
Setelah selesai memilih-milih pakaian akhirnya pun mereka pergi ke sebuah masjid yang tak jauh dari mall ini. Ya waktu sudah mau memasuki waktu shalat Ashar. Mereka berempat pun yang tak mau terlambat pun akhirnya segera bergegas untuk ke masjid terdekat.
Setelah selesai melaksanakan shalat Ashar Dimas dan Angga pun mengantar Laura dan Aliya pulang, ya mereka berangkat sesudah shalat zuhur tadi. Bukannya mereka tidak mau untuk berlama-lama pergi, tapi mereka sama-sama ingin menjaga batasan agar tidak menimbulkan fitnah. Bukannya lebay atau apapun, tapi bagi mereka alangkah baiknya lebih mengantisipasi hal-hal yang seperti itu.
Mereka berempat yang baru saja sampai dirumah Laura dan Aliya pun, tak lupa untuk menyampaikan niat baiknya yang ingin melamar Laura secara resmi beberapa hari lagi. Dimas yang sudah duduk tepat di depan Echa pun tak mau bertele-tele lagi. Dengan penuh keyakinan, Dimas mulai menyampaikan niat baiknya itu.
"Tan, sebelumnya Dimas minta maaf kalau menurut tante ini terlalu cepat, tapi Dimas hanya ga mau berlama-lama di posisi seperti ini. Dimas juga sadar Laura perempuan yang sangat sulit dijumpai pada zaman modern seperti ini. Jadi Dimas mohon izin sama tante untuk melamar Laura secara resmi 3 hari lagi!" pinta Dimas dengan tegas.
"Kamu serius Dimas?" tanya Echa dengan sangat terkejut. Ya bagaimana tidak, seminggu yang lalu Dimas baru meminta izin padanya untuk dapat mengenal Laura dan hari ini Dimas sudah memohon izin padanya untuk melamar Laura 3 hari lagi.
"Iya tan, Dimas serius ingin menikahi Laura. Dimas minta maaf kalau kedatangan Dimas hari ini membuat tante terkejut, tapi Dimas hanya ingin hubungan Dimas dan Laura menjadi hubungan yang halal. Dimas juga ngerti kok tante pasti sangat terkejut, karena Dimas dan Laura baru kenal, tapi Dimas yakin jika Dimas dan Laura memilih jalan yang Allah ridhoi, insyaallah Allah pasti berikan jalan yang terbaik pada Dimas dan Laura." Jawab Dimas dengan sangat tegas.
"Tanten ga bisa memutuskan secara sepihak saat ini, karena disini Laura yang akan menjalankannya, jadi semua itu tergantung dengan Lauranya sendiri. Kalau menurut tante sih tante setuju-setuju aja tapi kembali lagi, Laura yang lebih berhak untuk memilih jalan hidupnya sendiri." Ucap Echa yang kemudian tersenyum.
"Laura, Mama tanya sama kamu, apakah kamu sudah siap untuk berumah tangga dengan Dimas?" tanya Echa sambil memegang tangan kanan Laura.
"Insyaallah Laura siap Ma," jawab Laura sambil mengelus tangan Echa.
"Alhamdulillah," jawab Echa, Dimas, Aliya dan juga Angga secara bersamaan.
"Kalau begitu nanti untuk masalah dekorasi maupun konsumsinya biar Dimas dan Angga yang urus, tante ga usah repot-repot!" pinta Dimas sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu," jawab Echa tersenyum.
"Kalau gitu Dimas sama Angga balik dulu ya tan," ucap Dimas yang kemudian berdiri diikuti dengan Angga.
"Iya iya," jawab Echa.
"Assalammu'alakum tan," ucap Dimas dan Angga secara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Echa, Laura dan juga Aliya.
Malam ini Laura sangat senang, karena kejadian pada hari ini benar-benar seketika mampu membuatnya sulit tidur. Laura pun mengambil buka diarynya untuk mengungkapkan isi hati yang tengah dilanda kebahagian.
Dear Diary,
Gue ga nyangka hari ini gue bisa sebahagia ini. Bagi gue Mas Dimas adalah sosok seorang laki-laki yang perfect, tanpa harus menebarkan janji sana sini, namun ia mampu membuat ku benar-benar jatuh cinta. Gue ga peduli berapa banyak orang yang ga suka dengan hubungan gue dengan Mas Dimas diluar sana, karena ini adalah hidup gue, gue yang berhak memilih pilihan hidup gue, karena gue yang akan jalani.
__ADS_1
Untuk Randy, gue ga pernah benci sama lo, gue juga bukan ga mau beri lo kesempatan, tapi lo datang terlambat, gue ga bisa nyakitin Mas Dimas yang telah berjuang untuk gue. Dan gue mohon sama lo please, jangan lagi datang di hidup gue meskipun hanya dalam imajinasi gue. Izinin gue bahagia Ran, gue mencintai Mas Dimas sejak pertama kali kami bertemu di taman.
