Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 150


__ADS_3

Dona yang baru berjalan langsung ditegur Aliya, “eh Don lo bawa mobil ga?” tanya Aliya.


“Ga hehehe,” jawab Dona cengengesan.


“Kebiasaan deh, tapi gue ga bisa ngantar lo nih soalnya mobil kita lagi mogok,” jawab Aliya sambil memberikan kode kepada Angga.


“Eh tapi lo tenang aja Don, kak Dimas kan ada. Kak Dimas bukannya udah mau pulang ya?” tanya Angga sambil menyenggol lengan Dimas. “Sekalian napa sih anterin Dona,” ledek Angga lagi.


“Iya kak, kasian tau masa Dona harus pulang pakai taksi online malam-malam gini kan bahaya,” sambung Aliya yang membuat Dimas benar-benar terpojok.


“Eh ga usah kak, ga apa-apa kok nanti Dona minta jemput aja,” jawab Dona tersenyum.


“Ih Dona ga boleh gitu tau, kak Dimas ikhlas kok nganterin lo pulang, ya kan kak Dimas,” ledek Aliya lagi yang kini sudah berdiri disamping Dimas.


“Benaran ga apa-apa kok, Dona pulang sendiri aja,” jawab Dona yang kembali tersenyum.


“Eh Don, ga apa-apa kok pulang bareng aja,” ucap Dimas yang akhirnya membuka suaranya setelah lama berdiam diri.


“Seriusan ga apa-apa kak?” tanya Dona.


“Iya ga apa-apa kok,” jawab Dimas yang kemudian mendorong tubuh Angga sehingga memeluk Aliya.


“Untung udah istri,” ucap Angga tersenyum manis.


Aliya menepuk pelan dada Angga, “mulai deh mas,” jawab Aliya malu-malu.


Disepanjang perjalanan menuju rumah Dona, Dimas sama sekali tak berkutik. Hingga pada akhirnya Dona dan Dimas pun sampai di halaman rumah Dona.


“Lho itu kan mobil papa, kenapa bisa ada disini?” tanya Dimas sambil membuka seat bealnya.


“Lah tante Dewi itu nyokapnya kak Dimas?” tanya Dona.


“Iya, kok kenal sih?” tanya Dimas.


“Kan, papa kak Dimas sahabat akrabnya papaku, masa kakak baru tau sih?” jawab Dona dengan kembali melontarkan pertanyaan.


“Nama papa kamu siapa?” tanya Dimas sambil membuka pintu.


“Nama papa aku Joko Suprianto,” jawab Dona.


“Hah, pak Joko benaran papa kamu Don?” tanya Dimas yang benar-benar tak percaya. Dona menganggukkan kepalanya.


Dona dan Dimas akhirnya masuk kedalam rumah Dona.


“Assalammu’alakum,” ucap Dimas dan Dona bersamaan.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam,” jawab kedua keluarga itu dengan tatapan penuh tanya.


“Lho Dim, kok bisa bareng Dona sih?” tanya Dewi.


“Iya, kamu juga Don kok bisa bareng Dimas? Katanya kerumah Aliya?” tanya Joko.


“Aliya itu mantu saya,” jawab Abi papa Dimas.


“Ohh, kalau gitu jadiin juga dong Dona mantu kamu, Bi!” pinta Joko.


“Papa apaan sih,” ujar Dona malu.


“Lho ga apa-apa dong siapa tau kalian sama-sama ada ketertarikan, kan jadi enak hubungan kekeluargaan kita.” Jawab Joko tersenyum.


“Benar tuh Dim, Angga aja udah nikah masa kamu belum, padahal kamu yang anak pertama.” Sambung Abi.


“Ya kalau Dimas terserah Papa dan Mama aja, selagi itu yang terbaik kenapa ga?” jawab Dimas.


“Itu artinya semua keputusan ada di tangan Dona dong,” ucap Dewi tersenyum.


“Kalau Dona, ngikut arahan Papa Mama aja,” jawab Dona sambil menunduk malu.


“Alhamdulillah,” jawab kedua keluarga itu.


“Kalau gitu kapan dong kalian menikah?” tanya Dina mama Dona.


“Apa ga kecepatan Ma?” tanya Abi.


