Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 72


__ADS_3

Laura kini sudah memasuki ruangannya bersama Chika. Dengan sangat tenang Laura pun mengambil sebuah amplop yang berisi hasil lab kondisi jantung Fia.


"Chik, ini hasil lab Fia," ucap Laura dengan memberikan amplop putih kepada Chika.


Chika pun mengambil amplop putih tersebut. Dengan sangat hati-hati Chika pun membuka isi dari amplop putih itu. Jantung Chika seketika berdetak begitu kencang tak karuan, berharap semoga amplop ini memberikan informasi yang menyenangkan untuknya. Laura yang melihat Chika sedang kebingungan mengetahui hasil lab Fia pun mengangkat bicara untuk menjelaskan maksud dari surat tersebut.


"Chik, Fia itu butuh penanganan khusus karena tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu jantung Fia bisa saja kambuh. Tapi untuk saat ini kami dari tim medis sudah memastikan bahwa Fia sudah sembuh." Ucap Laura menjelaskan hasil lab Fia kepada Chika. Mendengar penjelasan dari Laura membuat senyum Chika merekah.


"Yang harus kamu jaga adalah pola makan dan hidup sehatnya Fia dari sekarang dan yang pasti lu jangan lupa sering cek ke rumah sakit untuk mengantisipasi kondisi Fia!" perintah Laura dengan tegas.


"Baik Ra, gue ngerti." Jawab Chika sambil tersenyum lebar.


"Jadi besok Fia udah boleh pulang kan Ra?" tanya Chika sambil melipat kembali kertas hasil lab Fia dan memasukkannya ke dalam amplop putih tersebut.


"Udah Chik. Kalau lu butuh apa-apa langsung hubungi gue aja," jawab Laura dengan senyuman manisnya itu.


"Oke Ra, yaudah kalau gitu gue ke ruangan Fia dulu ya Ra," ucap Chika sambil berdiri dari tempat duduknya. Laura hanya tersenyum sembari menyampaikan jawaban iya darinya.


Dering handphone Laura berbunyi sesaat setelah Chika keluar dari ruangannya. Tertulis di layar handphone Laura nama seseorang yang menelponnya yang tak lain adalah Aliya adik kandung Laura. Dengan sigap Laura pun mengangkat telpon dari Aliya.


"Assalammu'alakum Al," ucap Laura sembari memberikan salam.


"Wa'alaikumsalam kak. Kak Mama tadi kepleset di kamar mandi, kakak cepat pulang ya!" perintah Aliya dengan nada suara kepanikannya.


"Hah, Mama kepleset?" tanya Laura yang terkejut mendengar ucapan Aliya.


"Iya kak, ini Mama masih pingsan," jawab Aliya.


"Yaudah kalau gitu kakak langsung pulang sekarang, kamu jagain Mama dulu ya Al!" perintah Laura yang begitu panik dengan kondisi paniknya.


Tanpa menunggu jawaban apapun dari Aliya, Laura langsung memutuskan sambungan telponnya dengan Aliya. Dengan sangat terburu-buru Laura membereskan barang-barang dan memasukkannya kedalam ransel kecilnya. Tanpa pikir panjang Laura keluar dari ruangannya dengan berlari kecil. Hanya butuh waktu 15 menit saja Laura sudah sampai di teras rumahnya. Ya, Laura bekerja di rumah sakit yang tidak jauh dari rumahnya.


Aliya yang sudah mengetahui kedatangan kakaknya pun segera membukakan pintu.

__ADS_1


KLEEKK!!!


"Kak ayo buruan periksa mama!" perintah Aliya sambil menarik lengan Laura.


Sesampainya Laura dan Aliya di kamar mama mereka, Laura pun segera membuka ransel kecilnya untuk mencari stetoskop untuk mengecek kondisi mamanya. Wajah Laura seketika berubah menjadi pucat setelah ia menyadari bahwa stetoskop yang ia cari ternyata ketinggalan di ruang kerjanya. Tanpa sepatah katapun Laura langsung berlari menuruni satu persatu anak tangga dan keluar dari rumah. Aliya yang kebingungan dengan sikap Laura pun berinisiatif untuk mengikuti Laura.


