Badboy Suamiku

Badboy Suamiku
~Takdir Cinta Atlanta~ Part 58


__ADS_3

Bertahun-tahun kemudian. Kini Leana maupun Atlanta sudah berpisah begitu lama. Leana sudah beberapa kali mengirimkan surat ceria kepada Atlanta. Namun, belum ada tanda-tanda dia surat cerai itu di tanda tangani Altanta. Membuat mereka masih sah menjadi suami istri.


"Mama," teriak bocah laki-laki berusia lima tahun, berlari masuk ke dalam rumah dan memanggil nama mamanya.


Orang yang tengah memasak, lansjung berbalik badan dan tersenyum melihat putrinya berlari ke arahnya. Dengan siagap Leana menangkap tubuh kecil itu dalam pelukannya.


"Udah pulang anak, Mama. Gimana hari pertamanya sekolah, sayang?" tanya Leana tersenyum.


"Seru, Alan punya banyak teman mama. Tapi..."


"Tapi kenapa, sayang?"


"Teman-teman Alan bawa mama dan papanya. Tinggal Alan yang pergi sama bibi Ona," jawab Alan lirih membuar Leana menghela napas panjang.


"Maaf, iya. Mama enggak bisa bawa Alan ke sekolah soalnya Mama lagi banyak pesanan. Besok mama antar, iya?" Leana mencium kening anaknya dan mendudukan anak itu di meja makan.


"Tapi Alan enggak punya papa, Mama," lirih Alan menunduk, selama ini dia terus mencari papanya yang kata mamanya sedang kerja biar Alan bisa beli mainan banyak.


Leana menghela napas panjang, menatap sayu puteranya. Gimana dia katakan, jika Leana saja tidak tahu di mana papa anak itu berada, dan tidak sedikit pun Leana ingin mencarinya. Rasa sakit lima tahun lalu yang di tanam papanya Alan membuat hatinya sakit dan sulit untuk di sembuhkan.


Untungnya, sekarang Leana berjasil membesarkan putranya seorang diri menjadi laki-laki tampan yang sangat mirip dengan Atlanta.


"Kan papa lagi kerja."


"Papa kerja sampai kapan, Mama? Nanti kalau papa kembali, tiap hari Alan bisa makan mekdi kan?" tanya Alan memiringkan kepalanya melihat mamanya menunduk.


"Mama nangis?" tanya Alan memegang pipi mamanya. "Alan bicara salah sama mama? Sampai mama nangis?" tanya Alan lagi.


Bocah laki-laki itu menghapus air mata mamanya, dan memeluk tubuh tersebut. Leana pun tidak tahan untuk menahan air matanya untuk tak keluar.


"Mama capek, Alan."


"Ya udah, biar Alan bantu iya buat kuenya?"


Leana tersenyum lalu menganggukan kepalanya. Dia mengambil semua adonan kuenya ke atas meja, Alan pun membantu mamanya mengoleskan minyak ke kue tersebut.


Walaupun usianya masih lima tahun, tetapi dia sudah begitu cerdas dan mengerti suasana. Bahkan, dia akan selalu membantu mama, saat Leana capek anak itu bertanya apakah mamanya pengen di pijat? Alan juga anaknya enggak nakal dan suka merengek meminta sesuatu, dia selalu mengerti keadaan mamanya. Jika mamanya mengatakan tidak boleh, maka Alan juga tidak melakukannya.


Ini alasan pertama Leana masih bisa bertahan sampai sekarang, dia sangat bahagia memiliki Alan.


Ibu dan anak itu saling tos saat kue yang mereka buat telah buat. Leana pun mencuci tangan Alan dan membawanya untuk mandi.


"Mama akan ajak Alan makan mekdi, Alan udah berapa hari enggak makan mekdi?" tanya Leana saat memakaikan putranya pakaian.


Alan pun menghitung menggunakan jarinya. Perlahan dia memperlihatkan jarinya kepada mamanya. Yang membentuk huruf lima.

__ADS_1


"Lima hari?" tanya Leana membuat Alan menganggukan. "Ya udah, sekarang Alan mau makan mekdi enggak?"


"Mau, mau banget mama," jawab Alan berseru sambil menyengir membuat gigi yang belum terlalu banyak itu terlihat.


Leana terkekeh. Hari ini dia mendaparkan orderan banyak sehingga bisa membawanya anaknya makan, makanan mewah seperti mekdi dan lain-lainnya.


"Hore makan mekdi. Mama ajak paman Dito sama bibi Ona?" tanya Alan saat tangannya di gandeng keluar dari rumah.


Setelah mengunci rumah, Leana berjongkok mengsejejerkan dirinya dan Alan. Dia memasangkan sepatu untuk anaknya, lalu menatap putranya.


