Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Badboy Suamiku •Chapter 76•


__ADS_3

"Gimana sayang, kamu izinin gak, Gea tinggal bareng kita, sementara waktu?" tanya Altar pada istrinya.


"Itu dari kakak aja, Ais ngikut keputusan," jawab Aisha.


"Jadi, boleh dong?" tanya Gea berbinar.


Altar mengangguk.


Aisha menghela nafas dalam, sebenarnya dia tidak ingin Gea tinggal bersama mereka, bagaimanapun Gea cuman sepupu Altar bukan adik kandungnya.


"Kak Altar, apa kita bisa pulang sekarang? Ais mau belajar persiapan ujian minggu depan," ujar Aisha.


Altar menatap istrinya lalu mengangguk. Mereka pun berpamitan pada Marwa.


"Kak Ata boleh gak sama kak Ata? Gak usah sama Atlan," sahut Gea, saat mereka sudah berada di luar rumah.


Altar menoleh ke arah Aisha yang hanya diam. "Boleh," jawab Altar.


Gea pun ikut bersama Aisha dan Altar, satu mobil bersama.


Di dalam mobil hanya ada obrolan dari Altar dan Gea, Aisha memilih diam menatap keluar dari jendela.


Altar melirik ke arah istrinya yang dari tadi hanya diam, Altar berfikir Aisha masih marah padanya.


Lelaki itu mengenggam tangan istrinya, membuat Aisha tersentak, menoleh sekilas ke arah Altar dan kembali menatap keluar jendela.


"Kak Ata, boleh jalan-jalan sebentar aja?" tanya Gea yang duduk di jok belakang.

__ADS_1


"Gak bisa Gea." Kali ini bukan Altar yang menjawab melainkan Aisha.


"Kenapa Sha? Sekali ini aja, gue baru datang ke kota ini gue ingin jalan-jalan," seru Gea.


"Lain ka-" Aisha belum sempat menyelesaikan ucapannya, udah di sela oleh Altar.


"Kali ini aja sayang, kita jalan-jalan bentar ya!" bujuk Altar pada istrinya.


"Tapi kak, Ais mau pulang, kalau kakak ingin mengajak Gea jalan-jalan antar aku pulang dulu!" pinta Aisha.


"Kamu gak pengen ikut?" tanya Altar.


Aisha menggeleng. "Mau di rumah aja, hari ini lagi malas kemana-mana," jawab Aisha.


"Lo, gak suka ada gue ya Sha?" tanya Gea tiba-tiba.


Aisha menatap suaminya tidak percaya atas pertanyaan barusan, apa Altar gak seyakin itu padanya?


Altar yang di tatap istrinya agak lain, langsung aja mengerti. "Ma-ksud aku, bukan gitu," jelas Altar cepat-cepat.


Aisha hanya berdehem kembali menatap keluar jendela.


Sesampainya di depan rumah, Altar yang hendak turun untuk membuka pintu untuk istrinya namun, Aisha membukanya lebih dulu dan berlalu masuk ke dalam rumah, meninggal Altar bersama Gea adek sepupu tersayangnya itu.


Altar menghela nafas.


"Gea, besok aja kita jalan-jalan keliling kota ya? Kali ini sepertinya gak bisa," bujuk sang kakak pada adiknya.

__ADS_1


Gea menggeleng. "Gue maunya sekarang! Lo punya banyak waktu dengannya, sedangkan gue? Cuman sebentar, senin depan kita bakal pisah, kak Ata," keluh Gea di akhir kalimat.


Sekarang Altar sedang merasa bimbang, di antara lain dia harus membujuk istrinya namun tak tega menolak permintaan Gea.


"Yaudah, tapi hari ini cuman sebentar aja ya!" pinta Altar, naik lagi ke atas mobil dan melajukannya pergi.


Aisha yang melihat di jendela hanya menghela nafas. "Aku aja yang akhir-akhir ini suka marah, mungkin dia juga ingin punya banyak waktu dengan sodoranya," gumam Aisha melihat kepergian Altar.


Wanita itu memutuskan membuat kue agar bisa, menghilangkan rasa bosannya.


Hari ini belum ada Indah, masih di kontrakanya karena kedatangan keponakannya, jadi saat ini Aisha cuman sendiri.


Hampir dua jam, akhirnya Aisha mendengar suara mobil memasuki perkiraan rumah. Aisha pastikan, suaminya sudah pulang.


Aisha sudah menyiapkan berbagai makanan di meja. Dia memilih membuang sifat posesifnya tadi, dan mulai membaiki suaminya.


Aisha tersenyum lebar di saat Altar menghampirinya.


"Kak, ayo makan, Ais sudah masakin buat kamu dan Gea," seru Aisha.


Altar tidak kuasa melihat kebahagia istrinya saat ini namun dia sudah makan di luar bersama Gea tadi.


"Maaf sayang, tapi kami sudah makan di luar, nanti kita makan bareng ya? Kamu makan aja, kakak bakal nunggu kamu," ujar Altar, sehingga senyuman wanitanya luntur.


"Ok," jawab Aisha tersenyum kecut, kembali duduk.


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2