Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 131


__ADS_3

15 menit kemudian akhirnya Laura pun sampai dirumah.


“Assalammu’alakum, Ma Laura pulang,” ucap Laura yang kemudian masuk kedalam rumahnya.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Echa dengan senyum yang begitu manis.


“Ma, Mama mau kemana kok rapi amat?” tanya Laura yang kebingungan melihat Echa yang sudah berpakaian sangat rapi.


“Ya mau pergi dong,” jawab Echa yang membuat Laura mengerutkan alis matanya.


“Tumben banget Ma pagi-pagi gini udah mau pergi,” ucap Laura yang kemudian duduk di depan meja makan dengan mengambil selembar roti. “Emangnya ada acara apa sih Ma?” tanya Laura dengan mengoleskan selai coklat ke roti yang ia ambil tadi.


“Entar kamu juga tau sendiri Ra,” jawab Echa dengan merekahkan senyuman termanisnya, “makanya habis sarapan kamu langsung mandi terus pakai baju yang rapi kamu pergi sama Mama!” pinta Echa yang kemudian berjalan menuju ruang tamu.


“Mama apa-apaan sih buat Laura penasaran aja,” jawab Laura sambil menggigit sepotong roti yang telah diolesi selai coklat tadi.


“Ma, Aliya ikut juga kan?” tanya Laura.


“Aliya baru aja pergi ke rumah Dona, katanya sih ada tugas kelompok gitu,” jawab Echa sambil mengotak-atik remote TV.


“Ooh, yaudah kalau gitu Laura siap-siap dulu ya Ma,” ucap Laura yang kemudian berjalan menuju kamarnya.


“Iya jangan lama-lama ya Ra!” teriak Echa.


“Iya Ma,” sahut Laura.


Tanpa menunggu lama akhirnya Laura sudah selesai bersiap-siap. Laura dan Echa pun segera memasuki mobilnya dan pergi ke suatu tempat yang sama sekali belum di ketahui oleh Laura. Echa yang mengendarai mobiln akhirnya menghentikan mobil yang ia kendarai tepat di depan sebuah toko butik pengantin. Kedua bola mata Laura terbelalak ketika ia sudah berdiri tepat di depan toko butik pengantin yang telah Echa pilih.


“Ma, Mama ga salah mau ketemu teman Mama disini?” tanya Laura yang masih terpaku di depan toko butik pengantin tersebut.


“Ya ga lah Ra,” jawab Echa tersenyum, “yaudah yuk kita masuk!” ajak Echa dengan merangkul pundak Laura, namun Laura tetap tidak melangkahkan kakinya sedikit pun.


“Ayok masuk Ra!” ajak Echa lagi.


“Mama duluan aja entar Laura nyusul kok!” pinta Laura yang mencoba menenangkan pikirannya yang sudah kemana-mana.


“Yaudah kalau gitu Mama tunggu di dalam ya,” sahut Echa tersenyum dan kemudian masuk kedalam toko butik pengantin tersebut.


“Kok perasaan gue ga enak ya?” tanya Laura dengan nada yang pelan.

__ADS_1


“Ya Allah cobaan apa lagi ini?” tanya Laura yang masih terpaku di tempat yang sama.


Laura menarik napasnya dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya perlahan-lahan.


“Oke Laura positive thinking, semuanya akan baik-baik aja kok,” ucap Laura yang mencoba menenangkan pikirannya.


Dengan melangkahkan kaki kanannya Laura meyakinkan dirinya untuk masuk kedalam toko butik pengantin tersebut, “Bismillahirrahmanirrahiim.”


Betapa kagetnya Laura saat melihat seorang laki-laki yang tak asing lagi baginya sedang main kucing-kucingan dengan Mamanya.


“Ma, Angga belum siap Ma,” ucap laki-laki tersebut yang tak lain adalah Angga.


“ANGGA?” ucap Laura dengan kedua bola mata yang terbelalak.


“Ma, Angga belum siap Ma,” ucap Angga sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Dewi dari tangannya.


“Angga dengar Mama, kamu ga boleh kayak bocah gini dong!” teriak Dewi yang membuat Angga berhenti memberontak.


“Ini ada apaan sih tan?” tanya Laura yang berjalan mendekati Dewi dan Angga.


“Pernikahan kalian kan di percepat,” jawab Dewi yang membuat Laura syok berat.


“Seminggu lagi,” jawab Dewi santai. Mendengar jawaban Dewi sontak membuat kekebalan tubuh Laura melemah dan akhirnya Laura pun pingsan.


