
"Kenapa sih semua orang buat gue kesel aja," celoteh Randy sambil membuka undangan Dimas yang ia pegang dari tadi.
"Siapa sih calonnya si Dimas?" tanya Randy.
Deg, seperti disambar petir di siang bolong, itu lah yang Randy rasakan saat membaca nama calon tunangan Dimas.
"LAURA SHALSABILA," ucap Randy yang membuat jantung Laura berdetak begitu kecang.
"Ga, ga mungkin ini Laura yang sama. Gue yakin ini pasti cuma kebetulan," ucap Randy tak percaya. Untuk memastikan benar atau salahnya dugaan ini, Randy pun memutuskan untuk melihat alamat rumah si wanitanya.
Jeder, petir menyambar hatinya yang tengah gundah ini. Sakit yang teramat dalam ia rasakan, dimana wanita yang sangat ia cintai harus bertunangan dengan sahabatnya sendiri. Randy mengepal kuat tangannya sendiri, tak mampu ia meredam emosinya lagi. Dengan rasa penuh kekecewaanya terhadap Dimas yang telah berkhianat kepadanya, dengan tegas Randy langsung bergegas untuk menghampiri Dimas yang berada di kantor. Sepanjang perjalanan menuju kantor Randy terus-terusan meluapkan ke kesalannya dengan memukul-mukul setir mobilnya.
"Gue ga nyangka sama lo Dim, padahal lo udah tau kalau gue sayang banget sama Laura," ucap Randy dengan sangat kesal.
"Aaaaggghh," teriak Randy.
Sesampainya Randy di kantor, dengan langkah penuh dengan emosi yang berkobar-kobar, Randy pun menghampiri ruangan kerja Dimas. Seluruh karyawan dan staff yang melihat Randy, ketakutan melihat sikap Randy yang tak seperti biasanya.
"DIMAS," panggil Randy tegas.
"Lho, kok lo bisa disini sih Ran, bukanya lo bilang lo lagi sakit ya?" tanya Dimas yang berusaha untuk tetap tenang dengan Randy yang sedang di landa amarah.
"Udah deh lo ga usah banyak basa basi, gue udah tau semuanya," ucap Randy yang menghampiri Dimas yang masih duduk.
"Maksud lo apa sih Ran?" tanya Dimas yang kebingungan.
"INI," ucap Randy tegas sambil meletakkan undangan di atas meja Dimas.
"Ini kan undangan gue, salahnya gue apa?" tanya Dimas yang masih tidak mengerti maksud dari perkataan Randy.
"Udah deh lo ga usah pura-pura lagi," ucap Randy dengan amarah yang berkobar-kobar.
GUBRAAAKKKK,
Randy tak sanggup lagi meredam amarahnya, dengan sangat emosi ia memukul meja kerja Dimas dengan sangat kuat.
"DASAR PENGKHIANAT," tegas Randy, Randy yang tak ingin jadi tontonan oleh para karyawan-karyawannya pun langsung pergi meninggalkan Dimas yang masih kebingungan.
"Randy ngomong apa sih?" tanya Dimas kebingungan sendiri. Dimas pun langsung mengambil undangan tersebut untuk mencari kejanggalan yang menyebabkan Randy marah besar kepadanya. Dimas terus membaca undangan tersebut dengan sangat detail, hingga pada akhirnya mata Dimas berhenti berkedip saat melihat nama Laura yang ditulis dengan gelar dokter di depan namanya.
Flashback,
__ADS_1
"Angga, Dimas, gue mau cerita ni sama kalian, gue harap kalian punya solusi untuk gue," ucap Randy yang memulai membuka pembicaraan.
"Bicara aja kali Ran, santai aja." Jawab Dimas sambil menyeduh kopinya.
"Gue ketemu sama mantan gue di rumah sakit, dan ternyata dia dokter disana," ucap Randy dengan wajah yang sangat serius.
"Lah terus?" tanya Dimas.
"Dia adalah wanita yang sampai saat ini gue sayangi, tapi gue pernah ngecewain dia, hingga akhirnya dia benar-benar pergi dari hidup gue," jawab Randy sambil menundukkan kepalanya.
"Gue sekarang benar-benar bingung gimana caranya biar gue bisa balikan lagi sama dia," ucap Randy.
"Emangnya penampilan dia sekarang gimana?" tanya Dimas.
"Sekarang sih penampilannya lebih tertutup, dia sekarang pakai hijab, dan dia juga ga mau megang tangan gue pas gue mau bantuin dia," jawab Randy yang kemudian menyeduh kopinya.
"Yaelah Randy, Randy. Yaiyalah dia ga mau megang tangan lo, cewek kayak gitu mah langka, kalau gue yang ketemu dia bisa-bisa langsung gue lamar dia," ledek Angga sambil cengengesan.
