
Kini Aisha sudah di izinkan pulang oleh dokter, banyak dokter paskiter yang ingin menyembuhkan ketakutan Aisha namun Altar menolaknya, menurutnya dia bisa sendiri membuat istrinya sembuh.
Aisha tidak ngangguan jiwa hanya saja shock. Maka Altar yakin istrinya akan perlahan-lahan melupakan rasa takutnya di saat dia terus menghibur sang istri.
"Mau ikut kebawah aja dulu?" tanya Altar, membelai rambut Aisha.
Aisha menggeleng. "Tidak kak Altar, Ais mau di sini aja, kakak turun lah kalau ada masalah penting yang kakak mau omongin ke teman-teman kakak," ujar Aisha.
"Iyaudah, kalau butuh sesuatu panggil ya!" pinta Altar.
Aisha mengangguk.
"Aku mau VC an sama Kiara dan Alma," gumam Aisha, membuka ponselnya.
Mereka saat ini sudah berada di rumah kediaman Altar.
**************
"Apa lo udah tau siapa si Ferry?" tanya Altar, namun mendapatkan gelengan dari Kendra.
"Ferry mungkin bukan identitas aslinya? Siapa tau dia memalsukan jadi lo susah nyarinya," timpal Evan.
"Nah, gue juga mikir yang sama!"
"Apa kalian, udah menemukan bapak-bapak itu?" tanya Altar.
"Sudah, lo aja yang introgasi dia, gue udah nyuruh dia ngaku namun dia memilih babak belur, kayanya nih Ferry membayarnya lumayan banyak," jawab Vier.
Altar manggut-manggut. "Besok gue akan ke sana, lo sekapnya di markas kan?" tanya Altar berbisik pada Vier.
Vier mengangguk.
"Bukannya Ilona?" batin Cakra. "Teman gue pada bego ah, tapi biarin mereka nyari tau dulu, orang gue gak di tanyain dari tadi," lanjut Cakra.
__ADS_1
"Eh Cakra, lo diam mulu dah dari tadi!" sahut Kendra, menepuk bahu Cakra.
Cakra yang sedang minum, langsung tersedak karena ulah temannya.
"Bangsad lo," umpat Cakra.
"Udah, lo pada pulang deh!" usir Altar.
"Lo ngusir secara halus?" tanya Kendra, dan hanya di angguki oleh Altar.
Mereka mencibikkan bibir. "Gak tau diri, udah di bantu juga!"
Altar hanya menyulurkan lidahnya ke arah temannya, yang sudah mulai keluar dari rumahnya dengan keadaan kesal.
Altar pun berlari menaiki tangga untuk kembali ke kamar.
"Sayang," panggil Altar, sehingga membuat Aisha panik, gimana tidak? Dia sedang VC an dengan temannya.
Aisha menggeleng. "Udah dulu iya. " Dengan panik dia langsung mematikan sambungan telfon.
Aisha menghela nafas lalu menatap tajam ke arah Altar, Altar pun cuman cengegasan.
"Kalau masuk ngetuk pintu dulu!" ngegas Aisha.
Altar menaiki kasur, dan memeluk istrinya. "Marah? Aku kan gak tau, sayang."
Aisha menoleh ke arah Altar, dan tersenyum. "Gak kak Altar, maafin Ais ya!"
"Kamu udah selesai menstruasinya?" tanya Altar. "Kakak kepo tau, dengan hadiah kakak. "
"Eh, masih ingat?" tanya balik Aisha, dan hanya di angguki oleh Altar.
"Hem, udah tapi ngasih taunya sebentar malam aja ya!"
__ADS_1
Altar menggeleng. "Gak mau, maunya sekarang!" tolak Altar.
Altar hendak mencium Aisha, namun tiba-tiba Aisha menghindar.
"Jangan," jengah Aisha dengan panik. "Menghindar, jangan sentuh, suamiku akan membunuh mu."
"Sayang, ini kakak!" ujar Altar, semakin maju mendekati Aisha.
"Kak Altar, tolong Ais!" teriak Aisha, di saat Altar sudah berhasil membawanya ke pelukan.
"Ini kakak!" ujar Altar membelai rambut Aisha.
"Kak Altar." Aisha mendengok ke atas, dengan keringat membasahi keningnya.
"Tenang." Altar mengusap pundak istrinya, agar tenang.
"Kak Altar, dia ingin melecehkan ku," sahut Aisha, memper erat pelukannya pada Altar.
"Kamu udah aman, Aisha sudah sama kakak gak ada yang bisa menyakiti istri kakak lagi," ucap Altar.
"Ais takut."
Altar melepaskan pelukannya, dan mengambil air di atas nakas. "Minum dulu!" pinta Altar, Aisha pun hanya menurut.
"Kak Altar, jangan pergi," lirih Aisha, mengenggam tangan Altar.
"Kakak tak akan pergi," ujar Altar, tersenyum
Altar menuntut istrinya merebahkan dirinya di ranjang. "Ayo bobo, kakak gak bakal pergi!"
Aisha berusaha menutup matanya, namun kejadian tersebut terus saja datang di saat ia menutup mata.
Aisha menggeleng. "Dia datang kak." Aisha memeluk pinggang Altar dengan sangat erat.
__ADS_1