“LAURA!” teriak Echa yang kemudian menghampiri Laura yang tidak sadarkan diri. Angga dan Dewi yang melihat Laura sudah terbaring dilantai pun langsung menghampiri Laura yang sedang pingsan.


Echa menepuk-nepuk pelan pipi Laura seraya berkata, “Ra, bangun nak,” ucap Echa yang kini sudah memangku kepala Laura.


Melihat Laura yang masih belum sadarkan diri Dewi langsung mengambil minyak kayu putih dari tasnya dan kemudian memberikannya kepada Echa. “Cha, pakai ini aja!” pinta Dewi.


Echa mengambil minyak kayu putih tersebut dan mendekatkannya ke hidung Laura. Selang beberapa menit setelah mencium aroma khas dari minyak kayu putih tersebut, Laura akhirnya terbangun.


“Ma,” panggil Laura yang masih setengah sadar.


“Aku dimana?” tanya Laura sambil berusaha bangkit dari tidurnya.


“Kita di butik Ra,” jawab Echa santai.


“Laura minum dulu nih!” perintah Dewi dengan memberikan segelas air putih.

__ADS_1


“Makasih tan,” ucap Laura yang dibalas senyuman dari Dewi.


“Ma, tan, emangnya harus banget ya pernikahan Laura sama Angga di percepat gini?” tanya Laura sambil melirik Echa dan juga Dewi.


Dewi tersenyum mendengar pertanyaan Laura dan kemudian merangkul pundak Laura, “Laura, tante ngerti kok kamu sama Angga pasti terkejut dengar ini semua, Angga juga gitu kok, tapi menurut tante sama Mama kamu ada baiknya semua ini dipercepat agar kalian bisa lebih saling mengenal satu sama lain dengan status yang halal.” Ucap Dewi menjelaskan panjang lebar.


Laura menatap dalam kedua bola mata Dewi, “tapi tan, bagi Laura atau pun Angga ini terlalu cepat tan,” jawab Laura dengan penuh harapan Dewi dan Echa agar dapat mempertimbangkan kembali untuk masalah ini.


“Laura, bukan kah kamu sama Dimas juga begitu dulu?” tanya Dewi menepis ucapan Laura, “jadi ga ada salahnya kan kalau ini semua dipercepat?” tanya Dewi yang membuat Laura tidak bisa berkutik lagi.


“Tapi Ma, kak Dimas sama Laura mempercepat itu semua karena mereka saling suka, kalau Angga sama Laura kan ga sih Ma,” jawab Angga tegas.


Dewi tersenyum manis kepada Angga seraya berkata, “Angga, bukan kah lebih baik lagi jika cinta itu muncul setelah pernikahan?” tanya Dewi yang mematahkan semangat Angga.


“Ma, Angga tau itu, tapi bukankah menikah itu harus ada unsur suka sama suka, bukan unsur keterpaksaan?” jawab Angga yang kembali melontarkan pertanyaan.


“Mama yakin kok kalian akan saling mencintai nantinya, hanya saja mungkin saat ini kalian berdua hanya kecepatan untuk menumbuhkan rasa cinta itu.” Jawab Dewi yang seolah-olah tak mau kalah dengan Angga.


“Tapi Ma, ki...” belum sempat Angga melanjutkan perkataannya Dewi langsung menepis ucapan Angga, “Angga, pilihan orang tua itu jauh lebih baik dari pada pilihan sendiri Angga, jadi Mama sebagai orang tua kamu hanya mau yang terbaik buat kamu Angga.” Ucap Dewi yang tidak dapat terbantahkan lagi.


“Tan, apa tidak sebaiknya Aliya aja yang nikah sama Angga, soalnya kan Angga sama Aliya saling suka. Kalau masalah Aliya masih kuliah, Laura yakin kok Aliya pasti bisa membagi fokusnya antara belajar dan juga rumah tangganya, lagi pula Aliya kan kuliah di kampus yang sama dengan Angga ngajar, jadi menurut Laura akan semakin mudah Aliya dalam membagi fokusnya.” Sahut Laura yang membuat Dewi seketika terdiam.


“Dan justru dengan adanya pernikahan Laura dan Angga akan membuat tingkat fokus belajar Aliya malah terganggu,” lanjut Laura.


Oke guys sekian dulu ya, 😉


Kira-kira Mama Angga dan Mama Laura bakalan berubah pikiran ga ya setelah mendengar masukan dari Laura? 🤔


Berikan komentar terbaik kalian ya, 😁


Yang belum masuk grub chat, silahkan masuk ya😊


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,😉


IG : @febiayeni


FB : Febi Ayeni

__ADS_1


__ADS_2