"Awas aja lo berani-beraninya nikung gue, gue jadiin kuah batagor lo!" ancam Randy.
"Ya cewek kayak gitu, lo ga bisa dapatin dia dengan cara pacaran Ran, karena cewek kayak gitu hanya butuh pernikahan bukan main-main lagi," jawab Dimas.
"Terus gue harus gimana dong sekarang?" tanya Randy yang mulai bimbang.
"Hehe ya sorry namanya gue masih ingin menikmati kebebasan dimasa-masa muda gue," ucap Dimas cengengesan.
"Jadi menurut lo kita berdua udah tua gitu?" tanya Dimas sambil menunjuk dirinya dan Angga.
"Ya kalau kalian kan memang udah terbiasa ibadah, kalau gue mah shalat aja syukur," jawab Randy santai.
"Terus apa yang lo banggain?" tanya Dimas sontak membuat Randy terdiam.
"Emang nama ceweknya siapa sih Ran?" tanya Angga penasaran.
"Namanya Laura," jawab Randy sambil tersenyum manis.
"Terus sekarang lo yakin mau dekatin dia dengan lo yang sering ninggalin shalat gini?" tanya Dimas yang membuat Randy benar tersentuh hatinya.
"Iya lo itu harus berubah Ran, emangnya lo mau nanti dia ngomong gini 'Allah aja kamu tinggalin apalagi aku yang hanya manusia biasa', mau lo dikatain gitu sama Laura?" tanya Dimas.
"Iya juga ya kenapa gue baru sadar ya," jawab Randy.
__ADS_1
"Kalau gitu lo berdua harus bantuin gue biar bisa hijrah yang sempurna!" pinta Randy sambil tersenyum.
"Tapi lo harus perbaiki dulu niat lo, lo itu hijrah karena cewek atau karena Allah?" tanya Angga.
"Oke gue akan berubah, gue malu ngumpul-ngumpul bareng lo lo pada yang paham banget dengan agama, sedangkan gue berandalan gini," jawab Randy.
"Oke kita berdua akan bantuin lo Ran," ucap Dimas sambil menepuk pelan pundak Randy.
"Makasih ya, lo berdua memang teman-teman gue yang paling bisa di andalin," jawab Randy.
Back,
"Astagfirullah, pantesan Randy marah banget ke gue, ternyata Laura yang dia bilang adalah Laura yang sama dengan gue," ucap Dimas yang merasa bersalah dengan Randy.
"Gue harus kerumah Randy sekarang, gue harus jelasin semuanya, gue benar-benar belum kenal sama Laura pas Randy curhat sama gue," ucap Dimas sambil membereskan barang-barangnya dan kemudian pergi untuk segera menjelaskan kesalahpahaman ini kepada Randy.
Setelah beberapa menit kemudian Dimas pun akhirnya sampai di depan rumah Randy. Tanpa pikir panjang Dimas langsung menekan tombol bel rumah Randy.
Ting... Nung... Ting... Nung...
Tanpa menunggu waktu lama Bik Ijah pun membukakan pintu.
"Eh ada den Dimas," ucap Bik Ijah dengan sangat ramah.
"Bik, Randy nya ada kan?" tanya Dimas dengan sangat tergesa-gesa.
"Ada den dikamarnya," jawab Bik Ijah.
"Assalammu'alakum," ucap Dimas yang kemudian masuk kerumah Randy. Ya rumah Randy sudah seperti rumah Dimas sendiri. Dan terkadang Dimas maupun Angga sering menginap di rumah Randy. Persahabatan mereka sudah seperti keluarga sendiri.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bik Ijah.
Dimas sama sekali tak peduli lagi dengan resiko apapun yang terjadi dengannya nanti ketika Randy melihatnya. Meskipun pada akhirnya Randy akan memukuli, Dimas sudah siap karena Randy berhak marah padanya, walaupun ini bukan kesalahannya seutuhnya. Biar bagaimana pun juga Dimas tetap merasa bersalah karena ia tak pernah memberitahukan kepada Randy tentang ia sudah menemukan cintanya. Andai saja waktu itu Dimas menceritakan bahwa ia sedang menjalani ta'aruf dengan Laura, mungkin semuanya tidak bakalan serumit ini, namun apalah daya nasi sudah menjadi bubur, Dimas juga tak mungkin membatalkan lamarannya dengan Laura karena Dimas benar-benar tidak ingin menyakiti perasaan Laura.
Oke guys, gimana masih greget ga?
Sebutin juga dong guys unek-unek kalian ke author,😊
SYUKRON, JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRAN WA JAZAKUMULLAH AHSANAL JAZA, WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
IG : @febiayeni
__ADS_1
FB : Febi Ayeni