Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 152


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.05 WIB, namun Randy belum juga terlihat dimana pun. Laura memilih untuk mencari Randy di tempat biasa Randy menenangkan diri. Ketika Laura melihat ada sebuah surat yang tergeletak diatas bebatuan, dengan sigap Laura mengambil surat tersebut. Surat dengan amplop berwarna biru muda tanpa ada goresan hitam sedikitpun sebagai petunjuk siapa pemilik surat ini dan kepada siapa surat ini dituju. Laura yang penasaran pun mau tidak mau membuka surat tersebut. Untuk merilekskan pikirannya Laura memilih untuk duduk di hamparan bebatuan pinggir danau sebelum membuka surat itu. Dengan sangat hati-hati Laura akhirnya membuka surat itu.


Dear Laura,


Ra, gue tau lo mau jawab apa hari ini ke gue, gue yakin lo pasti nolak gue, buktinya sekarang udah pukul 15.30 WIB tapi lo masih belum terlihat. Gue udah nunggu lo disini dari jam 14.30 WIB, karena gue ga mau buat lo kecewa, jadi gue datang lebih awal. Sorry Ra, gue ga bisa nunggu lo lebih lama lagi, karena jam 15.50 WIB gue udah harus stay di bandara.


Seketika Laura langsung melirik jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 16.15 WIB. Air mata Laura mengalir dipipinya ketika ia sudah tau bahwa ini sudah terlambat.


*Ra, mencintai lo memang harus memiliki pengorbanan yang luar biasa, terluka juga menjadi hal biasa buat gue, ketika gue kembali untuk memperbaiki semua yang telah rusak, semua kepercayaan yang sudah hancur, semua janji yang harusnya tertepati, kini itu semua hanya tinggal angan-angan gue aja. Dan gue sadar, ketika gue mencintai lo, gue belajar banyak hal, mulai dari sabarnya menunggu lo, ikhlasnya melepaskan lo dan juga berhenti berharap pada mahkluk yang akan berakhir dengan kekecewaan.


Ra, maafin gue. Gue harus nikah dengan perempuan pilihan mama dan papa gue. Gue harap lo juga bahagia dengan pilihan mama lo saat ini. Mungkin lo terkejut ketika gue bilang “pilihan mama lo” tapi itu memang real adanya. Sebelum gue ke bandara tadi, gue kerumah lo buat mastiin lo dimana dan ternyata seorang laki-laki yang jauh lebih baik dari gue datang melamar lo. Dan lo tau mama lo langsung nerima lamaran laki-laki itu. Gue dengar kata-kata mama lo yang bilang “saya yakin kok, Laura ga mungkin nolak lamaran ini, karena Laura juga pasti suka sama kamu. Perempuan mana sih yang mau nolak laki-laki sesoleh dan sehebat kamu*”.


“Randy,” Laura menangis sejadi-jadinya.


*Gue yang masih penasaran dengan calon pendamping lo, akhirnya gue beranikan diri untuk bertanya kepada mama lo setelah mereka semua pulang. Gue nanya kapan lo akan nikah, dan mama lo bilang “tiga hari lagi tepat dihari ulang tahun Laura, semuanya udah dipersiapkan, undangan tinggal kasih nama.” Lo tau apa yang gue rasa saat itu? Gue ga usah jawab lo pasti ngerti. Dan sekarang gue harus pergi, jaga diri lo baik-baik ya Ra, gue yakin kok laki-laki itu bisa bahagiain lo, dan gue minta sama lo tolong jangan bantah keinginan mama lo, karena mama lo, lo bisa sehebat ini, lo bisa sekuat ini, dia ngorbanin nyawa untuk lo, jadi lo jangan pernah bantah lagi, dia lebih tau mana yang terbaik buat anaknya. Laura congratulations ya🙂.


To: Randy*


Setelah selesai membaca surat yang Randy tulis, tangisan Laura pecah sejadi-jadinya. “RANDYYYY, GUE MINTA MAAF RAN!” teriak Laura sambil melirik kanan kirinya mencari keberadaan Randy.


“RANDY, GUE TAU LO MASIH DISINI KELUAR RAN, KELUAR!” perintah Laura yang masih mencari keberadaan Randy.

