Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 107


__ADS_3

Sedangkan Dona yang sudah dari tadi berada di dalam kelas masih tidak melihat Aliya. Dona mulai khawatir dengan Aliya yang sampai saat ini masih belum juga masuk kelas, sedangkan pelajaran akan di mulai 5 menit lagi.


"Aliya mana ya?" tanya Dona dengan suara yang pelan.


"Tumben amat tu anak ga on time gini," ucap Dona dengan wajah yang sangat khawatir.


"Ah ngapain sih gue mikirin dia?" tanya Dona yang kesal sendiri mengingat perbuatan Aliya terhadapnya.


"Selamat siang semuanya," ucap Angga yang baru memasuki kelas.


"Pagi Pak," jawab seluruh mahasiswa dan mahasiswi di kelas ini.


"Lo Aliya kok ga ada sih?" tanya Angga dalam hati.


Angga yang tidak mau membuat mahasiswa-mahasiswi di kampus ini heboh pun mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Dona saat ini. Hingga pada akhirnya Angga pun selesai mengajar. Angga yang penasaran dengan Aliya yang sampai saat ini tidak memunculkan diri pun memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Dona.


"Teman kamu mana Dona?" tanya Angga.


"Tau, bukannya tadi sama Pak Angga ya?" jawab Dona dengan melontarkan pertanyaan kembali.


"Tapi dia sama saya cuma pas dikantin," jawab Angga kebingungan.


"Jadi kamu benar-benar ga tau Aliya dimana?" tanya Angga, Dona hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu udah jumpa Aliya tolong hubungi saya ya!" pinta Angga, "ini kartu nama saya," lanjutnya sambil memberikan kartu namanya kepada Dona. Dona hanya terdiam mendengar ucapan Angga. Dona lalu mengambil kartu nama milik ada dan kemudian pergi berjalan mendahului Angga.


"Tapi kalau gue pikir-pikir Aliya kok bisa ngilang tiba-tiba gini ya?" tanya Dona dalam hati.


"Apa jangan-jangan dia di culik?" tanya Dona dengan suara yang pelan.


"Ah tapi ga mungkin juga Aliya di culik," jawab Dona.


"Udah ah mungkin aja dia ada urusan mendadak terus langsung pulang deh," ucap Dona sambil tersenyum.


Sementara itu keadaan kampus saat ini sudah begitu sepi, namun Aliya masih terkurung di dalam gudang.


"Ya Allah bagaimana ini?" tanya Aliya dengan pipi yang sudah bercucuran air mata.


"Kenapa dari tadi ga ada yang lewat sini sih?" tanya Aliya dalam hati.


"ini juga, gimana sih cara buka solasinya?" tanya Aliya lagi yang kebingungan untuk membuka solasi yang merekat sangat kuat di bibirnya.


"Ya Allah bantu hamba ya Allah!" pinta Aliya yang benar-benar tak tau harus apa lagi saat ini.


Jam sudah menunjukkan pukul 17.20 namun Aliya juga belum pulang kerumah. Echa sangat panik.


"Laura, Aliya ada bilang ga sama kamu kalau mau pergi?" tanya Echa dengan sangat khawatir.


"Hah, Aliya emang belum ada pulang dari Ma?" tanya Laura kembali.

__ADS_1


"Belum Ra, coba kamu telpon!" pinta Echa yang sangat khawatir.


"Iya Ma," jawab Laura yang langsung mengambil ponselnya diatas tempat tidur.


"Nomor yang anda tuju tidak menjawab,"


"Ga diangkat Ma," ucap Laura.


"Coba terus Ra!" pinta Echa sambil meremas-remas tangannya sendiri.


"Nomor yang anda tuju tidak menjawab," lagi-lagi jawaban dari operator masih sama seperti tadi.


"Yaudah kalau gitu coba Aliya ke kampusnya aja ya, Ma!" pinta Laura.


"Iya iya, kamu hati-hati ya!" pinta Echa sambil mengelus pundak Laura.


"Iya Ma," jawab Laura yang langsung memakai jilbab instannya dan juga jaket.


"Laura pergi dulu kalau gitu ya Ma, Assalammu'alakum," ucap Laura sambil mencium tangan kanan Echa.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya Ra," jawab Echa yang sangat khawatir dengan Aliya.


"Iya Ma," sahut Laura yang sudah berada dibawah tangga.


"Ya Allah lindungilah anak-anakku," ucap Echa dengan wajah cemasnya.


Sepanjang perjalanan menuju kampus Aliya, Laura tak henti-hentinya terus menghubungi Aliya.


"Nomor yang anda tuju tidak menjawab,"


"Nomor yang anda tuju tidak menjawab,"


"Ya Allah dek, kamu dimana sih?" tanya Laura yang sangat panik.