“Ga apa-apa lah Bi, kan lebih cepat lebih baik, lagian kan kita udah saling kenal jadi ngapain harus lama-lama kan,” jawab Joko.


Seminggu kemudian....


Hari bahagia yang sudah dinanti-nanti oleh keluarga Dimas dan Dona akhirnya tiba juga. Dimas dan Dona sudah memantapkan hatinya untuk menjalin rumah tangga bersama. Mungkin pertemuan mereka sangat singkat sekali, namun Dona dan Dimas begitu yakin bahwa mereka berjodoh.


“Saya nikahkan dan kawinkan engkau Dimas Al Farabi bin Farabi dengan anak kandung saya Dona Aurora binti Joko Suprianto dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!” ucap Dimas untuk yang ketiga kalinya.


“Saya terima nikah dan kawinnya Dona Aurora binti Joko Suprianto dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAI!” jawab Dimas satu tarikan napas.


“Bagaimana saksi sah?”


“SAH”


“Alhamdulillah,”


Senyum bahagia begitu melekat di bibir Dimas dan Dona. Tanpa mereka sangka-sangka jodoh mereka ternyata tak jauh dari mereka. Seperti firman Allah di surah Ar-Rum ayat 21 : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

__ADS_1


****


“Ra, Dimas udah ngomong sama lo kan?” tanya Randy yang berdiri tepat dibelakang Laura.


Laura sama sekali tidak membalikkan tubuhnya menghadap Randy, Laura justru hanya berdiri terus membelakangi Randy. “Udah, gue udah tau semuanya kok,” jawab Laura ketus.


“Terus gimana?” tanya Randy lagi.


Dengan sangat terpaksa Laura pun akhirnya membalikkan badannya menghadap Randy. “Gimana apanya?” jawab Laura yang kembali melontarkan pertanyaan.


“Lo maafin gue kan?” tanya Randy dengan penuh harapan.


“Gue udah maafin lo kok,” jawab Laura.


“Itu artinya lo mau kan jadi istri gue?” tanya Randy lagi.


“Kalau masalah itu gue belum bisa jawab sekarang, karena gue ga mau menyesal dikemudian hari.” Jawab Laura yang kemudian duduk di kursi taman yang biasanya ia duduki.


“Apa lo udah ga cinta lagi sama gue?” tanya Randy yang masih berdiri menghadap Laura.


“Kata cinta itu bukan terlontar dari bibir, tapi dari hati yang ketika itu dia mampu untuk menjaga cintanya agar tetap halal baginya dengan doa yang selalu ia panjatkan di sepertiga malamnya.” Jawab Laura yang kemudian tersenyum.


“Kalau begitu izinin gue untuk jadi orang yang akan selalu lo doakan di sepertiga malam itu!” pinta Randy.


Laura kemudian berdiri, “kalau itu lo ga perlu minta, jika lo yang bakalan jadi jodoh gue, tanpa gue sebut nama lo dalam doa gue, lo dan gue akan tetap bersatu sesulit apapun rintangannya.” Jawab Laura yang kemudian berjalan meninggalkan Randy.


“Ra,” Laura sejenak menghentikan langkahnya, “jika lo hari ini terima lamaran gue, gue akan tetap disini tapi jika lo tolak gue janji bakalan pergi dari hidup lo, gue akan keluar negeri, karena ketika lo tolak gue, gue ga akan pernah sanggup melihat lo harus bersanding dengan orang lain.” Ucap Randy dengan tegas.


“Gue tunggu jawaban dari lo di danau tempat gue merenungkan diri besok jam 3 sore!” perintah Randy yang kemudian berjalan mendahului Laura.


Randy pergi meninggalkan Laura dengan tatapan penuh dengan rasa kecewa.


“Gue pasti datang kok, mungkin besok adalah waktu terakhir kita jumpa,” jawab Laura yang membuat Randy benar-benar terkejut.


Randy benar-benar tak menyangka bahwa wanita yang ia cintai kini sudah tidak menginginkannya lagi.


Wah wah udah mau ending nih, gimana nih perasaannya?


Sedih? senang?


SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.


Jangan lupa di follow ya teman,😉


IG : @febiayeni21

__ADS_1


FB : Febi Ayeni


__ADS_2