Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 39


__ADS_3

****


Hari semakin hari Aliya dan Angga semakin penasaran dengan sikap Aulia yang selalu terlihat murung hampir setiap harinya. Setiap kali Aulia keluar rumah, pulang-pulang selalu saja raut wajahnya sangat bertolak belakang dengan sikap lemah lembut yang ia tunjukan kepada Aliya dan Angga.


Beberapa bulan terakhir ini Aulia jadi lebih pendiam. Ia hanya ngomong sekedarnya saja.


“Mas, kamu ngerasa ada yang aneh ga sih sama Mbak Aliya?” tanya Aliya sambil mengoleskan selai ke roti yang ia pegang.


“Mungkin karena kandungannya semakin membesar jadi bawaannya lesu terus. Sama kayak kamu dulu kok.” Jawab Angga seraya menyuap nasi goreng miliknya. Ya sarapan Angga dan Aliya hari ini emang berbeda, sebab Aliya lagi malas makan nasi pagi ini.


“Kalau Aliya rasa ya Mas, Mbak Aulia kayak ngejauh gitu dari kita,” jeda Aliya sejenak, “apa Mbak Aulia mulai ngerasa ga nyaman ya Mas?” tanya Aliya.


“Mas juga pernah merasa gitu sih yank, tapi ya Mas coba pikir positif aja,” jawab Angga, “oh ya Aulia ga ikut sarapan bareng?” tanya Angga yang baru menyadari Aulia tidak bergabung dengannya.


“Kata Mbak Aulia sih dia nanti aja Mas.”


“Yaudah kalau gitu, nanti kamu pastiin Aulia sarapan ya, Mas ga mau terjadi apa-apa sama Aulia dan janinnya!” perintah Angga sambil berjalan menghampiri Aliya.


“Kamu juga jangan lupa minum obat dan jangan kecapean ya!” pinta Angga seraya mengelus lembut rambut Aliya lalu mencium keningnya.


Aliya tersenyum sumringah, “iya Mas, Mas hati-hati ya.”


Angga tersenyum manis lalu pergi meninggalkan Aliya sendirian. Tak lama setelah Angga pergi, Aulia pun keluar dari kamarnya.


“Mbak Aulia, ayo sarapan dulu!” pinta Aliya dengan sangat lembut.


Aulia tersenyum sambil mengelus perutnya yang besar itu. “Iya, tapi Mbak sarapan batagor yang di seberang sana aja Al.”


“Kamu mau juga ga biar sekalian Mbak belikan?” tanya Aulia.


“Eemm, boleh deh Mbak,” jawab Aliya dengan sangat semangat.


“Yaudah Mbak beli dulu ya!”


“Iya Mbak.”

__ADS_1


Untuk kali ini Aliya tidak boleh gagal lagi dalam menyelidiki hal yang membuat Aulia selalu sedih setiap pulang ke rumah. Kebetulan saat ini Azzam dan Azzura masih tidur, jadi Aliya bisa pergi sebentar.


Aliya berjalan memindik-mindik agar tidak ketahuan. Beberapa menit Aliya mengintip Aulia dari balik pepohonan. Namun, masih belum terlihat ada hal yang aneh. Hingga pada akhirnya beberapa ibu-ibu komplek datang menghampiri Aulia dengan tatapan seperti ingin menerkamnya.


“Eh ada Aulia si pelakor.”


“Aulia, usia kandungan kamu udah berapa bulan sih?” tanya salah satu ibu-ibu itu.


“Sudah masuk sembilan bulan Buk,” jawab Aulia dengan ramah.


“Wah bagus dong, berarti bentar lagi kamu bisa dong mundur alon-alon. Kasian Aliya pasti dia menderita semenjak ada kamu.”


Kedua bola mata Aulia mulai berkaca-kaca. Aliya juga tak menyangka dengan kelakuan tetangganya kepada Aulia selama ini. Namun, Aliya masih menahan emosinya.


“Kamu tuh mau sampai kapan sih bertahan di atas penderitaan orang lain?”


“Udah deh mending kamu minta cerai aja. Wanita ****** seperti kamu itu ga pantas ada di tengah-tengah keluarga Angga dan Aliya.”


Mendengar ucapan ibu-ibu komplek yang tidak bertanggung jawab itu Aliya langsung turun tangan.


