
Laura berjalan memasuki kamar Aliya dan kemudian mengambil ponsel Aliya yang tergeletak diatas tempat tidur. Laura lalu membuka tempat penyimpanan video di ponsel Aliya dan melihatkan video diwaktu Randy berada di butik.
Chika menutup mulutnya karena terkejut, “apa lo kenal wanita itu siapa? Apa dia saudara Randy?” tanya Laura yang dijawab dengan gelengangan kepala dari Chika.
“Punya alasan apa lagi lo buat bela-belain laki-laki brengsek itu?” tanya Laura lagi yang membuat Chika benar-benar tak mampu menjawab semua pertanyaan Laura.
“Sekarang gue tanya sama lo, apa gue harus berikan dia kesempatan lagi setelah semua rasa yang gue punya dia hancurkan gitu aja?” tanya Laura dengan air mata yang kembali terjatuh untuk kesekian kalinya.
Laura kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya meninggalkan Chika yang masih di luar.
“Ra, Ra gue yakin kok yakin ga sejahat itu, dia sayang banget sama lo Ra.” Teriak Chika sambil menggedor-gedor pintu kamar Laura.
“Ra tolong Ra izinin Randy buat jelasin semuanya dulu Ra!” pinta Chika, Laura akhirnya membuka pintu kamarnya.
“Mau jelasin kalau dia mau nikah sama cewek itu?” tanya Laura sambil menepis air matanya dengan kasar.
Chika memegang kedua tangan Laura, “gue yakin Randy ga sejahat itu sama lo,” ucap Chika.
“Chik, sekarang jelasin ke gue kenapa harus lo yang mohon-mohon kayak gini ke gue kenapa ga dia aja?” tanya Laura yang membuat Chika sejenak terdiam.
“Udah deh Chik gue capek mikirin ini mulu, gue mau tidur.” Tegas Laura yang kemudian melepaskan genggaman tangan Chika.
“Ra, Randy sayang banget sama lo,” ucap Chika yang membuat langkah kaki Laura terhenti.
“Sayang aja disakitin gimana kalau ga?” tanya Laura yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju tempat tidurnya.
Chika benar-benar tak bisa berkutik lagi. Chika kemudian merebahkan tubuhnya di samping Laura.
Keesokan harinya...
“Ra, gue pulang dulu ya!” pinta Chika.
“HM,” Laura hanya berdehem ketus.
Chika pun akhirnya pergi meninggalkan Laura yang sedang mengikat tali sepatunya. Setelah beberapa saat Chika pergi meninggalkannya, Laura pun memutuskan untuk segera pergi jogging ke taman tempat biasanya ia jogging. Baru sekitar 15 menit ia jogging, Laura pun duduk di kursi taman yang sudah menjadi kursi favoritnya duduk.
“*Siapa lo, mau lo apain adik gue?”
“Randy.”
“Gue Randy, tadi lo kan nanya nama gue,”
“Gue ga nanya nama lo,”
“Pagi tulang rusukku Laura,”
__ADS_1
“Pagi juga sumsum tulang belakang ku,”
“Rempong banget sih lo Ran, suka-suka gue dong mau komunikasi pakai apa.”
“Sekalian aja pakai asap lo komunikasinya Ra!”
“Iya nanti kalau lo udah jadi arwah baru gue komunikasi sama lo dari asap, asap dukun.”
“Ra, gue sengaja ngomong di depan banyak orang gini Ra, biar lo tau gue benaran sayang sama lo Ra.”
“Ra, lo mau kan jadi pacar gue?”
“Ngomong sama lo buat gue pusing.”
“Pusing tapi romantis kan?”
“Simpan aja gombalan lo di kulkas gue ga butuh,”
“Dingin dong nanti gombalan gue?”
“Bodo amat*.”
Semua kebersamaan Laura dan Randy kembali muncul di benak Laura yang membuat Laura sangat kesal. Seketika Laura kemabali menangis lagi mengingat semua kenangan itu.
“AAAGGHH, GUE BENCI SAMA LO RAN, GUE BENCI!” tanpa sadar Laura berteriak sehingga membuatnya menjadi pusat perhatian orang-orang di taman.
Laura benar-benar sudah tak peduli dengan orang sekitarnya yang memandangnya dengan tatapan-tapapan aneh. Tiba-tiba ada seorang wanita cantik yang datang mendekatinya. Wanita tersebut duduk disamping Laura sambil mengelus punggung Laura.
“Are you ok?” tanya wanita tersebut.
“Gue benci sama hidup gue sendiri, gue benci.” Jawab Laura yang masih menundukkan kepalanya.
“Kamu ga boleh ngomong gitu, semua orang pasti punya masalah dan lo harus bisa nyelesaikan masalah lo dengan tenang.” Ucap wanita tersebut dengan sangat lembut.
“Lo ga tau betapa hancurnya hidup gue, lo juga ga tau gimana sakitnya ketika orang yang lo sayang mau menikah dengan wanita lain, dan wanita itu sedang ngandung?” tanya Laura yang masih menundukkan.
