Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 30


__ADS_3

“Makasih ya yank kamu udah ngertiin aku,” ucap Aliya seraya tersenyum.


Aliya lalu melepaskan genggaman tangan Angga, “tapi aku harus selesaikan masalah sama Dona dulu,” ucap Aliya yang langsung turun dari mobil.


Angga seketika langsung turun mengejar Aliya, karena Angga curiga bahwa Aliya akan ribut dengan Dona lagi. Saat Angga baru turun, tiba-tiba tali sepatunya lepas.


“ALIYA TUNGGU!” pekik Angga seraya mengikat tali sepatunya.


Angga lalu berlari mengejar Aliya yang sudah tak terlihat lagi dari kejauhan. Angga memasuki cafe namun, Angga tak menemui Aliya maupun Dona dan Dimas didalam.


Angga meremas rambutnya, “ya Allah Al, kamu dimana sih?” tanya Angga pada dirinya sendiri.


Angga kemudian keluar cafe dengan pikiran yang bercabang-cabang. Angga lalu berjalan menuju mobilnya berharap Aliya sudah kembali. Namun, langkah Angga terhenti ketika melihat dua orang wanita sedang berpelukan di parkiran bagian ujung. Tanpa berpikir panjang Angga langsung bergegas untuk memastikan bahwa salah satu dari dua wanita itu adalah Aliya istrinya.


“ALIYA!” teriak Angga. Ternyata dugaan Angga benar, salah satu dsri dua wanita itu tak lain adalah Aliya.


Dimas lalu menghampiri Angga, “udah Ngga, biarin aja mereka!” perintah Dimas.


“Tapi mereka ga berantem kan kak?” tanya Angga penuh dengan kekhawatiran.


Dimas menepuk pelan pundak Angga, “seperti yang lo liat sekarang.”


“Alhamdulillah ya Allah,” Angga mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


“Al, maafin gue ya!” pinta Dona dengan suara yang mulai parau akibat kelamaan menangis, “gara-gara gue lo emosi, ucapan gue tadi benar-benar keterlaluan, ga seharusnya gue ngomong kayak gitu ke lo.”


Aliya melepaskan pelukannya. Aliya lalu menggenggam kedua tangan Dona, “lo ga salah kok Don, guenya aja yang terlalu baperan.”


Dona menggelengkan kepalanya, “ga Al, gue salah sama lo Al, lo berhak marah ke gue,” bantah Dona yang kembali menangis.


Dona lalu mengangkat tangan kanan Aliya dan memukulkan tangan Aliya ke pipinya, “TAMPAR GUE AL TAMPAR!” perintah Dona.


Hanya isak tangis yang keluar dari bibir Aliya. Bahkan, Aliya tak mampu menatap kedua bola mata Dona.


“AL, AYO TAMPAR GUE!”


“KENAPA LO DIEM AJA?”


“DONA CUKUP!!!” dengan sangat terpaksa Aliya melepaskan tangan Dona yang terus memaksanya untuk menampar pipi Dona.


Aliya lalu memengang pipi Dona dengan kedua tangannya, “Don, lo sahabat gue, lo juga kakak ipar gue. Gue ga mungkin lakuin itu.”

__ADS_1


“Gue minta maaf Don, candaan gue tadi jadi buat lo berpikir yang aneh-aneh,” Aliya lalu memeluk erat tubuh Dona.


Tangis Dona pecah, “huuuu... Makasih ya Al, lo udah jadi sahabat sekaligus adek ipar yang baik buat gue,” ucap Dona sambil melepaskan pelukannya.


Melihat Aliya dan Dona sudah berdamai, Angga dan Dimas pun berjalan menghampiri mereka.


Dimas kemudian merangkul pundak istrinya, “nah, kalau gini kan enak damai.”


“Kak Dimas!” panggil Angga.


“Hmm,”


“Gimana kalau malam ini kita nginap di rumah mama aja!” pinta Angga seraya menaik turunkan kedua alis matanya.


“Ide bagus tu,” jawab Dimas dengan menyunggingkan senyumannya.


“Gimana? Kalian berdua setuju, kan?” tanya Angga sambil menatap kedua bola mata Aliya dan Dona secara bergantian.


Aliya dan Dona lalu saling melemparkan pandangan, “gimana Al, lo mau ga?” tanya Dona.


