Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 145


__ADS_3

Angga menaikkan kepalanya, menatap sejenak wajah cantik Aliya dan kemudian melihat Laura yang berada disampingnya. Angga juga menatap wajah Dimas yang terlihat sedang bersedih. Dimas kemudian tersenyum menatap Angga.


“Angga,” ucap Dimas sambil menginstruksikan agar Angga tersenyum.


Dengan paksa Angga pun tersenyum dan kemudian menjabat tangan Dimas. Aliya yang melihat tangan Angga dan Dimas berjabatan seperti ini, membuat Aliya hanya mampu memejamkan matanya. Ingin sekali rasanya saat ini juga ia menjadi tuli agar ia tak mendengar suatu hal yang akan keluar dari bibir Angga.


“Saya nikahkan dan kawinkan engkau Angga Al Farabi bin Farabi dengan adik kandung saya Laura Salshabila Wijaya binti Panji Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!” ucap Dimas dengan sangat tegas. Mendengar Dimas melontarkan kata-kata yang sudah siap membuatnya jatuh ke dalam luka dalam.


Angga menarik napas singkat, “saya terima nikahnya,” sejenak Angga terhenti ketika ia melihat Aliya tengah memejamkan matanya untuk menahan tangis.


Semua hadirin sontak menyorotkan pandangannya kepada Angga. Dewi juga ikut terkejut melihat tingkah Angga yang membuat semua orang bertanya-tanya.


“Angga, kamu kenapa?” tanya Dewi dengan nada berbisik.


“Angga ga apa-apa kok Ma,” jawab Angga yang kembali menatap kedua bola mata Dimas.


“Yaudah kita ulang ya!” pinta Dimas yang kemudian kembali menjabat tangan kanan Angga.


“Saya nikahkan dan kawinkan engkau Angga Al Farabi bin Farabi dengan adik kandung saya Laura Salshabila Wijaya binti Panji Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!” ucap Dimas dengan sangat tegas.


“Huufff,” Angga membuang napas paniknya, “saya terima nikahnya Aliya Salshabila Wijaya binti Panji Wijaya,” lagi-lagi Angga membuat semua orang semakin bertanya-tanya.


Para hadiri kini tidak hanya meperhatikan Angga saja namun Aliya juga, sebab Angga menyebutkan nama Aliya bukan Laura. Angga yang menyadarinya cepat-cepat menjabat tangan Dimas.


“Kak ulang sekali lagi!” pinta Angga yang spontan membuat Aliya benar-benar sedih. Air mata Aliya kini sudah menetes membasahi pipinya sendiri.


“Saya nikahkan dan kawinkan engkau Angga Al Farabi bin Farabi dengan adik kandung saya Laura Salshabila Wijaya binti Panji Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!” ucap Dimas untuk yang ketiga kalinya.


“Saya terima nikahnya Laura Salshabila Wijaya binti Panji Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tuu...” Angga tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika ia melihat air mata yang mengalir dipipinya Aliya mengalir begitu deras.


Angga melepaskan genggaman tangannya dari Dimas, dan kemudian menatap Laura yang berada disampingnya juga melakukan hal yang sama dengan yang Aliya lakukan yaitu menangis. Angga langsung sungkeman di hadapan Dewi. “Ma, Angga minta maaf, Angga ga bisa menikahi Laura!” pinta Angga dengan air mata yang mengalir dipipinya.


“Angga minta maaf Ma, Angga ga bisa nyakitin Aliya lagi, selama ini hanya Aliya yang mampu buat hati Angga luluh.” Ucap Angga yang sangat-sangat merasa terpukul saat ini.


“Angga minta izin sama Mama dan Papa untuk menikahi Aliya bukan Laura!” pinta Angga.

__ADS_1


Dewi mengelus kepala Angga, “Mama dan Papa ga bisa ngambil keputusan ini Ngga, yang hanya bisa ngambil keputusan ini adalah Aliya dan Laura.” Jawab Dewi yang sangat terharu dengan keputusan Angga.


Angga menghapus air matanya dan mengahadap Laura. “Ra, gue minta maaf, gue ga bisa nikahin lo, mungkin ada laki-laki diluar sana yang jauh lebih baik dari gue dan Randy.” Ucap Angga dengan menangkupkan kedua tangannya.


“Gue mohon sama lo Ra izinin gue menikahi Aliya!” pinta Angga dengan air mata yang masih mengalir dipipinya.


