
****
"Saat ini yang bisa gue lakukan hanyalah menangis, gue ga bisa apa - apa saat ini semuanya sudah terjadi. Gue tau semua ini salah gue karena gue ga jujur dari dari awal, atau mungkin ini adalah karma yang gue dapatin karena dulu gue pernah ninggalin Randy begitu saja. Kecewa, jangan ditanya lagi so pasti, tapi gue tau bahwa yang maha pencipta itu ngasih gue ujian ini karena gue pasti mampu menghadapinya.
Saat ini hati gue benar - benar kacau seperti lagu (Balon ku ada lima) heh, miris bukan?
Tapi gue selalu ingat kata - kata Mama bahwa sang Pencipta itu tidak pernah tidur dan selalu mengawasi gue dimana pun gue berada. Andai saja jika gue ngakhiri hidup gue sekarang juga semuanya bisa kembali seperti yang gue harapkan maka gue akan lakukan itu. Tapi gue tau itu bukan jalan satu - satunya, masih banyak lorong yang bisa gue lewati tanpa harus merusak kepercayaan dari orang - orang disekitar gue. Layaknya seperti labirin jika kita sudah masuk kedalamnya berbagai cara pasti akan kita lakukan agar bisa keluar dari labirin itu tanpa harus merusak tembok yang berada disekitar kita, jika kita salah masuk ruang labirin itu maka kita harus keluar lagi dan mencoba ruang lainnya sampai kita benar - benar keluar dari labirin itu, begitu pula dengan hidup banyak pintu yang bisa kita lewati, jika kita gagal dalam suatu hal pasti ada hal lain yang akan membuat kita berhasil bahkan sebelumnya kita sama sekali tidak pernah menyangka itu bakalan terjadi karena kita hanya bisa mencoba dan terus mencobanya.
Sakit yang gue rasain saat ini hanya gue yang bisa obati, karena gue tau sebanyak apapun kata - kata motivasi diluar sana takkan mampu mengubah apa - apa, jika gue tak pernah mau mencoba untuk bangkit. Gue ingin marah tapi marah ke siapa?
Diri gue sendiri?
Ya Rabbi, hamba benar - benar tak mampu bangkit dari ujian-Mu ini, hamba rapuh ya Rab, ganti lah semua air mata hamba ini dengan sesuatu yang lebih baik lagi ya Rab".
Tak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat namun Laura masih terbaring lemah diatas tempat tidurnya. Masih terlihat jelas dipikiran Laura tentang kejadian yang baru beberapa hari yang lalu ia hadapi. Tubuh Laura masih sangat lemah untuk diajak berdiri, dadanya masih begitu sesak dan matanya masih bengkak karena menangis. Aliya yang melihat Laura yang tak bisa apa - apa itu pun ikut merasakan sedih yang Laura rasakan. Dengan penuh semangat Aliya berjalan mendekati Laura yang masih terbaring lemah itu dan duduk disampingnya.
"Kak, udah dong sedihnya ga bosen apa dikamar mulu?" tanya Aliya dengan raut wajah yang sedih.
"Kakak ga kasian liat Mama bersih - bersih sendirian, ngerjain pekerjaan rumah sendirian sedang aku harus sekolah jadi ga bisa bantu Mama beres - beres?" ucap Aliya mencoba membangkitkan semangat Laura lagi.
"Aliya tau kok, kakak masih kepikiran dengan kejadian kemarin kan?" tanya Aliya lagi namun Laura masih diam.
__ADS_1
"Kak, besok kakak udah harus kerja lho, masak iya Dokter nya izin karena sakit sih, kan ga lucu," ledek Aliya sambil tersenyum.
"Kak, Ayo dong bangkit lagi Aliya bosan ga ada teman curhat," lanjut Aliya sambil memeluk tubuh Laura.
"Yaudah sekarang Aliya tinggal dulu ya kak, tapi ingat kakak ga boleh lama - lama sedihnya ga baik untuk kesehatan kakak nantinya," ucap Aliya sambil tersenyum dan menepuk pelan pundak Laura.
Keesokan harinya ...
"Pagi Ma, pagi juga Al," sapa Laura yang baru keluar dari kamarnya dengan menggunakan seragam berwarna putih dan dengan hijab persegi yang menjulur hingga menutup dadanya serta menggantugkan jas putih di atas lengan kirinya, tak lupa juga Laura menyunggingkan senyuman manisnya sembari menebarkan semangat di pagi hari ini.
Echa dan Aliya yang melihat penampilan Laura yang tak biasanya ini, terkejut dengan perubahan Laura yang begitu drastis. Echa dan Aliya masih melihat Laura dengan tatapan kebingungan mereka ditambah lagi Laura terlihat begitu cantik mengenakan kostum itu.
Laura sama sekali tidak memperhatikan tatapan dari Echa dan Aliya yang sedang melihatnya dengan tatapan sinis, Laura hanya fokus pada tujuan ke meja makan yaitu untuk sarapan pagi. Perlahan Laura mulai mengambil segelas susu yang berada didepannya lalu segera meminumnya. Suasana di meja makan saat ini begitu hening sehingga membuat Laura kebingungan dan mulai membuka suara.
"Kakak berhijab?" tanya Aliya tanpa menjawab pertanyaan yang barusan Laura lontarkan.
"Iya," jawab Laura sambil tersenyum.
"Kok tumben Kak, apa memang disuruh pakai hijab sama atasan Kakak?" tanya Aliya dengan raut wajah kebingungannya.
"Emangnya ga boleh ya, kan Kakak pengen nutupin aurat?" tanya Laura lagi sambil menatap kedua bola mata Aliya.
__ADS_1
"Ya boleh Kak, tapi kan ga biasanya Kakak seperti ini," Jawab Aliya.
"Iya sih, tapi Kakak cuma mau berubah jadi yang lebih baik aja Al," ucap Laura.
"Bagus deh Kak kalau memang itu tujuan Kakak, aku dukung kok," sahut Aliya sambil tersenyum.
"Iya, Mama juga dukung kamu kok Ra, selagi kamu nyaman sih ga masalah," ucap Echa yang baru saja membuka bicara.
"Makasih ya Ma, Al, udah ngertiin keputusan aku," jawab Laura sambil berjalan menghampiri tempat Echa dan Aliya duduk, kemudian Laura memeluk Mama dan Adik tersayangnya itu.
"Laura sayang banget sama Mama dan kamu Al," ucap Laura.
"Mama juga sayang sama kalian berdua kok, bagi Mama harta yang paling berharga dihidup Mama cuma kalian berdua," jawab Echa sambil mengelus kepala Laura dan Aliya.
"Iya, Aliya juga sayang banget sama Mama dan Kakak," ucap Aliya.
Oke guys, terimakasih banyak ya yang udah dukung aku sampai sejauh ini tanpa dukungan dari kalian belum tentu novel ini sampai episode ini. Terus berikan dukungan, kritik dan saran kalian ya guys.
Yang punya aplikasi NOVELTOON bantu vote dong novel ini guys, berbagi itu mudah kok.
TERIMAKASIH . . .
__ADS_1
IG : @febiayeni
FB : Febi Ayeni