
Dengan sangat terpaksa Angga dan Aulia kembali ke tempat duduknya masing-masing. Aliya tersenyum bahagia melihat Aulia dan Angga akhirnya menuruti permintaannya.
“Mas, Mbak,” Aliya menatap kedua bola mata Angga dan Aulia secara bergantian. Aliya kemudian menggenggam tangan kiri Aulia dan tangan Angga.
“Aliya sayang banget sama kalian berdua,” jeda Aliya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, “jujur Aliya kecewa saat tau kisah kalian dulu. Aliya juga cemburu. Tapi, Aliya percaya sama Mas Angga dan Mbak Aulia.” Aliya tersenyum.
Aliya lalu melepaskan genggamannya. Aliya kemudian mengambil sebuah amplop coklat dari tasnya dan meletakkannya di atas meja. Angga menatap sejenak wajah Aliya dan kemudian membuka isi amplop tersebut.
“Awalnya Aliya ga mau kasih tau penyakit ini sama siapa pun,” Aliya tak kuasa menahan tangisnya, “hikss, itu sebabnya Aliya pergi menghilang begitu aja tepat di hari Mbak Aulia kecelakaan.”
Angga yang tak tega melihat istrinya bersedih seperti ini langsung mendekap tubuh Aliya.
“Maafin Aliya ya Mas,” ucap Aliya.
“Kamu ga salah kok, aku yang harusnya minta maaf ke kamu, karena aku gagal jagain kamu.” Sahut Angga yang ikutan menangis.
“Kalian bahas apa sih?” tanya Aulia yang masih tak mengerti.
Aulia kemudian mengambil amplop tersebut. Kedua bola mata Aulia seketika terbelalak melihat isi dari kertas tersebut.
“HAH? LEUKEMIA STADIUM 3?” Aulia benar-benar terkejut melihat hasil tes tersebut.
Angga lalu melepaskan pelukannya. Angga kemudian memegang kedua tangan Aliya, “sayang, kamu pasti sembuh kok, aku yakin.”
“Aliya kenapa kamu baru kasih tau kita sekarang?” tanya Aulia yang begitu khawatir dengan kondisi Aliya saat ini ditambah lagi Aliya sedang mengandung.
“Aliya juga baru tau Mbak,” Aliya menghapus air matanya, “waktu itu....”
Flashback on,
“Hiks hiks kenapa Mas Angga setega itu ke aku?” Aliya menangis sejadi-jadinya di sebuah taman yang ia yakin Angga tak akan mengetahuinya.
“ALIYA?” tanya Chika yang tiba-tiba datang dari belakangnya.
Aliya kemudian buru-buru menghapus air matanya. “Kak Chika kok disini?” tanya Aliya basa-basi.
__ADS_1
Chika tersenyum, “iya kita lagi jalan-jalan aja sih,” jawab Chika sambil menggandeng tangan kanan Rizky.
Chika kemudian duduk disamping Aliya, “kamu habis nangis ya?” tanya Chika.
“Enggak nggak kok kak siapa bilang?” tanya Aliya ngeles.
Chika lalu mencolek dagu Aliya, “udah deh ga usah bohong, kamu nangis kenapa?”
Aliya menundukkan kepalanya, “Cuma ada konflik rumah tangga sedikit aja kok kak,” jawab Aliya.
Chika kemudian menyandarkan kepala Aliya ke bahunya. Chika mengelus lembut kepala Aliya. “Aliya, apapun masalah kamu, kamu harus ingat kalau kamu ga boleh stres apalagi kamu lagi ngandung, ga baik terlalu banyak pikiran disaat mengandung gitu.” Ucap Chika yang justru membuat Aliya semakin sedih.
“Hikss!! Hikss!!”
“Kalau dengan menangis bisa buat kamu lebih tenang, ga apa-apa nangis aja terus sampai sesak di dada kamu hilang!” pinta Chika yang terus-menerus mengelus kepala Aliya.
Rizky yang hanya menjadi penonton setia tak dapat berkutik apa-apa. Hingga pada akhirnya Rizky melihat darah yang keluar dari hidung Aliya.
“Aliya, kamu mimisan!” tegas Rizky to the point.