“Al, udah kita pulang yuk!” pinta Aulia sambil menurunkan tangan Aliya.


“Ga bisa Mbak, orang kayak mereka ga bisa terus-terusan di diemin Mbak!” tegas Aliya, “lagian kenapa Mbak ga pernah bilang sama mereka kalau Mbak itu ga pelakor?” tanya Aliya dengan mata yang berkaca-kaca.


Aulia hanya tertunduk mendengar pertanyaan Aliya, “yaudah kalau Mbak ga mau jelasin, biar Aliya aja yang jelasin.”


“Perlu kalian tau ya, Mbak Aulia ini bukan PELAKOR, justru dialah penyelamat keluarga kami. Yang minta Mbak Aulia untuk jadi istri kedua mas Angga itu adalah Aliya sendiri. Dan asal kalian tau, Mbak Aulia selalu menolak permintaan Aliya tapi Aliya terus-terusan minta Mbak Aulia untuk menerima permintaan Aliya.” Ucap Aliya menjelaskan panjang lebar.


“Kenapa kamu mau di poligami?” tanya salah satu ibu-ibu komplek itu.


Aliya menatap lekat kedua buah bola mata Aulia. Perlahan air matanya mengalir, “Al, cukup keluarga kita-kita aja yang tau masalah ini, Mbak mohon!” pinta Aulia sambil menangis.


“Tapi Aliya ga mau, Mbak terus-terusan di bully seperti ini Mbak. Aliya ga mau Mbak pisah dari Mas Angga. Mas Angga membutuhkan Mbak.” Jawab Aliya dengan sedih yang teramat dalam.


“Kita pulang sekarang ya!” pinta Aulia sambil merangkul Aliya pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Aliya pun menuruti kemauan Aulia. Sesampainya di rumah Aulia mencoba menenangkan pikiran Aliya.


“Mbak, maafin Aliya karena Aliya Mbak di bully habis-habisan sama mereka.”


Aulia lalu memeluk tubuh Aliya, “Aliya, ini bukan salah kamu kok. Lagian sebelum Mbak iya kan permintaan Mas Angga dulu, Mbak udah pikirkan matang-matang resikonya Al.” Ujar Aulia seraya melepaskan pelukannya.


“Atau Aliya minta cerai aja sama Mas Angga, biar Mbak bisa hidup tenang sama Mas Angga?” tanya Aliya tanpa pikir panjang.


“Astagfirullah Aliya, kamu ga boleh ngomong gitu. Dari pada kamu yang harus mundur, lebih baik Mbak aja yang mundur. Ga seharusnya Mbak masuk di keluarga kalian.” Jawab Aulia seraya menundukkan kepalanya dengan air mata bercucuran.


“GA ADA SATU PUN YANG BOLEH MUNDUR!” tiba-tiba Angga datang mengejutkan Aulia dan Aliya.


“MAS ANGGA!” ucap Aliya dan Aulia kompak.


Angga lalu menghampiri kedua istrinya itu. Angga merangkul Aliya dan Aulia secara bersamaan.


“Sampai kapan pun, kalian akan tetap menjadi istri-istri Mas, Mas ga akan pernah menceraikan salah satu dari kalian. Mas akan selalu mencoba untuk tetap bersikap adil kepada kalian berdua!” tegas Angga sambil mencium kening Aliya dan Aulia secara bergantian. Angga lalu menangis.


“Makasih ya Mas,” ucap Aliya dan Aulia secara bersamaan.


Angga kemudian tersenyum dan mencubit pelan pipi Aliya dan Aulia bergantian. “Gitu dong kompak, kan enak di liatnya,” ledek Angga.


“Tapi ngomong-ngomong Mas kok balik lagi?” tanya Aliya yang menatap lekat kedua bola mata Angga.


Angga menepuk pelan jidatnya sendiri, “Astagfirullahaladzim, Mas sampai lupa. Laptop Mas ketinggalan di kamar.”


“Yaudah kalau gitu biar aku aja yang ambilin!” pinta Aulia yang langsung berdiri.


Halo-halo guys, harap bersabar ya bentar lagi ending kok,🤗 tapi ga tau berapa episode lagi 😁😁


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,


IG : @febiayeni21

__ADS_1


FB : Febi Ayeni


__ADS_2