"Mereka enggak ikut, soalnya mereka sibuk makanya enggak bisa ikut kita."


"Iyah... Jadi Alan pergi sama Mama saja?" tanya Alan.


"Alan enggak suka pergi sam mama saja?" tanya Leana nampak berwajah murung.


Alan buru-buru menggeleng dan memegang kedua tangan mamanya. Dia tak ingin melihat sang mama sedih.


"Alan suka, pergi mana pun kalau sama mama Alan tetap suka."


Leana tersenyum dan berdiri, dia pun mengenggam tangan mungil Alan untuk menunggu taksi pesanannya datang. Saat taksi itu datang, Leana pun mengangkat putranya masuk ke dalam taksi tersebut.


"Alan pakai switer dulu, dingin." Leana memasangkan switer ke tubuh mungil anaknya sedangkan Alan sedari tadi menatap keluar jendela mobil.


"Mama," panggil Alan.


"Tadi Alan punya teman namanya Antala, papanya ganteng banget, mama. Orang tua teman-teman Alan, bahkan mengira Alan anaknya katanya mirip. Kan Alan ganteng, papanya Antala juga ganteng makanya miripkan, Mama?"


Leana terkekeh, karena anaknya itu sangat pede, tapi apa yang dikatakan bocah itu ada benarnya. Sebab wajahnya memang sangat tampan."


"Iya, sayang."


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di perkiraan resotran. Leana membayar taksi tersebut lalu berjalan memasuki restoran mewah tersebut.


"Mama Alan mau makan ayam kfc," seru Alan.


"Makan mekdi enggak jadi?"


"Maksudnya mekdinya, Alan cuma mau ayam kfcnya aja," jelas Alan membuat Leana manggut-manggut.


"Ya udah Alan duduk dulu sini, biar mama pesanin dulu. Alan jangan pergi-pergi, iya!"


"Siap."


Leana meninggalkan Alan sendiri, dan pergi untuk memesan yang diinginkan putranya tersebut. Alan pun hanya menurut, bocah itu hanya diam di tempat duduknya sambil menonton film kartun di dalam ponsel mamanya.

__ADS_1


"Alan," panggil seseorang membuat Alan menaikan pandangannya.


Alan langsung tersenyum melihat teman sekolanya.


"Antala," ucap Alan.


"Alan sama siapa ke sini?" tanya bocah yang usianya seperti Alan.


"Sama mama." Alan menunjuk mamanya yang sedang memesan makanan. "Halo paman, tampan," sapa Alan kepada papanya Antala.


"Halo juga Alan."


"Antala ke sini sama papanya doang?" tanya Alan.


Antala menganggukan kepalanya. "Iya sama papa, doang. Mama Antala kan udah di surga, Alan."


"Kasihan," lirih Alan. "Alan punya mama, tapi Alan enggak punya papa. Kata mama, papa Alan kerja sampai sekarang belum pulang."


"Papa, bisa kita duduk di sini aja bareng Alan?" tanya Antala kepada papanya.


"Enggak, La. Teman papa kan udah nunggu kita, jadi kita enggak bisa duduk di sini."


Antala dan Alan pun melemaskan dirinya.


"Kalau gitu Tala pergi, iya Alan."


"Siap Tala. Dada Tala, paman ganteng." Alan melambaikan tangannya Antala dan papanya pun melambaikan tangannya.


Saat kepergian Antala dan papanya, Leana sudah kembali dengan membawa pesanan dirinya dan sang putra.


"Tadi itu siapa?" tanya Leana memberikan ayam kfc yang di pesan anaknya serta susu.


"Antala mama. Orang yang Alan bilang, papanya ganteng kaya Alan, padahal tadi Antala mau duduk di sini, tapi papanya ada urusan jadinya enggak jadi."


"Ya udah Alan makan dulu, ingat kalau orang makan harus apa?"


"Harus do'a dan tidak boleh banyak bicara, Mama," jawab Alan membuat Leana terkekeh dan mengangguk.


Leana memperhatikan putranya makan dengan lahap. Padahal dirinya sudah menawarkan diri untuk menyuapi anak itu. Namun, Alan menolak dan memilih untuk makan sendiri.


"Mama Alan enggak suka kulitnya," ucap Alan memberikan kulit ayam kepada mamanya.


"Bahkan dalam makanan saja Alan dan Atlanta sama. Mereka sama-sama tidak suka dengan kulit ayam," batin Leana dan mengambil kulit ayam itu.


"Mama kenapa enggak makan?" tanya Alan.

__ADS_1


"Lihat kamu makan aja udah buat mama kenyang, sayang.".


__ADS_2