“ALIYA!” pekik Chika, “yank ayo bawa Aliya ke rumah sakit!” pinta Chika.
Dengan sigap Chika dan Rizky langsung membawa Aliya ke rumah sakit. Sudah setengah jam Aliya berada di dalam ruangan IGD. Namun, dokter yang menangini Aliya belum juga keluar. Chika hanya dapat berdoa untuk keselamatan Aliya dan janin yang ada di perutnya. Ya, Chika hanya sendirian disini, sebab Rizky ikut masuk ke ruangan IGD. Kebetulan Rizky dokter spesialis di rumah sakit ini. Hanya saja Rizky ambil cuti hari ini. Namun, karena Aliya sedang membutuhkan bantuannya, Rizky langsung membantunya. Biar bagaimana pun juga keluarga Aliya sudah seperti keluarganya sendiri.
Tak lama setelah itu Rizky dan semua tenaga medis pun keluar. Mereka sudah menyerahkan tugas ini kepada Rizky, sebagai seorang dokter sekaligus kerabat dekat Rizky.
“Sayang!” panggil Rizky yang melihat Chika gelisah di tempat duduknya.
Chika kemudian berdiri, “bagaimana kondisi Aliya? Janinnya baik-baik aja, kan?” tanya Chika bertubi-tubi.
“Kita bicarain di dalam aja ya, kasian Aliya sendirian!” pinta Rizky seraya merangkul pundak Chika. Chika mengangguk.
Aliya ternyata sudah sadar. Chika dan Rizky lalu duduk didekatnya.
Chika lalu memegang tangan kiri Aliya yang dibaluti selang infus. “Aliya, kamu ga apa-apa, kan?” tanya Chika dengan suara yang sangat lembut.
__ADS_1
Aliya tersenyum kecut, “kepala Aliya masih sakit kali kak.”
“Oh iya sampai lupa, kita telpon Angga aja ya!” pinta Chika yang langsung mengambil ponselnya.
Spontan Aliya langsung menahan tangan Chika, “Kak tolong jangan kasih tau Mas Angga dulu!” pinta Aliya dengan tatapan penuh harapan itu.
Chika dan Rizky bertatapan beberapa detik setelah mendengar permintaan Aliya.
“Yaudah kalau gitu,” jawab Rizky.
“Aliya, sampai kapan kamu sembunyiin ini semua dari Angga?” tanya Rizky yang menimbulkan tanda tanya besar dipikiran Aliya bahkan Chika pun terkejut saat mendengar pertanyaan suaminya itu. Bagaimana tidak? Pertanyaan yang Rizky lontarkan kepada Aliya membuat Aliya seakan-akan Aliya punya rahasia besar terhadap Angga. Bahkan Rizky tak pernah menceritakan apapun kepadanya.
“Maksud Kak Rizky?”
“Maksudnya Mas?”
“Huff,” Rizky lalu menatap tajam kedua bola mata Aliya. Rizky tak percaya bahwa Aliya memang belum mengetahui ini semua. Namun, kegelisahan yang terpancar dari mata beningnya itu seakan-akan berkata, “aku takut dengan ini semua”.
Chika menatap raut wajah Rizky dan Aliya secara bergantian, “Ada apa ini? Apa yang sebenarnya yang mereka sembunyikan? Mengapa Mas Rizky tak pernah menceritakan apapun kepadanya? Dan kenapa Aliya lebih terbuka dengan Mas Rizky dari pada aku?” pertanyaan-pertanyaan itu melayang-layang dipikiran Chika saat ini.
“Apa jangan-jangan... Ah ga mungkin, aku kenal Aliya dan Mas Rizky. Tapi, tatapan itu aneh. Ya Allah, semoga ini hanya negative thinking ku aja.” Keanehan-keanehan itu membuat Chika justru terus berprasangka buruk terhadap suaminya sendiri.
Ada yang masih ingat Rizky dokter spesialis apa?
Kira-kira jika kalian di posisi Chika, bakalan berpikiran seperti itu ga?
Eh btw aku minta maaf ya baru sempat up hari ini🙏🙏
Dan terimakasih ya kalian semua masih setia dengan novel ini😊
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,
IG : @febiayeni21
__ADS_1
FB : Febi Ayeni