Laura kemudian tersenyum, “terimakasih Ngga, lo udah lepasin gue tanpa harus gue minta.” Jawab Laura sambil menghapus air matanya, “lo harus jaga Aliya, jangan pernah sakiti dia. Buat dia percaya bahwa senyum di akhir cerita bukan mitos baginya!” pinta Laura yang kemudian berdiri untuk menjemput Aliya.


Kini Aliya sudah duduk dihadapan Angga dengan isak tangis yang tak henti-hentinya.


“Al, gue tau kata-kata gue kamaren sangat nyakiti lo, tapi setelah gue dengar ungkapan hati lo lewat lagu yang lo nyanyikan di cafe move on dan curhatan lo sama kak Dimas, buat gue semakin percaya bahwa kata-kata lo malah itu bohong, lo hanya ingin melihat Laura tersenyum kembali.” Ucap Angga yang membuat hadiran ikut menangis mendengarnya.


“Gue juga tau bahwa sebenarnya Laura benar-benar ingin menolak, tapi permintaan lo buat ia tak bisa berkutik,” lanjut Angga yang berkali-kali menepis air matanya.


“Al, tak ada hati yang ingin terluka dan tak ada kebahagian karena keterpaksaan. Aliya, izinkan aku untuk menjadi penawar lukamu dan izinkan juga aku untuk membuatmu bahagia!” pinta Angga memohon sambil menundukkan kepalanya.


Aliya tersenyum penuh haru, “peluang kedua?” tanya Aliya.


Angga menggangkat kepalanya dan sontak membuatnya begitu bahagia, sehingga tanpa sadar ia hampir memeluk Aliya yang sontak membuat hadirin langsung bersorak.


“Kak, yuk lanjut!” pinta Angga kepada Dimas dengan senyuman termanisnya.


Angga dan Dimas pun akhirnya kembali berjabat tangan untuk kesekian kalinya, “awas lo salah lagi ya, lo kira napas gue ga tersengal-sengal nyebut nama kalian!” tegas Dimas yang membuat Angga terkekeh.


“Iya iya, Insyaallah kali ini ga lagi.” Jawab Angga tersenyum.


“Saya nikahkan dan kawinkan engkau Angga Al Farabi bin Farabi dengan adik kandung saya Aliya Salshabila Wijaya binti Panji Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!” ucap Dimas tegas.


“Saya terima nikahnya Aliya Salshabila Wijaya binti Panji Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAI.” Jawab Angga dengan satu tarikan napas.


“Bagaimana saksi sah?”


“SAH”


“Alhamdulillah,”

__ADS_1


Suasana haru pagi ini membuat Aliya dan Angga sangat-sangat bahagia. Setelah menjalani lika-liku perjalanan cinta mereka akhirnya resmi menjadi suami istri. Senyum bahagia terlukis manis dibibir Aliya, Angga maupun Laura.


****


“Kak, ada yang nyariin kakak tuh.” Ucap Aliya mengejutkan Laura yang tengah asik berbaring di atas tempat tidurnya.


“Siapa Al?” tanya Laura yang kemudian bangkit dari tidurnya.


“Kak Chika,” jawab Aliya singkat.


“Hah, Chika?” tanya Laura terkejut, “mau ngapain dia, tumben?” tanya Laura lagi. Aliya hanya menaikkan pundaknya bertanda bahwa ia juga tidak tau.


Laura pun langsung mengambil jilbab instannya dan memakainya. Laura menuruni satu persatu anak tangga dengan langkah pelan. Chika yang menyadari akan kedatangan Laura spontan langsung berjalan pelan menghampiri Laura. Chika berjalan dengan langkah yang belum sempurna sebab otot-ototnya masih sangat kaku. Laura yang melihat Chika sedikit kesulitan dalam berjalan dengan cepat langsung mempercepat langkah kakinya.


“LAURA,” ucap Chika yang langsung memeluk tubuh Laura.


“Lo udah sembuh?” tanya Laura yang kemudian melepaskan pelukan Chika.


“Seperti yang lo liat Ra,” jawab Chika yang kemudian tersenyum.


Laura yang mengerti bahwa Chika tak mungkin bisa berdiri lama langsung menginstruksikan Chika agar segera duduk di sofa.



Ini ANGGA dan ALIYA ya guys, sengaja ga ngasih visualnya dari awal biar ga ada yang curiga. 😁


Gimana guys pendapat kalian, masih mau marah-marah lagi, mau pergi lagi kayak judul novelnya? 🤔


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,😉


IG : @febiayeni21


FB : Febi Ayeni

__ADS_1


__ADS_2