Mas Dimas memang ga seromatis lo Ran, tapi Mas Dimas mampu membuat gue benar-benar terpesona dengan ketaqwaannya kepada sang khalik. Mas Dimas mampu memeberikan kedamaian dalam hati gue. Dia juga mampu memuliakan gue sebagai wanita. Gue benar-benar merasa beruntung bisa miliki seseorang seperti Mas Dimas.
Laura,
"Udah ah mending gue tidur," ucap Laura yang langsung menutup buku diarynya.
Keesokan harinya,
Pagi ini wajah Laura begitu berseri-seri. Laura pun langsung pergi kerja tanpa sarapan dulu, dikarenakan ada tugas yang harus ia kerjakan pagi ini.
"Ma Laura pergi kerja dulu ya, Assalammu'alakum," ucap Laura yang langsung mencium tangan dan pipi Echa untuk berpamitan.
"Kamu ga sarapan dulu Ra?" tanya Echa yang sedang menyiapkan sarapan.
"Ga Ma, Laura nanti makan di kantin aja, Laura lagi buru-buru nih mau ngerjain tugas Ma," jawab Laura sambil tersenyum.
"Tau deh yang lagi bahagia itu," ledek Aliya.
"Kamu cemburu ya," jawab Laura yang kembali meledek Aliya.
"Udah ah, Laura mau berangkat dulu, Assalammu'alakum," ucap Laura yang mencium kembali tangan dan pipi Echa untuk berpamitan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Echa dan Aliya bersamaan.
"Hati-hati ya Ra," teriak Echa.
"Iya Ma," jawab Laura.
Di hari yang sangat cerah Laura merasa tiba-tiba ingin membeli makanan diluar rumah sakit ini. Namun ketika Laura baru saja keluar untuk mencari makanan yang ia inginkan, tiba-tiba saja Randy datang, namun sayangnya Randy tak menemui Laura diruangan kerjanya. Randy tidak berputus asa, Randy langsung menelpon Laura.
DRIIIIINGGG... DRIIIIINGGG... DRIIIIINGGG..
Randy yang masih berdiri di depan pintu ruangan Laura pun mendengar suara handphone yang berasal dari dalam ruangan Laura. Randy mulai curiga bahwa ternyata Laura keluar tidak membawa handphone. Ya benar saja handphone Laura sangat terlihat dari luar yang berada di atas tumpukan buku-bukunya.
"Laura, Laura kebiasaan amat sih ninggalin handphone," ucap Randy.
__ADS_1
DRIIIIINGGG... DRIIIIINGGG...
Handphone Randy berdering tanda ada panggilan masuk. Dan ternyata telpon dari sekretarisnya sendiri.
"Halo," ucap Randy.
"Halo Pak, Bapak dimana client kita udah nunggu di cafe move on?" tanya sekretarisnya.
"Bilang sama client kita, saya lagi on the way!" pinta Randy.
"Baik Pak," jawab sekretarisnya. Randy pun langsung mematikan telponnya.
"Astagfirullah, gue kok bisa lupa ya ada janji makan siang sama client," ucap Randy sambil menepuk pelan keningnya.
Randy pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengajak Laura makan siang, dikarenakan kesalahan sendiri yang tidak lihat jadwal kerja.
"Bos macam apa gue ini, bisa-bisanya gue lupa dengan jadwal gue sendiri," celoteh Randy sambil berjalan menuju mobilnya.
Tanpa menunggu waktu lama akhirnya Randy sudah sampai ke cafe move on. Dengan membawa berkas-berkas yang ia perlukan, Randy pun berjalan dengan gagahnya menghampiri client yang sudah menunggu dari tadi.
"Maaf Pak Wahyu saya datang terlambat," ucap Randy sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Iya ga apa-apa kok, saya maklum kok, kamu sangat sibuk pastinya kan?" tanya Pak Wahyu.
"Hehe, iya Pak," jawab Randy sambil tertawa kecil, "sibuk dengan masalah hati lebih tepatnya," lanjut Randy dalam hati.
Randy pun akhirnya menjelaskan semua tentang perusahaannya kepada Pak Wahyu, yang tak lain adalah sahabat papanya sendiri. Dengan sangat detail Randy menjelaskan kiat-kiat perusahaannya.
Oke guys segini dulu ya guys, sorry typo ya guys,🙏🙏
Maaf yang pada ga suka kalau Dimas saya pasangin sama Laura. 🙏🙏
Saya mau nanya dong alasan kalian memasangkan Laura dengan Dimas atau Laura sama Randy, silahkan dijawab di kolom komentar ya guys, Terimakasih.🤗
Duh, nampaknya saya mulai ga bisa move on nih dari Angga, sampai-sampai mau ngetik nama terus.🤗
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
__ADS_1
IG : @febiayeni
FB : Febi Ayeni