
****
Ting
Handphone Laura berbunyi singkat tanda ada new message.
💬Randy
Ra, malam ini bisa dinner ga? 17.22 ✔️✔️
“Duh gimana nih?” tanya Laura pada dirinya sendiri sambil memegang kepalanya. Aliya yang mmelihat Laura sedang kebingungan, tanpa pikir panjang langsung masuk ke kamar Laura.
Aliya duduk di ranjang Laura dengan menjulurkan kakinya ke lantai. “Kakak kenapa?” tanya Aliya.
Laura yang berbaring pun langsung mengubah posisinya untuk melihat wajah Aliya dengan jelas. “Al, Randy ngajak dinner.” Ucap Laura dengan tatapan sayu.
“Lah bagus dong kak,” jawab Aliya tersenyum.
“Tapi kakak gimana cara izinnya ke mama, masa iya harus bohong lagi?” tanya Laura dengan melipat kedua tangannya di perut. Laura kini duduk menghadap Aliya.
“Kak, mulai sekarang kakak harus jujur dengan perasaan kakak sendiri ke mama, cepat atau lambat mama harus tau kak, dan Aliya juga yakin kalau kak Randy itu laki-laki gentleman, kak Randy ga kan mau terus-terusan main kucing-kucingan gini sama mama.” Ucap Aliya yang kemudian tersenyum.
“Huuff, kakak coba dulu ya. Apapun yang akan terjadi kakak akan tanggung resikonya,” jawab Laura tegas.
“Gitu dong baru namanya kak Laura,” Aliya kembali tersenyum melihat Laura yang tidak lesu lagi.
“Makasih ya Al, kamu selalu ada buat kakak,” ucap Laura yang kemudian memeluk tubuh Aliya.
“Iya sama-sama kak, kita kakak adik jadi sudah seharusnya saling membantu,” jawab Aliya tersenyum.
Laura melepaskan pelukannya, “yaudah kalau gitu, kakak balas chat Randy dulu oke!” pinta Laura yang kemudian mengambil handphonenya.
💬Laura
Bisa kok Ran, tapi lo izin sama mama gue ya! 17.33✔️✔️
💬Randy
Oke 👌 17.35 ✔️✔️
💬Randy
__ADS_1
Gue jemput jam 8 malam ya, 17.35 ✔️✔️
💬Laura
Oke 👌 17.35✔️✔️
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.45 WIB, tapi Randy sudah sampai di rumah Laura.
“Tan, Randy boleh ajak Laura dinner kan?” tanya Randy.
“Boleh, tapi jangan malam-malam amat pulangnya ya!” pinta Echa.
Tak lama kemudian Laura pun turun dari tangga dengan menggunakan gamis warna army. Toresan make up natural yang Laura kenakan menambah kecantikan Laura secara alami. Randy yang melihat Laura sedang menuruni satu persatu anak tangga terlihat begitu terpesona dengan kecantikan Laura malam ini.
“Ma, Laura pergi dulu ya, Assalammu’alakum.” Ucap Laura sambil mencium punggung tangan Echa.
“Iya Wa’alaikumsalam, jangan kemalaman pulangnya ya Ra!” pinta Echa.
“Iya Ma,” jawab Laura tersenyum, “yuk Ran berangkat!” ajak Laura yang sudah berjalan duluan.
“Tan, Randy pergi dulu ya, Assalammu’alakum.” Ucap Randy berpamitan.
“Wa’alaikumsalam, hati-hati ya Ran, jagain Laura juga.” Ujar Echa tersenyum.
15 menit kemudian Randy menghentikan mobilnya tepat di parkiran cafe move on. Laura berjalan berdampingan dengan Randy, romantis bukan? hanya saja mereka tidak bergandengan tangan sebab mereka sama-sama tau bahwa mereka bukan mahram.
Randy yang sama sekali tidak memberitahu Laura bahwa mereka akan dinner dengan keluarga Randy pun nyaris membuat jantung Laura berdetak tak beraturan. Namun, Laura sudah tak mampu lagi menghindarinya sebab ia sudah sampai di meja tempat mama dan papa Randy menunggu. Melihat mama Randy yang tersenyum padanya, membuat Laura tak tau harus berprasangka seperti apa. Entah ini kabar baik atau justru malah sebaliknya.