__ADS_1


Waktu sudah berjalan selama 1 jam setengah, tapi Laura masih setia di tempat ini untuk menunggu kedatangan Randy. Cuaca yang sangat mendung sama seperti perasaan yang Laura rasakan saat ini seolah-olah ikut bersedih dengannya. Hujan akhirnya turun dan membasahi tubuh Laura. Menutupi semua kesedihan yang Laura rasakan saat ini. Ternyata prank yang ia lakukan kepada Randy justru malah membuat dirinya menyesal.


“Randy, gue sayang sama lo, gue tau ini terlambat tapi setidaknya lo udah tau bahwa gue benar-benar sayang sama lo.” Ucap Laura yang masih duduk dibawah hujan yang sangat lebat.


“Randy, semua ini salah gue, lo ga mungkin pergi karena ulah gue, lo juga ga mungkin pergi kalau gue jawab pertanyaan lo ditaman kemaren.”


“Randy, kembalilah gue janji ga bakalan ngecewain lo lagi.”


Tiba-tiba sebuah payung berdiri melindunginya dari air hujan, “lo janji?” tanya seorang pria yang membuat Laura terkejut.


“RANDY,” ucap Laura sambil melihat siapa orang yang memegang payung itu.


Harapan Laura seakan pupus saat mengetahui bahwa ternyata pria tersebut bukan lah Randy melainkan Dimas, “Kak Dimas?” tanya Laura yang kemudian berdiri.


Dimas mengelus punggung Laura, “Ra, Randy udah pergi, kamu harus terima semua resiko dari perbuatan kamu sendiri.” Ucap Dimas.


“Kakak tau dari mana kalau Laura cuma pura-pura ga sayang lagi sama Randy?” tanya Laura yang kemudian melepaskan pelukan.


“Aliya dengar semua yang kamu katakan malam tadi, dan tadi siang Aliya ceritakan ke aku dan Angga.” Jawab Dimas.


“Terus Randy tau juga kan kak kalau Laura cuma ngetes dia?” tanya Laura dengan penuh harapan.

__ADS_1


Dimas menggelengkan kepalanya, “Randy ga tau, sejak tadi siang handphone nya ga aktif, dan ketika kami datang ke rumahnya dia juga ga aja, kami kira Randy disini sama kamu tapi ternyata ga sama sekali.” Jawab Dimas yang membuat Laura benar-benar menyesali perbuatan bodoh yang ia lakukan.


“Ra, semuanya udah diatur sama Allah, ini bukan salah kamu. Takdir sudah berkata bahwa kamu harus menikah dengan laki-laki pilihan mama.” Ucap Dimas sambil memegang kedua pipi Laura.


Laura kembali menangis, “hiks, hiks Laura nyesal kak, berlaku bodoh seperti ini. Laura bodoh kak udah nyia-nyiain laki-laki seperti Randy, Laura bodoh Kak.” Ucap Laura dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes.


Dimas mendekap erat tubuh Laura, “kakak ngerti kok Ra, perasaan kamu saat ini. Tapi kamu juga harus buktikan pada mama bahwa kamu mampu mewujudkan impian.” Jawab Dimas, mendengar ucapan Dimas, Laura langsung melepaskan dekapan Dimas.


“Kakak udah tau kalau Laura di jodohin?” tanya Laura.


“Kakak udah tau Ra, dan kakak yakin dia laki-laki terbaik untuk kamu, yang bisa membahagiankan kamu.” Jawab Dimas yang kemudian tersenyum.


Dimas dan Laura akhirnya meninggalkan tempat ini. Selama perjalanan Laura hanya bisa diam membisu tanpa sepatah katapun. Candaan yang Dimas lontarkan juga terasa kaku.


Guys mau tau kan siapa jodoh Laura dan Randy siapa? yuk ikuti terus alurnya sekitar 2 episode lagi end kok guys☺


Nih saya kasih tantangan, kalau malam ini coment nya tembus 20 dari ORANG YANG BERBEDA, Insyaallah saya begadang untuk buat episode selanjutnya, tapi jika tidak ya besok lagi lah😁


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,😉

__ADS_1


IG : @febiayeni21


FB : Febi Ayeni


__ADS_2