Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Takdir Cinta Atlanta~ part 42


__ADS_3

Atlanta mengemour habis sang istri di siang hari. Sehingga Leana lemas dibuatnya, saat ini wanita tersebut masih di atas ranjang sedangkan Atlanta sedang membersihkan dirinya.


"Sayang," panggil Atlanta mencium pipi istrinya. "Sakit banget?" tanya Atlanta.


"Engggak kok," jawab Leana. Dia hanya memikirkan kapan dia hamil lagi? Sudah hampir sebulan dia keguguran dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda.


"Ta," panggil Leana membuat Atlanta yang sedang memilih pakaian berdehem saja.


"Nanti aku masih bisa hamil lagi kan?" tanya Leana membuat Atlanta menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah istrinya.


Atlanta duduk di tepi ranjang. Setiap kali mendengar kata-kata tersebut, seakan dia tak ingin membohongi istrinya bahwa dia sudah tak bisa hamil lagi.


"Sayang, kamu harus yakin iya, Allah masih belum memberikan kita tanggung jawab untuk mempunyai seorang anak, kita tunggu aja, iya. Setifaknya kita sudah berusaha," ucap Atlanta.


Kalau separuh laki-laki lain yang sangat ingin mempunyai anak dan memaksa sang istri untuk hamil, ataupun akan memadu istrinya jika tak bisa hamil, tetapi beda dengan Atlanta dia malah sedih melihat istrinya, saat terus dia bohongi. Menurutnya. anak itu tanggung jawab dari Allah, mungkin mereka masih belum dipercayai untuk diberikan tanggung jawab.


"Tapi kamu tidak akan tinggalkan aku kan? Bunda tidak akan memintamu untuk menikah lagikan? Supaya mendapatkan cucu."

__ADS_1


Atlanta langsung menggelengkan kepalanya. Kenapa pikiran buruk Leana kembali lagi?


"Sayang sudah aku katakan, dengar iya sekali lagi iya. Aku tidak akan pernah menduakanmu kalau memang hanya karena anak. Menurutku mempunyai seorang anak itu juga sangat sulit tanggung jawabnya, dan hanya orang-orang yang tentu yang dapat. Kita belum bisa bertanggung jawab sayang, kita hampir mendapatkannya tapi dia pergi."


"Dia pergi gara-gara kesalahan aku. Andai saja aku mematuhi peraturan darimu. Mungkin kandunganku masih ada, mungkin perut aku mulai bes-"


Atlanta langsung membungkam mulut istrinya menggunakan mulutnya, agar tak melanjutkan kata-katanya lagi yang selalu saja menyalahkan dirinya sendiri.


Leana hanya terdiam tanpa membalas ciuman Atlanta, tapi beda dengan Atlanta walaupun tak mendapatkan balasan dari sang istri masih saja mendalamkan ciumannya bahkan dia menarik tengkuk leher Leana.


"Atlan," panggil Leana mendorong tubuh suaminya dan akhirnya ciuman itu lepas.


"Jangan mengatakan hal yang tak ku suka lagi, Na. Aku enggak suka jika kamu mengatakan hal-hal yang menyangkut menyalahkan dirimu sendiri. Sudah, sampai di sini saja kamu selalu membahas masalah ini."


"Maaf." Leana menundukan pandangannya ke bawah, Atlanta pun langsung memeluk istrinya.


"Aku mencintaimu, Leana. Jangan berpikir aku akan meninggalkanmu, mendapatkanmu sangat sulit, aku mencintaimu sudah sangat lama. Rasa cintaku lebih besar darimu," ucap Atlan.

__ADS_1


Leana mencari kenyamanan dalam pelukan suaminya. Ada yang berbeda jika Arlanta memeluknya seperti ini, dirinya sudah sebatang kara, kedua orangtuanya sudah meninggal. Kini yang dia punya hanyalah Atlanta, sebab itu Leana takut kehilangan laki-laki yang dia cintai.


"Kamu bersihin tubuh kamu, iya. Lengket soalnya," ucap Atlanta melepaksan pelukannya lalu menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi.


"Mau aku mandiin atau kamu mandi sendiri aja?" tanya Atlanta.


"Sana keluar!" perintah Leana membuat Atlan terkekeh dan beralih keluar dari kamar mandi.


Laki-laki tersebut menyiapkan pakaian yang akan Leana akan pakai. Setelah itu barulah dia memilih pakaiannya sendiri.


...༼ つ ◕‿◕ ༽つ(づ。◕‿‿◕。)づ༼ つ ◕‿◕ ༽つ...


Di lain sisi tepatnya di rumah sakit. Mahendra terus mengikut keman pun bunda Karen pergi. Padahal mantan istrinya tersebut selalu saja menghindarinya dan menyuruhnya pulang.


"Mas, apa kamu tidak ada kerjaan? Kenapa terus saja mengikuti ku?" tanya bunda Karen berhenti di koridor rumah sakit.


"Mas ingin mengajakmu keluar Ren. Kamu maukan?" tanya Mahendra.

__ADS_1


"Saya sibuk, pergilah," usir bunda Karen menolak.


"Please kali ini saja. Ada yang mas akan sampaikan kepada kamu hal penting. Tentang Dinda," ucap Mahendra membuat bunda Karen menghentikan langkahnya.


__ADS_2