"Bik, titip mama ya!" perintah Aliya kepada Bik Inah seorang pembantu yang dibayar Laura untuk membantu mamanya mengurusi pekerjaan rumah.


"Baik Non," jawab Bik Inah.


Aliya pun berlari mengejar Laura yang sudah mulai jauh darinya.


"KAK LAURAAA!!!" teriak Aliya, namun Laura sama sekali tidak menoleh ke arahnya.


"Kak Laura kok balek ke rumah sakit lagi ya, apa ada yang ketinggalan kali ya?" tanya Aliya yang melihat Laura lari ke arah rumah sakit.


Laura yang berlari-lari di sekitaran lorong rumah sakit membuat orang-orang yang berada di sekelilingnya kebingungan melihat Laura yang masih mengenakan pakaian dinasnya berlari-lari seperti ada pasien yang butuh bantuan darurat. Laura sama sekali tidak menanggapi mata-mata yang melihatnya dengan kebingungan. Akhirnya Laura pun sampai di ruangannya. Dengan sigap Laura pum mengambil stetoskop yang terletak di meja kerjanya itu.


"Aduuh," ujar Laura sambil memegang kakinya yang terbentur lantai. Disaat Laura sedang meringis kesakitan tiba-tiba seorang pria mengulurkan tangan kanannya tepat didepan wajah Laura. Laura terkejut saat ia melihat ternyata pria itu tak lain adalah Randy.


"RANDY?" tanya Laura yang sangat terkejut melihat Randy yang berada disini.


"Iya ini gue," jawab Randy sambil tersenyum manis.


"Ayo berdiri!" perintah Randy dengan tangan yang masih setia mengulur di depan wajah Laura.


"Maaf Ran," jawab Laura sambil menyatukan kedua telapak tangannya yang mengartikan ia tak mau menyentuh seseorang yang bukan muhrimnya.


"Oh sorry Ra," ucap Randy sambil menjauhkan tangannya dari hadapan Laura.


"Iya ga apa-apa kok Ran." Jawab Laura yang kemudian mengikat tali sepatunya yang membuatnya terjatuh.


"Ra, ada yang mau gue omongin sama lu Ra penting," ucap Randy dengan nada suara yang begitu serius. Laura yang sudah selesai mengikat tali sepatunya pun kemudian berdiri tepat di hadapan Randy.

__ADS_1


"Sorry Ran, lain kali aja ya gue buru-buru." Jawab Laura yang kemudian melangkahkan kakinya menjauhi Randy.


"Ra, mau sampai kapan lu lari-lari gini sih dari gue?" tanya Randy yang sontak membuat Laura menghentikan langkahnya.


"Sampai gue ga sibuk lagi Ran," jawab Laura santai dan melanjutkan langkahnya. Randy yang keras kepala pun mengikuti langkah kaki Laura.


"Ra, please izinin gue ngomong bentar aja kok," bujuk Randy yang kini sudah berada disamping Laura.


"Please Ra," lanjut Randy yang memohon kepada Laura.


"Oke, oke. Tapi setelah mama gue sembuh baru gue mau ngomong sama lu!" perintah Laura.


"Hah mama lu sakit, sakit apa?" tanya Randy yang penasaran.


"Tadi kepleset. Udah ah gue buru-buru nih, kalau lu halangin gue gini terus gimana mungkin lu bisa ngomong penting sama gue." Jawab Laura yang mulai kesal dengan ulah Randy.


"Yaudah, titip salam buat mama lu ya!" perintah Randy.


"Assalammu'alakum," ucap Laura.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Randy.


Laura pun pergi meninggalkan Randy sendiri di koridor rumah sakit tersebut.


Haiii guysss sorry ya baru up🙏🙏


Terimakasih juga yang masih setia nungguin novel ini.


TERIMAKASIH.....


IG : @febiayeni


FB : Febi Ayeni

__ADS_1


__ADS_2