
Aisha sudah bersekolah di sekolah dimana ada Altar juga disana, seminggu yang lalu.
Bahkan dia juga sudah mempunyai 2 teman, hanya dua karena yang lain tidak ingin berteman dengan nya, kata nya diri nya itu gadis aneh.
"Ais, ayo kekantin," ajak Kiara teman sebangku Aisha.
"Bentar Kia!" balas Aisha memberes kan buku buku nya yang sempat ia pake tadi.
Kiara dan Alma berdecak, dan membantu Aisha merapi buku yang ada di atas meja. Padahal kan buku itu ga usah di beres kan masih di pake juga sebentar pikir mereka berdua.
"Makasih.Kia, Alma," ujar Aisha tersenyum kepada kedua teman nya itu.
Mereka bertiga pun berjalan keluar kelas, berniat kekantin mengisi perut mereka masing masing.
Banyak siswa Ragaskara yang berlomba lomba kekantin juga sama seperti mereka bertiga.
"Cepetan! Keburu habis seblak mbak Gendis," ujar Lama mempercepat langka nya meninggal kedua teman nya.
"Woi Alam goib, jangan buru buru anjir!" teriak Kiara menarik tangan Aisha ikut mempercepat langka nya.
Tiba tiba Alma berhenti tepat di pintu kantin. Membuat Kiara dan Aisha menabrak belakang nya.
"Apasih lo berhenti?" ujar Kiara kesal, sambil memegang kening nya.
"Itu lihat," Alma menggeser badan sedikit agar kedua teman nya bisa melihat apa yang dia maksud.
__ADS_1
Aisha dan Kiara membelalak. Disaat melihat satu siswi sedang dibully bahkan dipukul oleh satu siswa, dan siswa itu adalah Altar pria popular di sma Ragaskara.
Tidak ada yang berani membantu gadis itu. Yang lain hanya merekam saja tanpa belas kasih.
Disaat kedua teman nya mematung, Aisha malah maju membuat kedua teman nya menarik lengan Aisha.
"Lo mau kemana?" tanya Kiara dan Alma secara bersamaan.
"Mau tolongin siswi itu, dia bisa mati kalau kita cuman lihatin mereka membully nya!" jawab Aisha pada kedua teman nya.
"Jangan bahaya," cegah Alma.
Aisha tidak mempedulikan ucapan teman nya. Dia malah maju kearah Altar dan teman teman nya, yang sedang membully satu siswi.
Bug.
Altar melempar satu meja yang ada didepan nya. Kaki yang terbalut sepatu ia injakan di jemari gadis yang menangis dibawah nya.
"Henti kan ini semua, dia bisa mati!!" sahut Aisha mendorong kasar badan Altar, agar menjauh.
Keempat teman Altar melotot melihat ibu ketua mereka. Bahkan Altar pun.
Semua yang ada di ruangan itu menatap keberanian gadis bercadar menganggu apa yang Altar lakukan.
"Mati lah riwayat cewek ninja itu!"
__ADS_1
"Dia ga tau sih kalau yang dia usik sangat bahaya?"
"Mungkin dia belum tau, kan dia anak baru."
Banyak bisik bisik kan dari siswa dan siswi lain di kantin itu terhadap Aisha.
"Lo apa apaan sih ganggu gue sialan?" bentak Altar pada istri nya.
Namun tiba tiba Altar terdiam sebentar. Padahal dia kan sudah berjanji untuk tidak ingin berkata kasar pada istri nya?
"Lo ganggu gue!" ujar Altar dingin.
"Dia bisa mati kak kalau kakak memperlakukan nya seperti tadi, dia seorang perempuan. Kakak main tangan tau pada perempuan!" ketus Aisha membantu siswi yang tadi disiksa oleh Altar. Aisha membantu merapi kan rambut nya. Cardigan yang dia pake ia balut kan di badan siswi itu. Tubuh nya terlihat karena Altar menyiram nya dengan air teh. Dan itu membuat baju sekolah siswi itu trasparan.
Altar berdecak kesal. Ingin melawan tapi itu susah. Entah mengapa dia sangat bimbang kalau berurusan dengan Aisha istri nya.
"Evan bawa gadis sialan ini keuks!" pinta Altar pada teman nya.
Evan hanya mengangguk mematuhi ucapan Altar. Ia berjongkok didepan siswi itu dan Aisha.
"Bu ketua, biar gue bawa dia keuks!" ujar Evan meminta izin pada Aisha.
Aisha hanya mengangguk. Evan pun mengangkat tubuh siswi itu menunju uks.
Mereka yang ada dikantin tersebut, terheran heran. Bisa bisa Altar tidak menyiksa Aisha juga? Malah memberhenti kan aksi pembullyian nya.
__ADS_1