Angga.
Aliya tersenyum, “serius?” tanya Aliya memastikan.
“Iya, lagian kalau aku bilang ga, Papa sama Mama pasti lebih dukung kamu, kan?” tanya Angga.
Dewi kemudian mencubit perut Angga, “ANGGAA.”
Angga meringis kesakitan menahan cubitan mau dari mamanya sendiri, “aduh Ma sakit. Udah gede gini juga masih aja di cubit-cubit,” tukas Angga kesal.
“Iya iya Ma, udah dong lepasin!” pinta Angga yang masih mencoba menahan cubitan Dewi.
Dewi kemudian melepaskan cubitannya, “macam-macam sih sama Mama,” jawab Dewi.
Angga lalu berjalan menghampiri dan mencium punggung tangan Abi dan Dewi secara bergantian, “yaudah kalau gitu kita cek kandungan dulua ya Ma, Pa!” pinta Angga.
“Iya, jangan lupa jaga istri kamu baik-baik ya Ngga!” perintah Abi.
“Iya Pa, udah pasti kalau itu,” jawab Angga.
“Jangan sampai kamu buat mantu Mama ini setres ya Ngga!” tegas Dewi.
“Iya iya Ma,” jawab Angga, “lagian yang anaknya siapa yang lebih di perhatiin siapa,” celoteh Angga dengan nada yang pelan.
Sebuah jeweran melekat di telinga Angga, “aduh duh ampun Ma!” pinta Angga meringis kesakitan.
Aliya terkekeh melihat Angga di jewer oleh mertuanya sendiri.
“Ma, Ma udah dong, Angga juga becanda kali,” ujar Abi membela Angga.
__ADS_1
Dewi lalu menurunkan tangannya.
“Tau nih Mama, seriusan amat sih, Angga bercanda kali,” ucap Angga, “tapi sebenarnya serius sih Ma,” lanjut Angga yang kemudian berlari pontang panting menjauh dari mamanya itu.
“ANGGA!!!” teriak Dewi.
“Ma, jangan teriak dong ini rumah sakit!” tegas Abi.
Aliya kemudian menghampiri dan mencium punggung tangan Abi dan Dewi secara bergantian, “kalau gitu Aliya sama Mas Angga pergi dulu ya Ma, Pa!” pinta Aliya yang tak lupa merekahkan senyuman termanisnya.
Dewi mengelus kepala Aliya, “iya, hati-hati ya sayang!” pinta Dewi dengan sangat lembut.
“Iya Ma, Assalammu’alakum,” ucap Aliya.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Dewi dan Abi secara bersamaan.
“Yaudah Ma, Pa, kita berangkat dulu. Assalammu’alakum,” ucap Angga yang kemudian merangkul pundak istrinya.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Dewi dan Abi secara bersamaan.
Dewi lalu kembali ke tempat duduk semulanya, “Angga tu lucu ya Pa,” ucap Dewi yang disertai dengan senyuman.
“Tadi aja marah-marah,” ledek Abi.
“Itu cuma acting aja Pa, siapa tau entar ada yang nawarin jadi artis kan,” tukas Dewi dengan sangat percaya dirinya.
Abi menatap sinis kedua bola mata Dewi, “Ya Allah Ma, Ma ingat umur Ma. Udah mau punya cucu juga,” ujar Abi.
“Tapi Pa, ngomong-ngomong cerita tentang cucu nih ya, si Dimas sama si Dona belum ada kabar tentang cucu ya Pa?” tanya Dewi.
“Mungkin aja mau nyiapin surprise mereka Ma,” jawab Abi, “tadi Mama ga hubungi Dimas?” tanya Abi.
“Udah sih Pa, tapi kan Dimas lagi ada di luar kota jadi ga bisa cepat sampai Pa,” jawab Dewi.
“Oh iya juga ya, Papa sampai lupa kalau Dimas lagi di luar kota,” sahut Abi yang kemudian terkekeh.
“Papa sih suka gitu,” jawab Dewi.
Sorry ya guys kalau masih banyak yang typo, 🙏🙏
Sorry juga kalau belum greget, realeks dulu ya kan di episode-episode sebelumnya pada darah tinggi tu, jadi sekarang santai dulu ya, entar di episode berikutnya siap-siap bagi yang darah tinggi sediain timun biar darahnya nanti stabil😁 kalau perlu marah-marahnya sambil makan timun aja😁
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,
__ADS_1
IG : @febiayeni21
FB : Febi Ayeni