
Setelah jasad Fia di shalatkan, jasad Fia pun segera dibawa ke tempat pemakaman setempat. Disepanjang perjalanan Chika dan juga kerabat-kerabatnya hanya bisa menangis tak henti-hentinya. Hingga pada akhirnya Fia sudah di masukkan ke liang lahat. Chika, Rizky, Randy, Laura dan juga Aliya yang masih setia menemani Chika dan Rizky yang masih menangis diatas kuburan Fia.
"Fia, Fi... Fia yang tenang disana ya," ucap Chika sambil memeluk nisan Fia.
"Mama dan Papa akan selalu sayang sama Fia," lanjut Chika yang kemudian menepis air matanya yang mengalir di pipinya. Rizky yang tau betul bagaimana hancurnya perasaan Chika saat ini pun langsung menenangkan Chika.
"Ma, udah ya kita pulang sekarang!" pinta Rizky yang masih setia mengelus-elus punggung Chika yang masih sangat terpukul.
"Biarkan Fia istirahat dengan tenang disana," lanjut Rizky sambil menyandarkan kepala Chika ke bahunya.
Laura yang melihat Chika yang menangis seperti itu pun tak tega hanya berdiam diri disini. Laura pun berinisiatif untuk membantu menenagkan Chika. Laura kemudian berjalan dan berjongkok di samping Chika untuk membantu Rizky menenangkan Chika.
"Chika, lo yang sabar ya," ucap Laura sambil mengelus lembut lengan kiri Chika.
Chika yang mendengar suara Laura pun langsung berdiri di hadapan Laura. Laura sangat terkejut karena tiba-tiba melihat Chika berdiri dihadapannya. Laura pun akhirnya berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Chika. Baru sedetik Laura berdiri dihadapan Chika, tiba-tiba sebuah tamparan mendarat dipipi kiri Laura. Tamparan dari Chika yang membuat Laura bertanya-tanya didalam hatinya.
"Gara-gara nungguin lo Fia meninggal Ra," ucap Chika dengan sangat emosi. Rizky yang melihat kelakuan istrinya itu pun langsung berdiri dan menahan Chika agar tidak kembali menampar Laura.
"Lo penyebab Fia meninggal Ra," lanjut Chika yang kemudian ingin menampar pipi Laura lagi, namun Rizky menahan tangan Chika agar tidak kembali menampar pipi Laura.
Laura yang melihat Rizky menahan tangan Chika pun langsung menarik pelan tangan Chika yang dipegang Rizky. Rizky pun akhirnya melepaskan tangan Chika. Laura meletakkan tangan Chika di pipinya dan kemudian berkata :
"Tampar gue sampai lo benar-benar puas Chik!" perintah Laura yang kemudian melepaskan tangan Chika.
PLAAKK!!
Chika pun mendaratkan kembali tangannya di pipi kiri Laura lagi untuk yang kedua kalinya. Setelah menampar Laura, Chika pun langsung pergi meninggalkan mereka semua dengan emosi yang berkobar-kobar.
"Laura, maafin Chika ya!" pinta Rizky yang merasa sangat bersalah atas perlakuan istrinya terhadap Laura.
"Aku ga apa-apa kok kak," jawab Laura yang berusaha tersenyum. Rizky pun akhirnya pergi meninggalkan Laura, Randy dan juga Aliya.
"Kak, kakak ga apa-apa kan?" tanya Aliya yang kemudian memeluk erat tubuh Laura dengan air mata yang mengalir dipipinya.
"Ga apa-apa kok Al, Chika pantas lakuin ini ke kakak kok," jawab Laura sambil menghapus air matanya.
"Ra, lo benaran ga apa-apa?" tanya Randy yang begitu khawatir sama Laura.
__ADS_1
"Iya ga apa-apa kok Ran," jawab Laura sambil melepaskan pelukannya.
"Tapi pipi lo memar Ra. Gue antarin lo ke rumah sakit aja ya!" pinta Randy yang benar-benar khawatir dengan kondisi Laura saat ini.
"Ga usah Ran, gue pulang aja. Mama pasti udah nungguin di rumah," jawab Laura sambil menghapus air matanya.
"Yaudah kalau gitu, gue antar lo pulang ya!" pinta Randy menawarkan bantuan darinya.
