Aku Pergi

Aku Pergi
Episode 62


__ADS_3

"Yank, kamu salah menilai Laura. Sebenarnya Laura memang mantan aku tapi kita memang benar - benar ga ada hubungan lebih dari sahabat!" Ucap Randy.


"Aku nemuin dia cuma mau ngasih ini!" Lanjut Randy sambil mengangkat undangan yang belum sempat diambil Laura.


"Terus kenapa kamu peluk - pelukan sama dia kayak gitu?" Tanya Chika sambil menangis.


"Aku yang minta sama dia untuk bisa peluk dia untuk terakhir kalinya sebelum aku resmi jadi suami kamu!" Jawab Randy.


"Laura udah mengiklaskan aku untuk kamu. Dia bilang kamu memang ditakdirkan untuk aku bukan untuk dia!" Ucap Randy dengan mata yang mulai berkaca - kaca.


"Terus sekarang kamu sekarang milih aku atau Laura?" Tanya Chika dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Aku milih kamu, karena aku ga mau ngehancurin semua yang udah kita persiapkan dari jauh hari!" Jawab Randy yang membuat Chika menyesal atas apa yang ia perbuat dengan Laura.


"Laura justru mengorbankan perasaannya demi melihat kamu bahagia Chika!" Lanjut Randy.


"Dia relain cinta yang ia punya demi mempertahankan persahabatannya dengan kamu Chik!" Ucap Randy yang perlahan membuat air matanya terjatuh.


"Tapi apa yang kamu lakukan untuk dia Chik?" Tanya Randy sambil memegang bahu Chika.


"Apa kamu pernah ngorbankan perasaan kamu untuk buat dia bahagia sedikit aja Chik?" Tanya Randy lagi dengan nada yang mulai meninggi.


"Dia udah begitu banyak ngorbankan perasaannya demi melihat lu bahagia Chik!" Ucap Randy lagi.


"Bahkan asal kamu tau dia sengaja ga pernah mau jumpa sama aku karena apa, dia ga mau melihat kamu terluka Chik!" Lanjut Randy.

__ADS_1


"Cukup Randy cukup!" Jawab Chika sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.


"Aku ga mau dengar apa pun lagi dari kamu!" Ucap Chika dengan air mata yang tak henti - hentinya mengalir.


"Chika, yang dia harapkan dari pengorbanannya selama ini hanya untuk tetap bisa terus bersahabat dengan kamu!" Jawab Randy.


"Harusnya kamu bisa ngertiin dia sedikit aja!" Ucap Randy.


"Cukup Ran, cukup!" Ucap Chika yang merasa sangat bersalah.


Randy pun kemudian memeluk Chika yang sudah menangis. Sedangkan Laura sepanjang perjalanan menuju rumahnya tak henti - hentinya menangis.


"Semua yang gue takutin selama ini sudah menjadi kenyataaan yang begitu pahit. Gue harus kehilangan dua orang yang paling gue sayangi. Chika sahabat gue, yang gue anggap sahabat terbaik yang gue miliki selama ini udah ga mau lagi bersahabat dengan gue!" Ucap Laura sambil terus menghapus paksa air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir.


"Dan gue juga harus kehilangan Randy orang yang gue sayangi demi membahagiankan lu Chika, tapi kenapa lu ga bisa ngertiin gue sih Chik, sedikit aja!" Ucap Laura.


Laura kini sudah berada di kamarnya. Laura menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Kepalanya sudah mulai pusing di akibatkan terlalu lama menangis. Jam sudah menunjukkan pukul 18.00, Aliya yang sejak tadi sore tidak melihat Laura pun perlahan membuka pintu kamar Laura untuk melihat kondisi Laura saat ini.


"Kak, kak Laura bangun udah mahgrib nih kakak ga shalat?" Tanya Aliya sambil menggoyang - goyangkan tubuh Laura yang sudah tertidur lelap.


"Kamu duluan aja Al!" Jawab Laura dengan suara yang sedikit serak.


"Kakak kenapa?" Tanya Aliya sambil meletakkan punggung tangannya di kening Laura.


"Lho kakak sakit, kok ga ngomong sih kak?" Tanya Aliya lagi. Karena ternyata Laura demam.

__ADS_1


"Aliya ambilin kakak obat ya!" Lanjut Aliya sambil berjalan keluar kamar Laura untuk mengambilkan paracetamol untuk menurunkan panas pada tubuh Laura.


Aliya pun akhirnya pun sudah mendapatkan paracetamol untuk Laura di kotak P3K yang berada di dekat kamar Aliya. Aliya pun tak lupa mengambil kain untuk mengompres Laura.


Aliya yang sudah kembali ke kamar Laura pun segera memberikan kain kompresan pada kening Laura. Namun Laura mengembalikan kompresan itu kepada Aliya dan berkata :


"Kamu ga usah repot - repot ngobatin kakak Al, kakak lebih baik mati aja. Orang - orang diluar sana ga pernah ngertiin kakak sama sekali!" Ucap Laura.


"Kakak kok ngomong gitu sih, kan masih ada Aliya sama Mama yang ngertiin kakak!" Jawab Aliya.


"Udah deh Al, kakak butuh waktu sendiri!" Ucap Laura.


"Tapi kak!" Jawab Aliya.


"ALIYA!" Ucap Laura dengan nada membentak. Aliya pun akhirnya berjalan keluar dari kamar Laura.


Jangan lupa coret - coret di kolom komentar ya guys🤗


Jangan lupa juga like, koment dan share ke sosmed kalian masing - masing ya😉


Ketika kalian share novel saya ke teman - teman kalian yang lain artinya kalian telah berbagi rezeki kepada author..


TERIMAKASIH. . . .


Instagram : @febiayeni

__ADS_1


Facebook : Febi Ayeni


__ADS_2