Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 143


__ADS_3

****


💬Kak Dimas


Al, bisa ketemu di cafe malam ini? 19.30✔️✔️


💬Aliya


Bisa kak, Aliya kebetulan lagi di cafe ini. 19.30✔️✔️


💬Kak Dimas


Oke sekitar 20 menit lagi kakak sampai. 19.31 ✔️✔️


💬Aliya


Oke kak. 19.31✔️✔️


Setelah membalas chat dari Dimas Aliya langsung mengunci ponselnya dan kemudian berjalan ke atas panggung. Tidak tau kenapa untuk kali ini Aliya memilih bernyanyi sebagai bentuk ungkapan hatinya.


Nabila Razali – Peluang Kedua


Sepi,


Menghukum diri kembali


untuk mengalirkan air mata


tanpa henti, lagi...


Sepi


menghasut diri kembali


untuk memikirkan tentang kita


tanpa henti... lagi...


(Mata Aliya mulai berkaca-kaca saat memulai penghayatan dalam setiap lirik-liriknya)


Dan tiada


salah darimu mengingatkanku


bilaku tak sempurna


engkau bisikkan


ku yang paling sempurna


dimatamu, hanya aku


Maaf


andai kau terluka


maafku tak sengaja


tanpa sedar sakitimu


sesalku


(Tanpa sadar air mata Aliya pun akhirnya mengalir membasahi pipinya).


Maaf

__ADS_1


kerna aku pun terluka


rasa cinta, darimu...


Huuuu.... Huuu....


Dan tiada


salah darimu mengingatkanku


bilaku tak sempurna


engkau bisikkan


ku yang paling sempurna


dimatamu hanya aku


Dan andai terbuka hatimu


ku di sini menunggu dan terus menunggu dirimu...


kembalilah sayang kepadaku


(Jujur saat ini Aliya benar-benar terluka dengan ulahnya sendiri).


Maaf,


andai kau terluka


maaf ku tak sengaja


tanpa sedar sakitimu


sesalku


Maaf


kerna aku pun terluka


rasa cinta, darimu...


Rasa cinta


Rasa cinta, darimu


Huuuuu... Huuuuu....


Setelah selesai bernyanyi Aliya pun turun dari panggung sambil menghapus air matanya. Ketika Aliya baru saja selesai bernyanyi ternyata sosok Dimas sudah datang dan duduk di meja nomor 6. Aliya pun langsung menghampiri Dimas. Aliya yang melihat Dimas tengah duduk menunggunya tanpa berbicara apa-apa langsung memeluk Dimas dari samping.


“Kak Dimas,” Aliya kembali meneteskan air matanya di pundak Dimas.


“Aliya kamu kenapa?” tanya Dimas sambil melepaskan pelukan Aliya.


Dimas menghapus air mata Aliya, “Al, kenapa? Apa lirik lagu tadi menceritakan kisah kamu?” tanya Dimas yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Aliya.


“Maafin Aliya kak,” ucap Aliya dengan menundukkan kepalanya.


“Aliya pengen kak Laura dapatin orang yang jauh lebih baik dari Randy, dan orang itu adalah mas Angga. Aliya percaya mas Angga bisa ngobati rasa sakit yang kak Laura alami.” Lanjut Aliya sambil bersandar di pundak Dimas.


Dimas mengelus kepala Aliya, “emang ada apa dengan Randy?” tanya Dimas.


Aliya langsung mengampil ponselnya dan menunjukkan video Randy dan Raisa sedang di butik. Dimas yang sangat mengenal Randy terkejut saat Randy sedang bersama seorang wanita yang sama sekali tidak ia kenal.


“Kak, apa Randy punya adik perempuan atau saudara seperti cewek yang ada di video itu?” tanya Aliya sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


“Randy ga punya saudara perempuan sama sekali, dan bahkan papa tirinya Randy menikah dengan mamanya dalam keadaan lajang”. Jawab Dimas.


“Kakak tau itu semua dari mana?” tanya Aliya lagi.


“Papanya Randy sahabat dari SMA papanya Angga, dan Angga juga teman satu kuliahnya Randy, jadi kami berdua udah sangat kenal sama Randy.” Jawab Dimas tegas.


“Itu artinya Randy benar-benar mengkhianati kak Laura kan kak?” tanya Aliya yang lagi-lagi menangis.


“Kakak akan kasih pelajaran sama orang seperti dia, kakak ga peduli harus kehilangan perkerjaan kakak gara-gara ini. Karena disini bukan hanya Laura yang terluka tapi kita semua.” Jawab Dimas dengan penuh kekesalan terhadap perbuatan Randy.


“Aliya, kamu yakin ga mau menikah dengan Angga?” tanya Dimas yang membuat Aliya sejenak terdiam.


