Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Takdir Cinta Atlanta~ Part 57


__ADS_3

Leana tidak langsung pergi. Dia masih menunggu Atlanta membawa Davina ke rumah, entah apa yang akan dia lakukan kepada selingkuhan Atlanta tersebut.


Hatinya mulai sangat sakit, saat Atlanta berpamitan. Sekarang melihat wajah Atlanta membuat hatinya teriris.


"Sayang aku pergi dulu," pamit Atlanta ingin mencium kening Leana. Namun, cepat-cepat wanita itu menghindar darinya.


Atlanta menghela napas panjang, dia pun pergi dari rumah menuju kos Davina untuk menjemput wanita tersebut. Sesampainya di kos Davina, Altanta di sambut dengan pelukan.


Atlanta melepaskannya dengan paksa, dia menatap Davina. Sedangkan Davina mengerutkan keningnya.


"Tumben cepat datangnya, ada apa?" tanya Davina.


"Cepat bersiap," pinta Atlanta membuat Davina tersenyum dan langsung berlari masuk ke dalam kamar untuk bersiap, tanpa tahu alasan Atlanta menyuruhnya.


Beberapa saat kemudian. Bumil tersebut sudah keluar dengan keadaan rapi, Atlanta pun beranjak berdiri daru sofa dan mengajak Davina pergi.


"Kita mau kemana?" tanya Davina.


"Ke Leana, Leana sudah tahu hubungan kita. Dia memanggilmu untuk bertemu, gue cuma ngikutin karena Leana yang memaksaku," jelas Atlanta menyuruh Davina masuk ke dalam mobil.


Davina semakin tersenyum. Dengan hal ini, dia semakin gampang mendapatkan Atlanta dari Leana.


Sesampainya di kediamannya, Atlanta beriringan masuk ke dalam rumah bersama dengan Davina. Sedangkan Leana tersenyum menyambut mereka dengan dua teh hanget dia berikan.


"Akhirnya datang, juga. Silahkan duduk," ucap Leana menunjuk sofa.


Davina pun duduk di sofa sedangkan Atlanta duduk di samping Leana dengan menundukan pandangannya ke bawah.


Altanta takut jika Leana melakukan hal yang buruk kepada Davina.


"Sayang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Atlanta.

__ADS_1


"Enggak ada kok, cuma bersilahturahmi dengan calon madu emang enggak bisa?" tanya Leana. Dia memberikan segelas teh hanget untuk Davina. "Silah di minum," ucap Leana tersenyum tipis, namun di perlihatan Altanta itu senyuman tajam.


"Enggak ah, nanti lo beri racun di minuman itu biar gue keguguran kan? Lo mau balas dendam karena Atlanta berpaling ke gue? Enggak usah balas dendam, emang lo yang sudah enggak ada tarik-tarikan-"


Tanpa di duga. Teh panas itu mendarat ke wajah Davina, Leana yang menyiramnya, sehingga Atlanta langsung berdiri dan mendekati Atlanta.


"LEANA APA YANG KAU LAKUKAN? DIA BISA TERLUKA," bentak Atlanta melap wajah Davina yang udah memerah karena terkena air panas.


"Terluka? Itu belum seberapa dengan lupa yang ku rasakan, kamu aja khawatir dia terluka, gimana dengan aku yang kau luka kan hatinya?" tanya Leana kepada Atlanta membuat suaminya itu langsung terdiam dan merubah raut wajahnya.


"Sakit dan perih di wajahnya bisa hilang dalam jangkau sejam. Sedangkan aku? Apakah sakit dan perih dalam hatiku bisa sembuh dalam jangkau segitu?" tanya Leana lagi.


"Suami yang aku bangga kan. Aku kira aku wanita paling beruntung mendapatkan laki-laki sepertimu, tapi bukan beruntung, tapi sial."


"Sikapmu sangat munafik. Sangat cocok untuk didaftakan menjadi pemeran antagonis," ucap Leana memaki terus Atlanta. Sedangkan Atlanta hanya diam, karena dia tahu dirinya salah.


"Dan kau juga." Leana menunjuk Davina. "Kau wanita kan? Seharusnya kau bisa memahami hati sesama wanita, tapi lihatlah dirimu, kamu tidak mempunyai perasaan sedikit pun."


"Bawa selingkuhan mu ini pergi sekarang, atau aku akan kembali menyiramnya dengan air panas di depanku."


Davina bergerak ingin mengambil segelas teh hanget di depannya dan ingin juga menyiramkannya kepada Leana, tetapi Leana lebih dulu mencengkram tangannya sangat kuat. Sehingga Davina kesakitan.


