
Tiara memperlihat kan baju koko terbaik di butik nya pada keponakan nya. Tiara memang sudah mengatahui pernikahan Aisha.
"Kakak suka yang mana?" tanya Aisha pada suami nya yang sedari tadi cuman bermain ponsel.
"Serah," jawab Altar.
"Ini coba kak!" pinta Aisha mengambil satu baju koko berwarna putih dengan motif yang indah.
"Ga suka!" balas Altar datar.
Aisha pun memilih kan yang lain pada suami nya. " Kalau yang ini?" tanya Aisha lagi. Baju koko berwarna hijau telur asing motif nya ga kalah bagus.
"Ga!"
Aisha kembali memilihkan, berusaha tetap sabar. Sekarang emosi nya serasa di uji dengan suami nya sendiri.
Sudah 4 baju koko yang ditunjukkan Aisha pada nya namun tidak ada satupun yang dia sukai.
"Terus kak Altar suka nya yang mana?" geram Aisha mulai lelah.
"Lo," ujar spontan, tanpa sadar.
__ADS_1
"Ha coba ulang apa yang kakak bilang tadi?" tanya Aisha memastikan pendengaran nya tidak salah.
"Maksud gue, terserah lo!" jawab Altar. Namun begitu Aisha tetap saja geer karena Altar, mau salah mau benar dia tetap bahagia.
Aisha pun mengambil baju koko yang menurut nya sudah bagus di mata nya. Toh Altar juga yang menyuruh nya pilih terserah?
"Tante, Ais beli ini iya!" ujar Aisha pada Tiara. Tiara hanya tersenyum dan mengangguk.
"Tolong bungkusin ini iya!" pinta Tiara pada karyawan nya. " Itu aja Aisha?" tanya Tiara pada Aisha.
Aisha hanya mengangguk.
"Yaudah tante tinggal sebentar iya, gapapa?"
"Nah. Bayar pake uang gue, sekalian nafkah dari gue!" ujar Altar menjulurkan satu kartu berwarna hitam pada istri nya. Uang itu hasil usaha nya sendiri iya! Tapi bukan hasil menang balapan, kalian salah besar kalau ngira seperti itu. Altar penyewa rumah kontrakkan, yang papa nya suruh pegang oleh nya dan hasil nya dibagi dua sama sang papa. Walaupun papa nya tidak meminta namun Altar tetap saja membagi nya. Menurut nya bagaimana pun itu juga milik papa nya. Dia ingin berusaha mandiri tidak terus terusan bergantung hidup pada keluarga nya.
Aisha tersenyum. "Apa ga ada uang kes atau ATM aja kak?" tanya Aisha. Menurut nya itu terlalu banyak untuk diri nya.
"Ga ada! Itu kalau mau, untuk bahan makanan setiap hari, uang jajan lo kesekolah, dan lebih nya terserah lo mau apain. Kalau habis lo tinggal bilang ke gue!" jelas Altar.
Aisha pun hanya tersenyum dan mengangguk. Dia tidak akan bertanya dimana uang sebanyak itu suami nya dapat kan? Karena Aisha sudah di beri tau oleh ibu mertua nya.
__ADS_1
"Ini mungkin Ais bisa pake setahun nafkah yang kakak berikan!" ujar Aisha.
"Gue saranin, habisi duit itu selama sebulan," saran Altar.
Aisha menggeleng. " Aisha ga mau boros. Emang Aisha mau apain uang sebanyak itu dalam jangkau sebulan?"
"Gue kira perempuan zaman sekarang pada matre, tau tau nya dia ga boros," batin Altar.
Beberapa saat pesanan mereka pun datang. Setelah membayar Altar dan Aisha berpamitan pada Tiara.
Padahal Tiara memberi nya gratis namun Aisha mememilih membayar nya. Bukan bermaksud menolak rejeki atau bersikap sombong. Tapi dalam hal ini kita juga harus mengerti bahwa mereka juga sebenar nya membutuh kan uang maka nya mereka berdagang. Perdagangan tidak ada unsur masuk kedalam daftar kekeluargaan, kita harus bersikap adil pada sesama pembeli walaupun salah satu pembeli itu adalah keluarga kita.
"Kak Altar ini kan bukan arah menuju rumah mama dan papa?" tanya Aisha, karena Altar tidak menuju kerumah mertua nya malahan berbelok arah.
"Kita ga bakal tinggal disana, gue punya rumah! Kita tinggal berdua," jawab Altar.
"Tapi barang barang Ais?" tanya Aisha. Barang barang nya kan masih di rumah mertua nya?
"Gue udah suruh mang Ujang, antar barang barang lo dan barang barang gue ke rumah kita!" balas Altar.
...----------------...
__ADS_1
...Rumah kita gaess, rumah kita...... Ok ok đź‘€ Beri komentar tentang di bab ini!...