
Aisha seketika menepuk jidat. Baru ingat dengan perkataan mama mertuanya kalau Altar tuh anti banget dengan apapun yang bersangkutan makanan pedas.
Aisha menoleh kiri kanan. Dan melihat es jeruk yang di pegang Vier dan Kendra. Aisha merebut dua es jeruk itu dari mereka. "Maaf iya, tapi Ais izin ngambil,"izin nya. Mereka berdua pun sudah tidak bisa berkata kata selain mengikhlaskan es jeruk mereka. "Kak nah minum ini cepat," pinta Aisha pada suaminya.
Altar menoleh kearah istrinya. Kedua mata Altar sudah berkaca kaca menahan pedasnya. Padahal bumbu pedas cimol itu tidak terlalu pedas dimulut Aisha.
Altar langsung meminum dua es jeruk itu sampai hangus tak tersisa.
Aisha mendekati suaminya. Ujung kerudungnya dia lap lapkan kewajah Altar agar air matanya terhapus. "Maafin Ais ya kak Altar, Ais lupa kalau kak Altar anti banget pedas," jelas Aisha.
Altar hanya mengangguk. Dia berusaha tidak boleh emosi didepan istrinya, lebih baik iya ingin membenturkan kepalanya sendiri kedinding dari pada harus mengomel pada istrinya.
"Altar lo baik baik aja?" tanya Vier.
"Lo buta? Jelas jelas dia tidak baik baik aja, lihat noh wajahnya merah padam," ujar Evan.
"Woi janda pirang Fir," hebo Kendra. Disaat matanya tertuju pada seseorang, sepertinya gadis cantik dan berpirang, sudah jelas dari body nya.
Vier mengikut arah tuju Kendra. Matanya melotot melihat body yang Kendra bilang janda pirang.
"Itu mah sugar baby berkodok janda pirang ege," balas Vier tanpa berlarih menatap objek lain selain objek tertuju dengan body seseorang itu.
"Embak Fir embak jangan sampai lolos," saran Evan menyemangati sahabatnya.
Altar memutar bola matanya malas. Lalu menarik istrinya pergi meninggal temanya. Dia tidak ingin ikut terseret.
__ADS_1
Vier dengan penampilanya yang sok gagah, menghampiri orang itu.
"Permisi ja- eh babe," ujar Vier menyandarkan badanya di besi yang berjulang tinggi keatas.
"Iya kenapa mas?" ujar orang itu berbaling badan kearah Vier.
1
2
3
Kaki Vier seakan berat untuk berlari, disaat yang dia harapkan tidak sesuai dengan ekspertasi.
"Mas mau kemana? Kita belum kenalan," ujar orang itu dengan centil, sambil mengejar Vier. Definisi semakin kukejar semakin kau jauh.
"Mamak tolongin Vier mak. Anak mu di kejar benc*ng," teriak Vier berlari. Banyak pasang mata melihatnya dan tertawa melihat Vier.
Ketiga temanya malah ketawa terbahak bahak. Melihat Vier terus dikejar oleh benc*ng itu.
Tapi tiba tiba orang itu berhenti didepan mereka bertiga. Mereka pun seketika ikut panik.
Bahkan Evan sempat sempatnya melepskan sendal mahalnya lalu berlari.
"Anjing, ko malah kita jadi sasaran cok?" tanya Cakra dengan kekuatanya, dia terus berlari.
__ADS_1
"Eh kok mas mas ganteng pada lari sih?" sebal orang itu dengan slay dan melow.
"Iiiih gue masih jadi beban keluarga ya Tuhan," teriak Kendra.
"Aaaaa mamak, tolongin Evan mak," teriak Evan dengan hesteris disaat kerah bajunya ditarik.
"Anjing ini guee," ujar Vier naik kepundang Evan.
"Ngapa lo naik anj?" tanya Evan sempat sempatnya bertanya padahal orang yang megejar nya, sudah hampir dekat dengan mereka.
"Lari anjing, lari!" pinta Vier.
Entah kekuatan dari mana Evan serasa tidak mengendong siapapun. Saat ini keselamatan dirinya lebih penting.
Sungguh sahabat forever, baik susah dan senang mereka selalu melaluinya dengan bersama.
Evan merosotkan badanya di bawa pohon besar. Dimana mereka sudah tidak dikejar lagi.
Mereka ngos ngos an, keringat membasahi baju mereka masing masing.
"Anjir, bisa bisanya ketemu demit seseram itu," skak Cakra ngos ngos an.
"Dari sini kita belajar, bahwa kita tidak bisa terlalu berharap lebih dari penampilan belakang," lirih Vier, mengipas dirinya sendiri menggunakan daun daun pohon.
"Eh si Altar mana nyet?" tanya Kendra baru sadar mereka berkurang.
__ADS_1
"Lo gatau aja dia ga setia kawan," julid Evan.
"Jangan ngomongin orang dari belakang," sahut Altar tiba tiba, entah dari mana munculnya.