
Mereka semua menatap masuk ke dalam rumah. Dito dan Davin terkejut begitupun dengan orang yang memanghil mommy. Yang tak lain adalah Mahesa.
"Ka-lian," ucap Mahesa.
"Owh temannya Mahesa?" tanya wanita yang merupakan mommynya Mahesa.
"Iya tante, kami temannya Mahesa," ucap Dito.
"Ya sudah ayo masuk," ajak wanita yang berparas cantik, padahal umurnya sudah berkepala empat sudah hampir berkepala lima.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah, Mahesa was-was jangan sampai Atlanta ikut dengan mereka berdua.
"Kalian ngapai ke sini?" tanya Mahesa.
"Buat nyari lo, lah. Ngapain lagi? Sekalian mau lamar nyokap lo."
Mahesa memutar bola matnaya malas. "Ya gue tahu, tapi tujuan ke sini mau ngapain?"
__ADS_1
"Iya nyari lo, anj*ng, nanya mulu lo," ucap Davin emosi. "Tapi tujuan utama gue datang ke jepang bukan buat lo, tapi lagi cari sutradaranya anime, mau ketemu sama cewek gue sekalian mau nyari portal ketemu sama Hinata sama Zero," jelas Davin.
Davin memang dikenal anime lovers, karena hobinya yang suka sekali menonton berbagai anime tontonan asli dari jepang tersebut . Bahkan, dia mempunyai komik buatan tersendiri. Kata orang kerjaannya cuma jadi anak brandalan, tetapi dia begitu berpengesilan, sebab komiknya yang sangat populer. Sering kali pun Davin akan di ejek oleh temannya dengan memanggilnya dengan sebutan wibu.
"Mahesa, lo benaran mau menghindar dari Atlanta?" tanya Dito. "Semakin lo menghindar darinya, semakin dia akan marah dan semakin membenci lo."
"Lo takut dia?" tanya Davin.
"Takut? Gue enggak pernah takut dengannya," jawab Mahesa. Di bandingkan dengan Atlanta, tentu saja dia yang akan menang. Ingat dia ketua geng motor daru Eroz geng motor unggalan. Jika bukan dirinya yang menjadi ketua geng motor, geng tersebut tidak akan seperti ini.
"Terus kenapa lo harus pergi? Lo tahukan Eroz butuh lo, Sa. Geng kita berantakan karena lo juga. Seharusnya lo perbaiki kesalahan lo dulu baru lo pergi," jelas Dito. "Karena kebodohan lo yang lo perbuat semuanya jadi berantakan kaya gini, berbicaralah dengan Atlanta selesaikan permasalahan ini."
Dito dan Davin saling memandang lalu menganggukan kepalanya.
"Kami datang bersamanya, bahkan dia yang mengajak kita berdua untiuk bertemu lo. Dia masih ingin memperbaiki ini semua dengan kepala dingin."
"Di mana dia sekarang?" tanya Mahesa lagi.
__ADS_1
"Gue di sini," jawab Atlanta membuat Mahesa menoleh dan sedikit terkejut.
Mahesa langsung berdiri lalu memganbil ancang-ancang takut Atlanta akan menyerang tanpa dia tahu.
"Apa kabar?" tanya Atlanta. "Pasti baik dong, soalnya sudah gue menderita dengan kehilangan anak gue yang di kandung, Leana. Apakah kita bisa bicara bro?" tanya Atlanta.
"Tidak baik jika kita berbicara di rumah, gimana jika kita berdua bicarakan ink di luar saja?" tanya Atlanta membuat Mahesa hanya menurut saja kemana sahabatnya itu pergi.
Sesampainya di taman, Atlanta menatap nanar Mahesa. Sekali tinjuan mendarat di wajah Mahesa. Dan Mahesa hanya diam tanpa membalas.
"Gue mau benci sama lo, Mahesa, tapi tanpa lo gue enggak bakal bertemu dengan Leana jadi gue enggak bisa benci sama lo. Gue udah anggap lo sebagai sodara gue."
"Lo tahukan kesalahn lo apa?" tanya Atlanta. "Lo ingin merebut istri gue, Sa. Lo membunuh anak yang dikandung Leana, lo enggak tahu gimana menderitanya istri gue," teriak Atlanta menangis sambil berlutut di depan Mahesa. Dan siapa pun yang melihatnya tak akan percaya jika seorang Atlanta yang melakukan itu.
"Lo mau tahu hal yang buat gue semakin terpukul, Sa? Leana kemungkinan sudah tak bisa hamil lagi, dan itu semua gara-gara lo. Apakah lo bisa mengambilkannya seperti semula?" tanya Atlanta. "Gue ingin kebahagiaanku kembali lagi."
"Maaf." Hanya kata maaf yang keluar dari bibir Mahesa.
__ADS_1
"Gue enggak tahu jika lo mencintai Leana, andai saja gue tahu gue bakal ngasih dia sebelum gue benar-benar cinta dan memiliki dia, tapi lo malah bikin hal busuk dengan mengambil Leana di saat dia sudah jadi milik gue seutuhnya, di saat dia sudah jadi istri gue. Kenapa lo tidak mengambilnya saat gue benci sama dia? Dengan begitu, gue sekalian tidak akan memilikinya. Sa, lo sahabat gue. Padahal gue berharap lo bisa berpikir dewasa."