"Ga usah Ran, gue sama Aliya bisa minta jemput pak Wawan kok," jawab Laura yang kemudian menarik tangan kanan Aliya untuk berjalan keluar dari daerah pemakaman.
"Kak, kasih kak kesempatan!" pinta Aliya yang merasa iba dengan Randy yang berusaha mengambil hati Laura, namun Laura selalu menolak.
"Kak please, kasih kak Randy kesempatan lagi!" pinta Aliya memohon sambil menangkupkan kedua tangan dengan mata yang berbinar-binar penuh harapan.
"Yaudah iya," jawab Laura singkat yang kemudian berjalan duluan meninggalkan Aliya dan Randy. Mendengar jawaban Laura, Aliya pun langsung menghadap ke arah Randy dengan wajah yang berseri-seri.
"Kak, boleh." Ucap Aliya dengan nada pelan sambil membentuk lambang ok.
"Aliya cepetan!" perintah Laura yang menyadari bahwa Aliya sudah ketinggalan jauh darinya.
Randy, Laura dan Aliya pun kini sudah berada di dalam mobil yang dikemudi oleh Randy. Randy yang masih merasa sangat canggung dengan kondisi saat ini membuatnya bingung harus berkata apa. Sedangkan Aliya yang duduk di kursi belakang hanya tersenyum-senyum malu melihat kecanggungan yang terjadi antara mereka berdua.
"Eheemm, diem-diem bae. Ngomong ngapa atuh teteh, akang." Tegur Aliya yang memecahkan keheningan yang terjadi disepanjang jalan.
"Emm, ngomong-ngomong lo udah berapa lama kerja di rumah sakit itu, Ra?" tanya Randy malu-malu.
"Kurang lebih dua tahun setengah," jawab Laura dengan sangat cuek.
"Ohhh, dokter umum atau spesialis?" tanya Randy lagi dengan sangat canggung.
"Spesialis," jawab Laura singkat.
"Spesialis apa Ra?" tanya Randy yang tak mau percakapan antara mereka harus terputus begitu saja.
"Spesialis jantung," jawab Laura cuek. Saat Randy mau memberikan pertanyaan lagi Laura langsung memotongnya.
"Apa mau nanya spesialis jantung apa?" tanya Laura sambil melirik Randy yang langsung tersenyum malu dengan ucapan Laura.
__ADS_1
"Gue spesialis jantung pisang, PUAS?" tanya Laura sambil berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Pisang apa?" tanya Randy sebelum Laura kembali memotong pembicaraannya.
"Semua pisang, kecuali..." jawab Laura terputus.
"Pisang-pisangan, hahaha," lanjut Aliya yang kemudian tertawa lepas. Sedangkan Laura dan Randy hanya bisa senyum-senyum malu mendengar jawaban dari Aliya.
"Eh itu rumah kita udah sampai," ucap Laura sambil menunjuk sebuah rumah berwarna hijau diberang jalan.
"Rumah kita?" tanya Randy sambil melirik Laura.
"Iya, rumah kita, rumah gue sama Aliya." Jawab Laura tanpa merasa ada yang aneh dari ucapannya.
"Ooh kirain rumah gue sama lo," ujar Randy yang kemudian menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Laura.
"Apaan sih lo," jawab Laura yang berusaha menahan-nahan senyumnya.
"Kalau mau senyum, senyum aja kali kak ga usah malu gitu deh," ledek Aliya yang ikutan merasakan situasi baper antara Randy dan Laura. Mendengar ucapan Laura pun akhirnya merekahkan senyumnya yang membuat Randy klepek-klepek.
"Udah lama gue ga liat senyum lo yang seperti ini," ucap Randy dalam hati.
"Udah yuk Al turun!" ajak Laura yang kemudian langsung membuka pintu mobil milik Randy.
"Thanks ya Ran," ucap Laura sambil tersenyum.
"Kak Randy ga mampir dulu?" tanya Aliya yang sudah turun dari mobil Randy.
"Ga usah, kapan-kapan aja." Jawab Randy sambil menunjukan senyumannya yang manis itu.
Oke guys sekian dulu ya😉
SYUKRON Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
IG : @febiayeni
FB : Febi Ayeni
__ADS_1