Laura menyalam tangan Tika yang kemudian membalas senyum Tika. Kejadian beberapa tahun silam masih membuat Laura trauma. Laura berharap senyum Tika malam ini benar-benar tulus kepadanya.
“Silahkan duduk!” pinta Tika tersenyum.
“Terimakasih tan,” jawab Laura tersenyum.
“Ohh jadi ini wanita yang buat kamu galau kemaren Ran,” ledek Tika sambil memotong daging steak miliknya.
“Sstt, Mama.” Tegas Randy sambil meletakkan jari telunjuk dibibirnya.
“Emm, nama kamu siapa?” tanya Tika sambil mengingat-ingat wajah Laura.
“Laura tante,” jawab Laura.
__ADS_1
“Nah iya Laura, tante sampai lupa. Maklum aja ya udah tua,” ucap Tika terkekeh. Laura hanya tersenyum menanggapi ucapan Tika.
“Laura kamu tau ga Randy ini anaknya susah banget diatur, tapi tante perhatiin akhir-akhir ini dia justru jauh lebih baik lagi, padahal tante ga ada nyuruh gitu.” Ucap Tika dengan menatap kedua bola mata Laura.
“Ternyata kamu penyebab, pantasan aja Randy berubah, secara tante paham betul cewek sehebat kamu mana mungkin mau sama cowok petakilan kayak Randy,” lanjut Tika memuji Laura.
“Mama,” tegur Randy malu.
“Sampai-sampai ni ya Ra, shalat yang dulunya males banget, sekarang malah rajin banget, bisa-bisa kalau kamu jadi mantu tante entar si Randy malah jadi ustadz lagi.” Ucap Tika tanpa memperdulikan teguran Randy sama sekali.
Laura tersenyum, “Tante terlalu berlebihan muji Laura, Randy berubah bukan karena Laura kok tan, tapi Randy berubah karena ia memang sadar bahwa yang ia cari sebenarnya ada di langit bukan di bumi, bumi hanya tempat kita meminta, semua keinginan Randy dan kita semua adanya di langit. Tinggal bagaimana caranya kita mendapatkan apa yang kita inginkan tersebut.” Jawab Laura dengan sangat bijak.
“Randy itu jauh lebih dewasa dari Laura, hanya saja Randy ga pernah sadar aja tan. Justru Laura yang banyak belajar dari Randy, karena Randy masih bisa tersenyum meskipun hatinya sedang terluka. Laura tau kok laki-laki memang tak pernah ingin terlihat bersedih, tapi Randy benar-benar beda, Randy bisa mengambil sikap dengan sangat bijak.” Lanjut Laura tersenyum.
“Lo salah Ra, gue ini ga seperti yang lo lihat, gue belum cukup bijak dalam mengambil sikap, buktinya gue masih sulit mengontrol emosi gue.” Jawab Randy sambil melirik Laura.
“Yaudah yaudah dari pada ribut terus mending kalian tentuin aja kapan tanggalnya!” pinta Tika sambil memotong daging steak miliknya.
Laura terkejut saat Tika mengatakan masalah tanggal, “tanggal? Maksudnya?” tanya Laura kebingungan.
“Randy udah deh ga usah buang-buang waktu mulu, mama sama papa itu udah pengen nimang cucu!” tegur Tika dengan menatap kedua bola mata Randy.
“Ya Allah Ma, Randy itu udah pengen juga, tapi tanya dulu sama orangnya dia mau ga?” tanya Randy santai.
Tika mengubah posisi duduk menjadi menghadap Laura. Laura yang tak ingin terlihat tidak sopan langsung memutar kursinya menghadap Tika. Tika memegang kedua tangan Laura.
“Laura, tante tau kamu pasti masih trauma dengan kejadian beberapa tahun lalu kan?” tanya Tika dengan menatap dalam kedua bola mata Laura.
“Tante minta maaf udah menjadi penghalang dalam hubungan kalian berdua. Tante tau pasti sulit bagi kamu...” ucapan Tika terhenti saat Laura langsung menyambar ucapan Tika.
“Tan, Laura udah maafin tante kok, tante ga usah mikirin masalah itu lagi ya, semuanya sudah berlalu.” Ucap Laura tersenyum.
Oke guys segini dulu ya, 😉
Sorry kalau typo🙏🙏
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
Jangan lupa di follow ya teman,😉
IG : @febiayeni
__ADS_1
FB : Febi Ayeni