“Kalau kak Dimas sama kak Laura aja ga bisa bahagia dengan pilihannya, Aliya dan mas Angga juga ga berhak dong.” Air mata Aliya kembali menetes tak henti-hentinya. “Biarkan kami juga merasakan apa yang kak Dimas dan kak Laura rasakan,” lanjut Aliya sambil menundukkan kepalanya.


“Hujan tak pernah menjanjikan akan ada pelangi setelahnya, tapi hujan telah mengajarkan apa itu artinya sabar. Hujan juga tak pernah lelah untuk kembali meskipun tau rasanya sakit berkali-kali.” Ucap Aliya yang kini kembali bersandar di pundak Dimas.


“Aliya, meskipun kamu kehilangan orang-orang yang kamu sayang, tapi kamu harus ingat karena kamu adalah pelangi yang ditunggu oleh ribuan mata diluar sana. Mata indah yang selalu setia menunggumu setelah hujan walau kamu tak selalu hadir, tapi mata indah itu akan selalu mengahargaimu meskipun kamu datang hanya sebentar saja.” Ucap Dimas yang mengelus-elus kepala Aliya.


“Kak, Aliya minta maaf karena udah buat mas Angga terluka, Aliya hanya ingin mas Angga mendapatkan seorang wanita yang jauh lebih baik dari Aliya yaitu kak Laura. Aliya tau, Aliya egois, maka dari itu mas Angga ga pantas buat balas cinta Aliya.” Ucap Aliya sambil memegang dadanya yang terasa sesak.


“Kak, makasih ya udah bersedia memberikan pundak untuk Aliya bersandar.” Lanjut Aliya yang kemudian memaksa senyumnya.


“Kak, Aliya pulang dulu ya!” pinta Aliya sambil menghapus air matanya.


“Kakak antar ya!” pinta Dimas.


Aliya menggelengkan kepalanya, “ga usah kak, Aliya mau sendiri dulu ga apa-apa kan?” tanya Aliya yang kemudian tersenyum.


“Kamu hati-hati ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak ya!” pinta Dimas, Aliya menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi meninggalkan Dimas yang masih duduk di cafe tersebut.


Kali ini Aliya memilih untuk berjalan kaki, agar ia bisa menikamati sejuknya angin malam yang berhembus kewajahnya.


“ALIYA!” panggil seorang pria yang berjalan mengikutinya.


Suara itu sangat tidak asing lagi di telinganya, Aliya membalikkan tubuhnya menghadap sumber suara tersebut.


“Mas Angga?” tanya Aliya terkejut.


“Aliya, aku mohon kembalilah kepadaku!” pinta Angga dengan mata yang berbinar-binar.


“Maaf Mas Aliya ga bisa,” jawab Aliya dengan air mata yang siap terjun bebas dipipinya.


“Aliya, aku minta maaf karena kata-kata ku malam itu membuat kamu terluka!” pinta Angga yang kini berlutut di hadapan Aliya dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


“Mas Angga, ga salah kok, Aliya yang salah karena udah mempermainkan perasaan mas Angga.” Jawab Aliya, Angga hanya terdiam mendengar ucapan Aliya dengan kepala yang tertunduk.


“ Mas, ayolah berdiri, Aliya ga bisa nyentuh Mas!” pinta Aliya sambil menghapus air matanya.


“Aliya, please kembalilah kepadaku, aku ingin kita bahagia bersama!” pinta Angga dengan menangkupkan kedua tangannya.


“Kenapa kita harus bahagia mas, sedangkan kakak kita terluka seperti itu?” tanya Aliya yang lagi-lagi menangis.


“Mas, kalau Mas sayang sama Aliya tolong Mas bahagiakan kak Laura untuk Aliya, Aliya hanya ingin Mas Angga bersama wanita yang jauh lebih baik dari Aliya yaitu kak Laura!” pinta Aliya yang kemudian berjalan meninggalkan Angga.


“Aliya, apa kamu pikir dengan aku menikah dengan Laura, Laura bakalan bahagia?” tanya Angga yang membuat langkah kaki Aliya seketika terhenti.


Aliya kembali membalikkan tubuhnya menghadap Angga, “Aliya sangat yakin Mas,” jawab Aliya tersenyum. “Seperti yang pernah Mas bilang, bahwa cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.” Lanjut Aliya yang membuat Angga tak mampu berkutik lagi.


Aliya pun pergi meninggalkan Angga dengan senyuman palsu yang terlukis di bibirnya.


Oke guys terimakasih banyak yang sampai saat ini masih setia dengan novel ini, saya ga memaksa kalian untuk menyukai novel ini, dan saya selalu berharap semoga readers novel ini profesional, dimana akan terus mengikuti cerita ini sampai end.


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,😉

__ADS_1


IG : @febiayeni21


FB : Febi Ayeni


__ADS_2