Aliya menatap kedua bola mata Angga sesaat, “hmm, mau ga ya?” tanya Aliya sambil memainkan jari telunjuknya di dagu.


Aliya menggelengkan kepalanya, “hmm, kayaknya aku ga deh. Kalau kalian mau yaudah kalian bertiga aja ga apa-apa kok,” jawab Aliya tersenyum.


“Yaahh, kamu kok gitu sih yank?” tanya Angga yang kecewa karena Aliya tak menyetujui kesepakatan mereka bertiga.


Aliya lalu berbalik, “ga mau nolak maksudnya,” jawab Aliya dan kemudian berlari kecil menjauh dari Angga.


“Aliya, awas kamu ya!” ancam Angga dengan tatapan sinisnya.


Angga yang tak terima di kerjain Aliya pun langsung mengejar Aliya dan langsung menggendong tubuh Aliya.


Senyum bahagia terlukis indah dibibir mereka berempat. Keharmonisan rumah tangga yang terjalin membuat mereka berempat harus pandai memahami pasangan sendiri maupun ipar. Malam yang bertaburan bintang di langit nan biru, seolah-olah ikut tersenyum menyaksikan kebahagian mereka berempat.


****


Pagi ini Aulia pergi mengunjungi salah satu rumah sakit besar di kota Bandung. Rumah sakit itu tak lain adalah rumah sakit tempat Laura bekerja. Aulia mendatangi rumah sakit ini bukan karena ingin bertemu Laura. Akan tetapi, Aulia ingin melakukan tes kesehatan sebagai salah satu persyaratan untuk mengajukan beasiswa S2 di Washington DS, Amerika Serikat.


Dengan penuh semangat Aulia berjalan di koridor rumah sakit. Senyuman manis yang terpancar dibibirnya membuat Aulia terlihat semakin anggun. Di sepanjang koridor melewati para pasien, perawat maupun kerabat para pasien, Aulia hanya bisa tersenyum ramah kepada mereka. Saking asyiknya melirik orang-orang di samping kanan dan kirinya, Aulia sampai lupa memperhatikan jalan di depannya.


BRUUUKK!!!

__ADS_1


Tanpa sengaja Aulia menabrak salah satu dokter di rumah sakit ini hingga menjatuhkan berkas-berkas yang dibawa dokter tersebut.


“Maaf maaf maaf, saya ga sengaja,” ucap Aulia seraya membantu dokter tersebut untuk merapikan berkas-berkasnya.


“Iya ga apa-apa kok, saya juga salah ga liat-liat jalan.”


“Nih mbak,” ujar Aulia. Aulia sangat terkejut saat melihat dokter yang ia tabrak tadi tak lain adalah Laura sahabatnya ketika di Singapore beberapa tahun silam.


“Laura?”


“Aulia?”


Aulia menunjuk Laura, “lo benaran Laura?” tanya Aulia tak percaya.


Kedua buah bola mata Laura mulai berkaca-kaca, “iya gue Laura.”


“Masya Allah Ra, lo udah sukses sekarang ya,” ucap Aulia.


“Hehe, Alhamdulillah Li,” jawab Laura tersenyum.


“Ya Allah Laura, gue kira kita ga bakalan jumpa lagi,” ucap Aulia seraya memeluk erat tubuh Laura.


“Maafin gue ya Li, gue kemaren buru-buru banget jadi ga sempat tukaran nomor WA,” ujar Laura.


Aulia kemudian melepaskan pelukannya, “Ra, siang ini lo sibuk ga?” tanya Aulia.


“Siang ini ya?” tanya Laura kembali. Aulia lalu menganggukkan kepalanya, “hmm, kayaknya gue ga bisa deh Li, tapi kalau entar malam mungkin bisa,” lanjut Laura.


“Oh yaudah, sini nomor WA lo biar nanti kita lanjut bahas masalah ini di WA aja!” pinta Aulia.


Oke guys segini dulu ya update untuk episode kali ini, kalau nanti ga ada kendala langsung update yang episode 31, tapi ga janji ya guys.


Oh ya, terimakasih untuk teman-teman yang masih setia menunggu update dari novel ini🙏🙏


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,


IG : @febiayeni21


FB : Febi Ayeni

__ADS_1


__ADS_2