“Apa lo tau gimana sakitnya?” tanya Laura yang perlahan menaikkan kepalanya untuk melihat wanita yang sedang bersamanya. Laura benar-benar terkejut ketika melihat wanita tersebut yang tak lain adalah Raisa calon istri Randy.
Laura kembali menangis dengan dada yang begitu sesak melihat Raisa yang duduk disampingnya, “apa lo tau?” tanya Laura yang benar-benar tak menyangka akan bertemu langsung dengan Raisa saat ini.
Laura kemudian berdiri, “terimakasih nasehat lo, gue mau pulang!” tegas Laura yang berpura-pura tidak kenal dengan Raisa, wanita yang menjadi pilihan Randy.
Laura kemudian berlari meninggalkan Raisa sendirian di kursi tersebut. Hingga pada akhirnya tak terasa Laura sampai di rumahnya. Laura masuk tanpa mengucapkan salam sama sekali, Aliya dan Echa yang sedang menyiapkan sarapan kebingungan melihat Laura yang masuk tanpa salam dan dengan air mata yang mengalir dipipinya. Aliya yang khawatir dengan Laura pun langsung menghampiri Laura.
“Kak, are you ok?” tanya Aliya khawatir.
__ADS_1
Laura langsung memeluk erat tubuh Aliya dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.
Aliya melepaskan pelukan Laura, “Kak, kakak duduk dulu ya!” pinta Aliya yang kemudian mengajak Laura untuk duduk di ruang tamu.
Tak lupa Aliya juga mengambilkan segelas air putih untuk membantu merilekskan Laura. “Kak minum dulu!” perintah Aliya yang kemudian duduk disamping Laura.
Laura meneguk air putih yang barusan Aliya berikan. Laura kemudian mengatur napasnya lalu berkata, “gue ketemu Raisa calon istri Randy di taman.” Ucap Laura dengan mata yang mulai berkaca-kaca lagi.
“What? Kakak serius?” tanya Aliya yang sangat terkejut, Laura menganggukan kepalanya dan kemudian kembali memeluk tubuh Aliya.
“Gue ga tau kenapa dia tiba-tiba ada disitu Al,” ucap Laura yang kembali menangis, “kalau gue tau dia ada disana gue ga bakalan jogging hari ini Al.” Lanjut Laura.
Angga yang penasaran dengan pembicaraan Aliya dan Laura pun berinisiatif untuk membawa nasi goreng miliknya ke tempat Laura dan Aliya. Melihat Aliya yang sudah mau meneteskan air matanya, tiba-tiba Angga menyodorkan sesendok nasi ke bibir Aliya. Kelakuan Angga sontak menggagalkan air mata Aliya untuk jatuh.
Aliya tersenyum, “Mas Angga, jangan ganggu dulu ngapa sih!” perintah Aliya yang kesal dengan Angga yang telah membuatnya gagal untuk menangis. Mendengar Aliya sedang berbicara dengan Angga membuat Laura seketika melepaskan pelukan.
“Udahlah ga Laura cowok kayak Randy ngapain sih ditangisi terus, mubazir tu air mata kakak jatuh terus, mending air matanya kakak simpan biar jadi barang antik.” Ucap Angga dengan sangat santai.
Mendengar ucapan Angga Laura sontak menghapus air matanya dan kemudian mengambil nasi goreng milik Angga lalu memakannya.
“Yaah, kak Laura kok diambil sih?” tanya Angga kesal.
“Siapa suruh lo gangguin gue curhat,” jawab Laura ketus.
“Untung aja kakak ipar, kalau ga udah guee...” ucapan Angga terhenti saat Laura langsung menyambar ucapannya, “ kalau ga udah apa?” tanya Laura ketus.
“Ya gue, ya guee...” jawab Angga yang mulai kebingungan harus jawab apa dan untung saja Aliya langsung melanjutkan ucapan Angga yang belum selesai, “Udah-udah berantem mulu, biar aku aja yang ambilin nasi goreng Mas yang baru.” Sahut Aliya.
“Nah benar tuh yank,” jawab Angga dengan senyuman.
Laura yang melihat Aliya dan Angga sudah mulai keluar perlakuan-perlakuan romantis, Laura langsung buru-buru mengahabiskan sarapannya. “Udah ah gue mau mandi dulu, males banget liat kalian berdua yang mau pacaran.” Ucap Laura ketus sambil membawa piring miliknya ke dapur.
“Makanya kak buruan nikah!” teriak Angga dengan nada-nada ejekkan.
“Bodo amat,” sahut Laura ketus.
Sorry typo ya guys👍😁
Selamat menjalankan ibadah puasa ya guys bagi yang mengerjakan dan saya mohon maaf ya sebesar-besarnya karena sering buat emosi kalian naik turun, hehe😁😁.
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,😉
IG : @febiayeni21
__ADS_1
FB : Febi Ayeni