Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 141


__ADS_3

“Ma, Aliya kenapa?” tanya Angga panik.


“Magnya kambuh Ngga,” jawab Dewi.


“Ga dibawa ke dokter aja Ma?” tanya Angga yang terlihat begitu khawatir.


“Angga udah cepatan bukain pintunya!” pinta Dewi tegas tanpa menjawab pertanyaan yang Angga lontarkan.


Kini Angga, Aliya dan Dewi sudah berada di dalam mobil. Angga masih terlihat sangat khawatir dengan kondisi Aliya. Bagaimana tidak Aliya sepanjang perjalanan hanya menangis tanpa henti.


“Al, ga mau ke rumah sakit aja?” tanya Angga dengan melirik Aliya dan Dewi yang berada di kursi belakang.


“Angga, udah deh kamu diam aja!” pinta Dewi dengan mata melotot.


“Tapi Ma, Aliya butuh penanganan medis Ma,” bantah Angga.


“Angga, kamu lupa kalau kakaknya Aliya dokter?” tanya Dewi yang membuat Angga menepuk jidatnya sendiri.


“Astagfirullah, Angga lupa Ma.” Jawab Angga yang mulai merasa lega. Ya itu lah Angga, jika sudah dipenuhi rasa khawatir berlebihan ia akan lupa banyak hal.


Sesampainya di depan rumah Aliya, Aliya langsung berlari kedalam rumahnya dengan cepat. Tentu saja ini membuat Angga dan Dewi saling bertatapan.


“Ma, dia langsung sembuh.” Ucap Angga dengan mata melotot.


“Mama juga ga ngerti Ngga,” jawab Dewi dengan ekspresi kagetnya.


Dewi dan Angga pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Aliya.


“Assalammu’alakum,” ucap Angga dan Dewi secara bersamaan.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Echa dan Dimas yang tengah mengobrol di ruang tamu. Ya sekarang sudah pukul satu siang, jadi Dimas dan yang lainnya udah shalat zuhur serta makan siang juga.


Angga dengan spontan langsung duduk disamping Dimas. “Aliya kenapa Ngga?” tanya Dimas dengan suara berbisik.


“Kata Mama tadi mag Aliya kambuh,” jawab Angga sambil menyeduh jus alpukat milik Dimas.


“Tapi kok cepat banget larinya?” tanya Dimas yang juga terkejut. Angga hanya mengangkat bahunya bertanda ia juga tidak mengetahuinya.


“Yaudah mungkin emang lagi pengen cepat-cepat baring kali,” ucap Dimas santai.

__ADS_1


Sedangkan Aliya yang masih memakai gaun pengantin langsung menggedor-gedor pintu kamar Laura.


“KAAKK, KAKAAAKK!” panggil Aliya.


KLEEKK.


Tanpa menunggu waktu lama Laura langsung membuka pintu kamarnya. Laura yang melihat Aliya tengah berdiri spontan langsung memeluk tubuh Aliya. Aliya terkejut kenapa tiba-tiba Laura langsung memeluknya. Aliya yang tak mau pembicaraannya terdengar orang lain langsung melepaskan pelukan Laura dan membawa Laura masuk kedalam kamarnya.


Laura pun duduk dengan bersandarkan tempat tidur. Laura melipat kedua kakinya dengan tangan yang memeluk kakinya sendiri. Laura menundukkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


“Aliya,” ucap Laura dengan penuh isak tangis.


“Are you ok?” tanya Aliya memeluk Laura dari samping.


“I’m not ok,” jawab Laura dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.


“Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin gue baik-baik aja,” lanjut Laura dengan terjeda-jeda.


“Orang yang gue sayang lagi dan lagi harus pergi ninggalin gue,” ucap Laura yang membuat Aliya tak kuasa untuk mengatakan kebenaran tentang Randy. “Apa gue sejahat itu, apa gue sejahat itu Al, sehingga mereka semua harus pergi ninggalin gue lagi?” tanya Laura yang mulai menaikkan volume suaranya.


Aliya menyandarkan kepala Laura ke pundaknya, “kakak sama sekali ga jahat kok, hanya dia yang tak pantas mendapatkan wanita sehebat kakak.” Ucap Aliya sambil mengelus rambut indah Laura.


