
Lima motor sport memasuki perkiraan Sma Ragaskara. banyak pasang mata yang menatap kagum kearah mereka. Apalagi satu orang yang sudah menjadi objek senam jantung mereka.
Siapa lagi Kalau bukan Altar?Sicowok pupoler sma Ragaskara.
"Anjir keren banget gue," timpal Evan turun dari motor.
"Letak keren lo dimana?" tanya Vier melepaskan kacamata hitamnya. "Kerenan juga gue," lanjutnya.
"Alah, muka mirip sumanto aja belagu," celetuk Altar berjalan duluan.
"Altar," panggil seseorang dengan tiba tiba pada Altar, membuat langka Altar berhenti.
"Ilona?" gumam Cakra.
"Altar." Ilona berlari kecil kearah Altar. Iya orang itu adalah Ilona.
"Ngapain?" tanya Altar.
"Anterin gue kekantor kepala sekolah dong," pinta Ilona dengan wajah lugunya kearah Altar.
"Lo gabisa sendiri?" tanya Altar, dan hanya diangguki oleh Ilona.
"Vier, tolongin anterin dia ke kantor kepala sekolah. Sekalian kalau mau, dudukin dia dikepalanya sekolah," pinta Altar. Dia pun melanjutkan jalannya.
"Ayo neng gue antar," ajak Vier.
"Gausah!" ketus Ilona sambil mengejar Altar.
"Dia siapa sih?" tanya Kendra.
"Itu Ilona teman masa kecil gue sama Altar. Kita bertiga selalu kemana mana bertiga, bahkan gue sama Altar sudah menganggapnya Ilona sebagai adek kita sendiri, tapi kelulusan putih biru, dia lanjutkan sekolah di luar negeri. Gatau sekarang dia tiba tiba dia kembali," jelas Cakra.
Mereka bertiga pun hanya mengangguk. Altar dan Cakra memang sudah berteman dari masa masa cebong sampai sekarang. Sedangkan mereka Bertiga, baru beberapa tahun.
__ADS_1
"Altar," panggil Ilona. Ilona terus saja mengikuti Altar, walaupun Altar mengacuhkan nya.
"APA?" bentak Altar.
"Lo marah sama gue?" tanya Ilona.
"Buat apa gue marah sama lo?" tanya Altar balik.
"Karena gue ga ngasih tau kepulangan gue keindonesia," jawab Ilona.
"Ck, gapenting," timpal Altar.
Disaat Altar sudah mendapatkan objek utamanya yaitu istrinya. dia pun menarik tangan istrinya itu, membuat Ilona bingung melihatnya.
"Kak Altar kenapa?" tanya Aisha disaat Altar tiba tiba menarik tangannya.
"Siapa nyuruh lo dekat sama dia," ujar Altar. Yang tadi memang melihat istrinya sedang berjalan dengan siswa lain.
"Dia cuman pengen kenalan sama Ais, masa Ais abaikan? Sombong tau," jawab Aisha.
"Tapi kenapa kak Altar?" tanya Aisha.
"Gue ga suka," jawab Altar membalikan pandanganya kearah lain.
"Kak Altar cemburu?"
"Ga!" jawab Altar singkat.
Aisha menangkup kedua pipi suaminya. Membuat Altar meralih menatapnya kembali. Untung di koridor perpustakan sepi.
"Itu dari mata kakak aja ketentara banget, kalau kakak cemburu!" ujar Aisha menembak.
"Kalau iya kenapa?" Altar memajukan wajahnya kewajah istrinya.
__ADS_1
"Berarti kakak udah cinta dong sama Ais?"
"Belum," balas Altar.
"Tapi itu tandanya ada satu, yang aku baca di artikel. Disaat seseorang sudah mulai cemburu terhadap kita, sudah pasti orang itu mencinta kita," jelas Aisha.
"Gue belum cinta sama lo Sha, tapi gue sayang sama lo. Cinta dan sayang itu beda walaupun perbedaannya cuman tipis."
"Berarti kakak sayang sama Ais?"
Altar tersenyum, lalu mengangguk.
"Ais juga sayang sama kakak," balas Aisha. Membuat Altar terkekeh.
Disaat Altar hendak mencium hidung Aisha. Tiba tiba....
"Altar cewek aneh ini siapa?" sahut Ilona.
Altar mendengus kesal, kenapa disaat dia mendapatkan kesempatan berdua dengan istrinya ada aja yang menjadi penghalang? Entah itu keempat temanya, sopir rumahnya, ataupun mamanya yang menelfon dan sekarang geliran Ilona.
Aisha mendorong tubuh Altar agar sedikit menjauh darinya, disaat dia tau kalau bukan cuman dirinya dan Altar yang ada disana.
"Dia ist-" ucapan Altar menggantung disaat Ilona mendekati Aisha.
Ilona mendorong tubuh Aisha hingga terjungkal kelantai. Itu yang membuat Altar melototkan matanya.
"Ilona apa yang lo lakukan anj?" bentak Altar pada Ilona, membuat gadis itu tersentak kaget.
Altar pun membantu istrinya berdiri. "Lo gapapa?" tanya Altar. Aisha hanya mengangguk menanggapi suaminya.
"Dia salah satu gadis sialan, yang goda lo? penampilnya aneh," ujar Ilona.
"JAGA MULUT LO SIALAN!"
__ADS_1
Disaat Altar ingin melayangkan tamparan kepada Ilona, cepat cepat Aisha memegang tangan suaminya.