
****
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu ruangan Laura.
"Iya silahkan masuk," sahut Laura yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya.
"Assalammu'alakum," ucap seorang pria sambil tersenyum namun Laura sama sekali tidak memperhatikannya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Laura yang masih saja sibuk dengan kerjaannya sendiri tanpa memperhatikan seorang pria yang masuk keruangannya itu. Hingga pada akhirnya pulpen milik Laura pun terjatuh dan dengan sigap pria itu langsung mengambil pulpen yang jatuhnya tak jauh darinya itu.
"Jangan serius-serius amat kali Ra," jawab pria tersebut sambil meletakkan pulpen milik Laura di atas meja kerja Laura.
"Kak Dimas?" tanya Laura yang tidak menyangka bisa ketemu Dimas disini. Ya pria tersebut adalah Dimas, pria yang kemarin pagi ia jumpai di taman.
"Ya Allah Ra, kemarin manggilnya Mas sekarang manggilnya Kak, yang benar mana sih Ra?" jawab Dimas dengan pertanyaan lagi.
"Iya deh maaf-maaf," ujar Laura sambil menahan-nahan senyumnya karena malu.
"Oh ya ngomong-ngomong kak Dimas kok bisa disini?" tanya Laura yang penasaran.
"Papa saya darah tingginya naik lagi, tapi sekarang udah mendingan kok," jawab Dimas yang berusaha menyembunyikan sedihnya.
"Turut berduka cita ya kak," ujar Laura yang ikut prihatin dengan kondisi papa dari Dimas.
"Ra, saya kesini mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Dimas yang sekali-kali menatap mata Laura.
"Mau ngomong apa sih Kak, buat penasaran aja," ledek Laura sambil tersenyum tipis dan kemudian melanjutkan kerjanya yang masih terbengkalai itu.
"Kamu pulangnya masih lama?" tanya Dimas yang mengalihkan pembicaraan.
"Bentar lagi kok Kak," jawab Laura sambil melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 17.25.
"Saya boleh tau rumah kamu dimana Ra?" tanya Dimas tanpa basa-basi lagi.
"Lah kok nanya-nanya rumah saya sih Kak? jawab Laura dengan pertanyaan lagi sambil tersenyum kecil.
"Ya biar lebih akrab aja sih Ra," jawab Dimas yang mulai gugup.
__ADS_1
"Ohh gitu. Rumah aku ga jauh kok dari rumah sakit ini kak, cari aja nomor RL97 warna hijau Kak." Ucap Laura menjelaskan alamat tempat tinggalnya.
"Oh oke deh Ra, kalau gitu aku balik dulu ya," jawab Dimas yang kelihatan sangat gugup.
"Iya Kak," jawab Laura sambil tersenyum kecil melihat tingkah Dimas yang beda dari laki-laki lain yang pernah ia jumpai.
"Assalammu'alakum," ucap Dimas yang sudah sampai di ambang pintu sambil tersenyum malu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Laura yang begitu terhibur dengan sikap Dimas yang lucu itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.50 Laura pun akhirnya selesai mengerjakan tugas-tugasnya yang begitu banyak ini. Laura yang seperti kena sihir pun berjalan menuju rumahnya sambil tersenyum-senyum bahagia mengingat tingkah Dimas yang lucu itu. Setelah beberapa menit berjalan akhirnya Laura sampai dirumahnya juga.
"Assalammu'alakum," teriak Laura sambil membuka pintu rumahnya yang memang jarang dikunci.
"Wa'alaikumsalam Non," jawab Bik Inah yang langsung menghampiri Laura yang baru saja sampai.
"Mama sama Aliya mana Bik?" tanya Laura yang heran, tak biasanya mereka berdua tidak ada di ruang tamu ketika Laura pulang kerja.
"Ibuk ada dikamar non Aliya jagain non Aliya, Non." Jawab Bik Inah.
"Jagain Aliya, emangnya Aliya kenapa Bik?" tanya Laura lagi.
"Non Aliya demam Non, tadi siang sih Non Aliya bilang sama Bibik kalau non Aliya habis kecebur di kolam berenang Non," jawab Bik Inah menjelaskan kronologisnya.