“Dia tak pantas untuk kakak perjuangkan, dia lebih pantas pergi dan tak kembali lagi, dia terlalu bodoh dalam bertindak, dia ga tau bahwa disini ada seorang wanita yang berkorban dengan tulus untuk dia yang terlalu bodoh itu.” Tegas Aliya yang juga merasakan sakit yang Laura rasakan.


“Kak Randy mau nikah sama orang lain kan?” jawab Aliya dengan kembali melontarkan pertanyaan. Laura menganggukan kepalanya.


“Tadi gue datang kerumah dia untuk menjawab lamaran dia kemaren, tapi gue terlambat, dia udah ada pilihan lain.” Jawab Laura dengan air mata yang kembali menetes.


“Jadi kakak cuma tau itu?” tanya Aliya sambil menatap kedua bola mata Laura.


“Securitynya cuma bilang Randy pergi fitting baju pengantin sama seorang wanita yang dia sendiri pun baru tau, dan wanita itu adalah satu-satunya wanita yang pernah datang kerumahnya selain keluarganya.” Jawab Laura dengan kembali menundukkan kepalanya.


“Itu artinya kakak belum tau hal yang jauh lebih buruk lagi dari itu,” ucap Aliya sambil menarik napasnya dan perlahan membuangnya.


“Maksud kamu?” tanya Laura.


“Kakak liat aja video ini!” pinta Aliya sambil menunjukkan sebuah video yang ia rekam tadi di butik.


Laura yang melihat seorang wanita dalam video tersebut, langsung menghentikan video itu untuk melihat lebih jelas lagi wanita yang ada di video itu. Laura menujuk layar handphone Aliya, “ini kan wanita yang kemaren gue tabrak di cafe pas dinner sama Randy?” tanya Laura dengan kedua bola mata yang terbelalak.

__ADS_1


Laura yang penasaran maksud Aliya kemudian memutar kembali video tersebut.


“Ran, gimana kalau seandainya Laura liat kita fitting baju pengantin ya Ran?” tanya wanita tersebut.


“Apaan sih ya pasti dia nangis-nangis lah, secara dia kan sayang banget sama gue.” Tegas Randy yang kemudian terkekeh.


Mendengar ucapan Randy, rasanya saat ini hatinya sedang diiris-iris dengan pisau tajam, pelan tapi pasti. Seketika Laura untuk kesekian kalinya menangisi Randy lagi dan lagi.


“Pede amat lo,” ucap wanita tersebut sambil menyenggol lengan Randy.


“Eh Ran gimana sih rasanya hampir di tinggal nikah sama Laura?” tanya wanita tersebut.


“Ya sakit lah, lo gimana sih. Nih ya kalau gue kembali ngingat sakit itu lagi mungkin hari ini juga gue ajak dia kesini buat liat kita fitting baju pengantin.” Jawab Randy tegas.


“Sadis amat pak balas dendamnya,” ucap wanita tersebut, “jadi intinya lo masih baik lah ya ga sampai bawa dia kesini?” tanya wanita tersebut.


“Udah-udah kalian ini debat mulu, kasian dong sama bayinya Raisa junior!” pinta Tika yang kemudian merangkul wanita tersebut yang diketahui bernama Raisa.


Perasaan Laura begitu hancur saat ini mendengar ucapan dari mama Randy.


“Lah emang udah tau jenis kelaminnya ya ma?” tanya Randy.


“Yaudah lah, jenis kelaminnya perempuan jadi cantiknya ikut ibunya week,” ledek Raisa.


“Raisa junior,” ucap Randy sambil mengelus perut Raisa dengan senyuman termanisnya.


Setelah melihat video tersebut, Laura tak mampu lagi berkata apa-apa. Laura hanya mampu menangis di pelukan Aliya.


“Al, Aliya.” Ucap Laura dengan isak tangis yang menjadi-jadi.


“Kak, kakak harus sabar ya. Masih banyak laki-laki diluar sana yang jauh lebih baik lagi dari dia. Kakak itu sebuah mutiara, kakak ga pantas dapatin laki-laki seperti Randy.” Ujar Aliya sambil mengelus rambut indah Laura. Aliya bahkan tidak lagi mengucap nama Randy dengan sebutan kak di depannya.


Jangan ikutin terus ya guys, 😉


Episode ini adalah salah satu bagian tersulit bagi saya, ga sanggup guys ngetiknya😭


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,😉

__ADS_1


IG : @febiayeni21


FB : Febi Ayeni


__ADS_2