"Leana stop!" teriak Atlanta saat Davina meringis dan mengeluarkan air mata, karena Leana begitu brutal memutar tangannya.


"Peringati selingkuanmu ini untuk jangan mencoba-coba melakukai istri sahnya, jika tangannya tak ingin patah saat ini juga," peringat Leana melepas dengan kasar tangan Davina dan berpergi menaiki anak tangga untuk menuju kamar.


Atlanta langsung memeluk Davina dan membawa wanita itu untuk pergi dari rumahnya. Leana melihat Atlanta pergi membawa Davina. Semakin membuat hatinya sakit.


"Kamu jahat, Ta," gumam Leana. Dia berbalik badan dan membuka lemari. Leana mengeluarkan pakaiannya di dalam lemari tersebut.


Dan menuliskan surat kepada Altanta.

__ADS_1


"Aku beruntung memiliki mu, mas. Setiap wakut bersamamu akan ku kenang, terima kasih atas semua perhatian yang kamu berikan kepadaku, dan terima kasih juga sudah mencintaiku selama ini. Mungkin cintamu sudah pudar sekarang, tapi tak apa. Lagian aku sudah mendapatkannya. Jaga dirimu, mas. Makan jangan sampai terlewatkan, aku sudah membuar daftar yang kamu harus makan di depan kulkas. Kamu pasti tahu masak, jadi masak lah, karena aku sudah tak ada yang akan memberimu makanan yang kamu suka. Nanti bakal ada Davina yang akan memperhatikan keseharianmu. Jangan lupa jaga kesehatan juga. Terima kasih sekali lagi, aku akan membawa anak ini pergi jauh. Tolong jaga berusaha mencariku."


Setelah menulis pesan tersebut, Leana melipatnya dan menyimpannya di nakas. Dia pun mendoronh kopernya keluar dari kamar, dan pergi dari pintu belakang. Dia sudah memberitahu Dito untuk menjemputnya dan membawanya pergi, sampai Atlanta tidak akan menemukan keberadaannya.


Dito membantu mengangkatkan kopo sang adik masuk ke dalam mobil.


"Lo yakin, Na?" tanya Dito.


"Aky yakin, kak. Tolong bawa aku pergi menjauh dari Altanta, dan memberitahu di mana aku," ucap Leana. "Aku juga bisa merubah identitas ku, agar dia tidak mengatahui ku."


"Baiklah kalau itu maumu, gue bakal turuti. Yang penting lo udah mengambil jalan yang benar, dan juga jaga diri."


Leana menganggukan kepalanya seraya tersenyum. Wajah wanita itu terlihat pucat dan sebam, Dito pun tidak sanggup melihatnya.


"Aku akan membawamu ke kota bandung. Di sana aku mempunyai Vila, lo bisa tinggal di sana."


"Makasih, kak." Dito hanya menganggukan kepalanya, lalu melajukan mobil.


Mobil Dito saling hadapan dengan Atlanta yang akan kembali ke rumah. Untungnya Atlanta menatap lurus ke depan jadi tidak terlalu melihat mobil Dito.


Saat Atlanta masuk ke dalam rumah, laki-laki tersebut berlari menaiki anak tangga untuk menuju kamar. Dia kira Leana ada di kamar tersebut.


"Leana," panggil Atlanta membuka pintu kamar. Namun, tidak ada seseorang di dalam sana. Akhirnya dia mencari sang istri di dalam kamar mandi, tetapi hasilnya sama saja.


Dengan perasaan yang campur aduk, Atlanta membuka lemari dan tidak melihat satu pun pakaian istrinya. Dia menoleh dan melihat kertas di nakas, Atlanta pun langsung mengambil dan membaca isi kertas tersebut, tidak ada satu kata yang di lewatkan.


Setelah membaca kertas tersebut, tubuh Atlanta langsung terduduk di tepi ranjang. Matanya sudah memerah.


"Leana? Tidak mungkin, dia tidak mungkin meninggalkan ku begitu, saja." Atlanta menaroh kertas itu kembali dan berjalan keluar dari kamar untuk mencari istrinya.


"Aku helum menjelaskan ini semua kepadanya, dia tidak bisa pergi dariku. Leana tidak bisa," ucap Atlanta menaiki motornya dan memperhatikan jalan raya, siapa tahu istrinya sedang berjalan kaki.

__ADS_1


"Aku minta maaf, sayang. Mas khilaf maafin mas," ucap Atlanta dengan air mata yang sudah jatuh ke pipinya. Untung saja saat ini dia memakai helm jadi tidak akan ada yang melihatnya menangis.


__ADS_2