"Iya Non," jawab Bik Inah sambil menutup pintu rumah.
"ALIYA, AL," teriak Laura dari luar kamar Aliya.
"Aliya kamu kenapa?" tanya Laura yang begitu panik dan kemudian berlari menghampiri Aliya yang terbaring lemah itu.
"Aku ga apa-apa kok Kak," jawab Aliya sambil berusaha tersenyum dengan wajahnya yang begitu pucat itu.
"Ga apa-apa gimana sih Al, pucat gini dibilang ga apa-apa," ucap Laura yang langsung mengambil stetoskop dari tasnya.
"Kata Bibik kamu kecebur ke kolam berenang ya?" tanya Laura sambil memeriksa kondisi Aliya saat ini.
"Iya Kak," jawab Aliya singkat.
"Kamu udah minum obat?" tanya Laura sambil mengelus rambut indah Aliya.
__ADS_1
"Udah kok Kak," jawab Aliya sambil tersenyum bahagia melihat kepedulian Laura terhadapnya.
"Ra, kamu mandi dulu sana Aliya biar Mama yang jaga aja dulu!" perintah Echa sambil mengelus bahu Laura.
"Yaudah kalau gitu Ma, nanti kalau Laura udah selesai mandi Laura langsung kesini gantiin Mama jaga Aliya," jawab Laura yang langsung berdiri.
"Iya Ra," sahut Echa sambil tersenyum. Laura pun akhirnya pergi meninggalkan Aliya dan Echa.
"Kak Laura apa ga ada capeknya ya Ma?" tanya Aliya yang begitu kagum dengan Laura yang selalu sigap melakukan apapun.
"Kak Laura bukan ga capek, tapi dia lebih memilih untuk tidak mengeluh, karena ketika kita mengeluh sekecil apapun capek yang kita rasakan akan terasa jauh lebih berat kalau kita lebih banyak mengeluh dari pada bersyukur." Jawab Echa sambil mengelus rambut Aliya.
"Aliya bangga punya kakak seperti kak Laura Ma, yang tidak suka mengeluh meskipun Aliya tau dia pasti capek banget habis kerja di rumah sakit." Ujar Aliya yang sedih melihat perjuangan Laura kepada keluarga ini.
15 menit kemudian Laura pun selesai mandi dan memakai pakaiannya. Tanpa berpikir panjang Laura langsung kembali ke kamar Aliya untuk menggantikan posisi Echa dalam merawat Aliya yang sedang terbaring lemah itu.
"Ma, Laura udah siap Mama istirahat aja dulu!" perintah Laura sambil mengelus pundak Echa yang sedang duduk di tempat tidur Aliya.
"Yaudah kalau gitu, nanti kalau ada apa-apa panggil Mama aja ya," perintah Echa sambil mengelus satu persatu kepala Aliya dan Laura.
"Iya Ma pasti," jawab Laura sambil tersenyum.
Echa pun akhirnya pergi meninggalkan Aliya dan Laura di kamar.
"Kak," panggil Aliya.
"Aku pengen pakai hijab," ucap Aliya yang membuat Laura begitu terkejut.
"Kamu serius?" tanya Laura untuk memastikan kebenaran dari ucapan Aliya.
"Aliya serius Kak, rasanya apalagi sih yang jadi alasan Aliya untuk nunda-nunda pakai hijab, sementara semuanya udah Aliya dapatin, masa iya cuma pakai hijab mau ditunda lagi." Jawab Aliya dengan sangat tegas.
"Kakak senang kalau kamu mau pakai hijab Al, kakak pasti dukung kamu kok, tapi kamu juga harus sabar menghadapi omongan-omongan orang yang ga semuanya dapat menerima penampilan kita yang baru." Ucap Laura untuk menguatkan Aliya apabila terjadi sesuatu dengan dikemudian hari.
Oke guys, segini dulu ya guys.
Jangan lupa masuk grub chat nya ya guys biar bisa ngasih info tentang novel ini.
SYUKRON Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza WASSALAMMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.
__ADS_1
IG : @febiayeni
FB : Febi Ayeni