"Nomor yang anda tuju tidak menjawab,"


Sesampainya Laura di kampus Aliya, Laura langsung menemui security untuk memastikan apakah Aliya masih ada di lingkungan kampus atau tidak.


"Pak, di dalam masih ada kelas?" tanya Laura.


"Ga ada Non, kelas terakhir tadi cuma sampai jam 4 sore," jawab security tersebut.


"Jadi sekarang didalam benar-benar ga ada mahasiswi lagi Pak?" tanya Laura mencoba memastikan kembali.


"Ga ada non, semua mahasiswa dan mahasiswi udah pada pulang non," jawab security tersebut.


"Yaudah kalau gitu makasih banyak ya Pak infonya," ucap Laura yang kemudian pergi memasuki mobilnya.


"Pak, kita kerumah temannya Aliya ya!" pinta Laura.

__ADS_1


"Baik Non," jawab Wawan.


****


"Duh buku agenda gue mana ya?" tanya Angga yang sedang sibuk mengobrak-abrik rak bukunya.


"Apa jangan-jangan ketinggalan di kampus lagi," tebak Angga.


"Ooh iya kemarin kan kue letak di tumbukan meja kerja gue," jawab Angga sambil menepuk jidatnya.


Tanpa menunggu waktu lama Angga langsung pergi ke kampus untuk mengambil mengambil buku tersebut. Sesampainya di depan gerbang Angga langsung disambut dengan sambutan hangat oleh security.


"Sore Pak Angga," ucap Security tersebut dengan merekahkan senyum termanisnya.


"Sore Pak," jawab Angga dengan menurutkan kaca mobilnya.


"On time banget Pak Angga jam segini udah datang aja," ucap security tersebut.


"Maklum Pak, dosen teladan," jawab Angga sambil tersenyum.


"Oh ya Pak, saya izin ke kantor ya mau ambil buku yang ketinggalan!" pinta Angga sambil tersenyum.


"Oh iya silahkan Pak Angga," jawab security dengan ramah.


Angga pun segera memarkirkan mobilnya dan langsung menuju kantor. Saat Angga ingin memasuki kantor ternyata pintunya sudah di tutup. Angga pun segera pergi untuk mencari penjaga kampus. Angga berjalan menuju lorong yang sangat sepi dan jarang di datangi siapa pun kecuali penjaga kampus ini, karena rumah penjaga kampus ini berada dibelakang kampus ini. Dengan langkah pasti Angga melewati lorong yang sepi itu. Disepanjang perjalanan Angga hanya melirik kanan dan kiri lorong yang terbilang cukup angker ini. Ya bagaimana tidak disebut angker, terutama bagi para mahasiswa dan mahasiswi kampus ini, lorong yang sangat sepi dan cahaya di lorong ini hanya remang-remang.


"Ternyata lorong ini seram juga ya," ucap Angga.


"Astagfirullahaladzim, kok gue jadi mikir yang aneh-aneh gitu sih, yang perlu di takuti itu Allah, Angga bukan setan, hantu atau apa lah itu," ucap Angga menasehati dirinya sendiri.


Saat Angga sedang santai berjalan, tiba-tiba Angga mendengar suara dering handphone yang berasal dari gudang. Angga menghentikan langkahnya untuk memastikan pendengarannya benar atau salahnya.


"Hah, tadi itu bukannya suara handphone ya?" tanya Angga kebingungan sendiri.


"Ah ga mungkin juga kan hantunya pakai android, di kan ga punya uang buat beli android," jawab Angga santai.


"Tapi bisa aja sih, kalau hantunya itu tuyul kan duitnya banyak. Tapi masa iya dia ga malu beli handphone cuma pakai celana dalam aja," tanya Angga lagi.


"Kecuali kalau dia minta tolong sama mbak kunti, mungkin bisa sih. Tapi masalahnya mbak kunti kan cewek ya, ya pastinya dia juga minta uang dong buat beli skincare nya dia, rugi dong kalau dia cuma beliin si tuyul android aja, hitung-hitung uang jalan lah." Jawab Angga yang seperti orang gila karena bicara sendirian.


Sorry ya guys jarang up🙏


Jangan lupa koment-koment dong di bawah biar saya semangat upnya.😊


Sekali lagi saya mau bilang bahwa disini bukan saya terlalu fokus pada Aliya, dan saya sudah pernah bilang juga bahwa ini masih di hari yang sama hanya saja episodenya beda, ga mungkin dong kalau saya ngomongin tentang Laura sama Randy terus, nanti endingnya malah pada bingung. Sekali lagi saya minta maaf jika kalian kurang suka dengan alur cerita saya, saya juga tidak mau memaksa kalian untuk suka dengan novel saya karena semua itu hak kalian masing-masing.


Terimakasih.😊


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

__ADS_1


IG : @febiayeni


FB : Febi Ayeni


__ADS_2